“Summer Professional Training Program on Peace Building and Conflict Reconciliation” di Amerika (May 29-June 22, 2009)
By: Ridwan al-Makassary
By attending the Summer Scholl hosted by Peace Building and Development Institute (PDI) American University, Washington DC, as well as fully funded by Academy for Educational Development (AED) and the United States Agency for International Development (USAID), I had learned not only theoretical framework on contemporary issues of peace building, but also practical experience and skills needed to explore various path to peace. In addition to that, I had built network with my classmates in the program. To me, this was a wonderful journey and I’m proud to be part of PDI alumnae.
Perjalanan saya ke Amerika Serikat, sebagai peneliti CSRC UIN Jakarta Indonesia, terasa istimewa dan membekaskan kenangan indah yang abadi. Cerita ini sejatinya bermula saat saya membaca sebuah iklan informasi di harian Kompas (kalau tidak salah Maret tahun 2008) tentang undangan untuk berpartisipasi dalam training peace building yang akan digelar di Amerika Serikat.
Karena minat intelektual saya yang cukup kuat akan kajian-kajian perdamaian (peace studies), terutama resolusi konflik, maka saya memantapkan hati untuk mendaftar. Saya telah menggeluti kajian perdamaian sejak awal 2003, bersama para senior saya di CSRC seperti Mr Chaider S. Bamualim, Mr Irfan Abubakar, dll, seiring dengan upaya-upaya perdamaian yang intensif dilaksanakan di CSRC dalam rangka menyahuti konflik komunal yang merundung tanah air, terutama di Ambon dan Sambas/Sampit serta Poso. Berbekal rekomendasi dari Acting Director CSRC, Rosdiana Mustafa, dan dua rekomendasi lagi, saya akhirnya mengirimkan berkas-berkas aplikasi saya ke AED.
Langit cerah sepertinya menaungi saya, ketika saya menerima email dari Direktur AED Indonesia, Kay Ikranegara, yang menyatakan bahwa saya terpilih untuk mengikuti training di American University, Washington DC. Selain saya ada kolega lain dari Indonesia, yaitu Muhammad Putra Iqbal, seorang pegiat damai di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, dan juga Ilyas Lampe, aktivis perdamaian dari Universitas Tadulako Palu.
Proses selanjutnya adalah penyiapan berkas-berkas saya untuk pengurusan visa J1 Amerika Serikat yang dibantu dengan sangat baik oleh Sri Purwanti, staf AED Indonesia. Alhamdulillah, visa saya akhirnya keluar juga dua hari sebelum berangkat. Saya tak lupa membereskan segala hal yang dibutuhkan berdasarkan tips perjalanan dari orientasi AED. Saya benar-benar siap untuk terbang.
Bersama Iqbal dan Ilyas, saya menumpang pada maskapai Qatar Airways. Saya merasakan kemewahan berada di burung besi tersebut, ditimpali keramah tamahan para pramugarinya yang jelita dan berasal dari berbagai negara. Kami transit untuk mengganti pesawat di Singapura, dengan sedikit rehat di Lounge, bandara Changi. Selanjutnya, dengan pesawat North West, yang kokoh dan gagah, kami terbang di sisa-sisa fajar pagi, menuju Narita Tokyo. Setelah itu, saya terpaku sekitar 12 atau 13 jam di kursi pesawat dari Narita, Tokyo, ke bandara Minneapolis dan berakhir dengan penerbangan domestik ke Washington DC.
Setelah mengambil barang di bagasi airport Washington Reagan, kami telah dijemput staf AED Amerika Serikat yang sigap mengantar kamI ke Nebraska Hall, American University, tempat kami akan tinggal selama training.
Oleh AED saya didaftarkan mengikuti empat kelas selama tiga minggu. Keempat kelas tersebut adalah: (1) Religion and Culture in Conflict Resolution yang digawangi oleh Dr Mohammed Abu Nimer; (2) Youth participation in Peace building yang dipandu oleh Mark Hamilton adalah kelas akhir pecan (Sabtu dan Minggu); (3) Inclusive Security: Expanding participation of Women in Peace Process, yang diawaki oleh Miki Jacevic; (4) Program Design: Planning Projects to Evaluate Impact oleh Michael Gibbons. Praktis saya tidak memiliki banyak waktu untuk santai, karena kelas dimulai dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Meskipun demikian, panitia telah menyiapkan acara social events tertentu bagi peserta, yang sifatnya pilihan yang menumbuhkan persahabatan (akan saya jelaskan di bawah).
Menurut Saji Prelis, Associate Director PDI, yang telah menukangi kegiatan training ini selama 9 tahun, setiap kelas diikuti oleh jumlah peserta yang bervariasi. Umumnya sekitar 25 hingga 30 orang perkelas. Para pesertanya dapat dibagi dua kategori besar yaitu: praktisi dan akademisi. Umumnya peserta kali ini berasal dari Negara Afrika, seperti Nigeria, Kenya, Kongo; Asia, seperti Afganistan, Srilangka, Nepal, Indonesia; Eropa, seperti Italia, Hungaria; Timur Tengah, Amerika Latin dan Amerika Serikat sendiri. Sejauh ini peserta Indonesia yang telah mengikuti training ini jumlahnya kurang dari 10 orang.
Setiap hari Senin diadakan registrasi dan acara orientasi oleh staf PDI. Acara dimulai dengan perkenalan setiap peserta dan orientasi training yang akan diikuti, dengan pemaparan tentang PDI dan overview tentang konten training yang diberikan oleh instruktur. Setelah itu, acara training pun siap dilangsungkan. Kekuatan training PDI ini, menurut saya, adalah instrukturnya yang professional dan ahli di bidangnya, dan juga pendekatan partisipatoris dengan keragaman metode serta bahan-bahan training yang up to date yang membuat saya dan peserta lain sungguh menikmati situasi training. Penggunaan metode terdiri dari studi kasus, game, role play, diskusi kecil, diskusi pleno, nonton film dan diskusi, dst. Singkatnya, metode-metode partisipatoris yang juga telah lumrah dilaksanakan oleh berbagai NGO di Indonesia.
Salah satu bagian yang sangat saya senangi dalam kelas training ini adalah diskusi kelompok dan segala dinamikanya (sharing, debat dan refleksi) yang bertugas untuk membuat presentasi kelompok dan dipresentasikan di kelas besar. Secara keseluruhan acara berjalan santai, cair dan diselingi dengan games, icebreaking /energizer baik dari instruktur atau peserta.
Setiap hari Jum’at sore adalah acara pembagian piagam dan refleksi peserta yang diakhiri dengan acara seni, yang bisa berbentuk lagu dan tarian. Benar-benar cair dan menunjukkan kehangatan persaudaraan. Peserta dari Afrika benar-benar piawai dalam pentas seni ini. Mereka pandai bernyanyi dan berdansa. Peserta lain lebih sebagai penggembira dan penikmat.
Di luar kelas ada social events yang diselenggarakan oleh staf PDI. Tahun ini kami mendapat dua undangan makan malam di Kedutaan Besar United Arab Emirates dan Kedutaan Besar Kerajaan Arab Saudi. Selain acara perkenalan tentang kondisi kedua Negara tersebut, makan malam adalah acara yang menarik minat kebanyakan peserta. Selain acara di atas, panitia juga menggelar kunjungan ke organisasi perdamaian, museum, dinner bersama, pesta, dll. Bahkan, secara khusus, kami bertiga dari Indonesia, dan Aliiah Al-Wazir, staf AED, sempat diundang bertemu dengan Bapak Dubes Indonesia di Washington DC dan merasakan keramahtamahannya yang luar biasa.
Secara keseluruhan, saya menikmati benar acara training di Amerika Serikat. Bagi saya training tidak sekedar menyediakan kerangka teoritik di bidang perdamaian, melainkan juga membangkitkan kesadaran bahwa tersedia multivariasi jalan untuk menciptakan perdamaian yang abadi. Berbagai tools dan skills untuk membangun perdamaian, serta best practices dari berbagai Negara yang sukses dari amukan konflik merupakan pengetahuan dan pengalaman yang disediakan dalam summer professional training program. Dengan menghadiri farewell party di rumah seorang Staf PDI, maka berakhirlah rangkaian training yang saya ikuti. Keesokan harinya kami balik ke Indonesia membawa pengetahuan, pengalaman dan network yang lebih kaya dan lebih berwarna. Semoga perjalanan ini berbuah manfaat bagi rintisan perdamaian yang kekal di tanah air.[]