Home / Tentang Kami / Buku Tamu / Kontak Kami / Login
09/10/2009 15:19:41

Ricklefs: Dinamika Islam Modern di Solo dan Kediri (Discussing the Dynamics of Contemporary Islam in Solo and Kediri)

On 8 October 2009 Professor MC Ricklefs addressed a CSRC monthly discussion group at UIN Jakarta. He told the group,“Solo appears to be a traditionally radical centre, the only one remaining in Java. Solo is a place where the dialectic between Christianisation and radical Islam is alive and well.”

Masuknya Islam di bumi Nusantara mengawali rentangan waktu yang disebut sebagai Indonesia Modern. Prof Merle  C. Riklefs mengajukan tiga unsur fundamental yang telah mempersatukan periode tersebut sebagai ”sebuah unit sejarah yang padu”. Yang pertama adalah unsur kebudayaan dan agama: Islamisasi Indonesia yang dimulai tahun 1200 dan berlanjut sampai hari ini. Yang kedua, unsur topik; saling pengaruh antara orang Indonesia dan orang Barat yang dimulai tahun 1500 dan terus berlanjut. Yang ketiga adalah historiografi: sumber-sumber primer sepanjang periode ini ditulis hampir secara ekslusif dalam bahasa Indonesia.


Dalam Diskusi Bulanan CSRC UIN Jakarta Kamis, 8 Oktober 2009, 14.00 – 17.00, Prof. Merle C. Ricklefs, Ph.D, Profesor Sejarah Departement of History, National University of Singapore, memberikan ulasan sebagian hasil penelitian terbarunya dalam diskusi bertema “Dinamika Islam modern di Solo dan Kediri”


Diskusi yang dimoderatori oleh Ridwan al-Makassary, peneliti CSRC UIN Jakarta, menyampaikan dalam pendahuluan diskusi bahwa ada beberaa hal yang menarik di Solo. Terjadinya penguatan dan kontestasi umat Islam di Solo, menimbulkan beberapa varian Islam; misalnya, Islam kejawen, Islam politik, Islam garis keras, dan sebagainya. Beberapa tahun terakhir, terjadi radikalisasi yang kuat pasca tumbangnya Orde Baru. Sehingga muncul militeris Islam, Laskar-laskar di Solo, dan lainnya. Bahkan, terakhir, Gembong teroris juga digrebek dan meninggal di Solo. Infiltrasi ideologi di Solo, dengan menguatnya ide-ide khilafah Islamiyah, penolakan konsep demokrasi. Bahkan diduga telah masuk ke dalam masjid.


Prof Ricklefs melakukan penelitian terbarunya di Indonesia khususnya di beberapa kota, yaitu Solo, Kediri, Jawa Barat, Jakarta, Aceh, yang hasilnya akan dijadikan beberapa buku. Dipilihnya tempat tersebut sebagai studi kasus, yaitu tempat yang mempunyai latar belakang sejarah panjang, dan tempatnya menarik.


Solo dan Kediri dipilih, karena banyak catatan sejarah tentang dua kota ini. Bahkan di Kediri, sudah pernah ada hasil riset misionaris yang berdomisili di sana sejak abad 18. Laporannya selama 30 tahun tinggal di Kediri sangat bermanfaat bagi kajian sejarah.


Kota Solo dan Kediri menarik diteliti karena di sana ada pusat industri rokok di Kediri, dan tekstil dan plastik di Solo.  Keduanya adalah pusat politik yang radikal. Basis kuat adanya PKI. Konflik santri dan abangan menguat di sana. Ada pembunuhan massal yang hebat. Ada kerusuhan dan konflik akan cina dan jawa. Namun sejak 70-an semuanya berubah. Kediri sudah mulai damai, tidak ada peristiwa konflik dan kekerasan yang berarti. Sedangkan Solo semakin radikal, dalam perspektif Ricklefs.


Hipotesa Ricklefs adalah adanya 3 macam otoritas di Solo; tradisional, modern, bisnis, yang menjadi alat ukur dalam penelitiannya. Pertama, Tradisional, bahwa Mangkunegaraan dan kraton, tidak dihargai oleh masyarakat. Kraton terpecah menjadi dua, sehingga tidak dihormati orang. Otoritasnya tidak berpengaruh. Kedua, Modern; Parpol, DPRD, Walikota dianggap sebagai orang yang korup dan tidak dianggap oleh masyarakat. Ketiga, bisnis; Di kalangan bisnis, masyarakat pekerja merupakan urban yang berdatangan ke kota Solo hampir 500 ribu penduduk asli. Sedangkan 1,5 juta penduduk yang bekerja di perusahaan di Solo.


Sedangkan di Kediri, Ricklefs melihat bahwa otoritas Tradisional: kiai NU masih dihormati masyarakat juga Muhammadiyah. Otoritas modern; walikota disukai masyarakat. Sedangkan otoritas bisnis: perusahaan rokok Gudang Garam banyak bermanfaat bagi masyarakat, dengan kepedulian sosial tinggi dengan mendirikan asrama dan  pendidikan buat pekerja.  Terlihat ada kekompakan dari 3 otoritas tersebut.


Menurut Ricklefs, Solo merupakan pusat tradisi radikal, satu-satunya yang ada di Jawa. Di Solo kami melihat ada dialektika antara kristenisasi dan radikalisasi Islam. Tahun 1971 ada sensus, jumlah penduduk Solo yang beragama kristen 15%. Keanekaragaman Solo terlihat juga dengan adanya 40 ribu masyarakat yang beragama lain, kejawen dll.


Tanya jawab dalam diskusi yang diharidir sekitar 25 orang dari para dosen dan mahasiswa UIN jakarta ini tak bisa terelakkan. Sungaidi, dosen sejarah UIN Jakarta, juga menulis tesis tentang Kesunanan Solo, melihat bahwa beberapa peristiwa terjadi di sana, Anti Arab di Solo pernah terjadi. Kerusuhan meledak karena Megawati tidak terpilih, tahun 2004. Di Solo adalah basis marhaen juga PKI. Di solo ada pabrik rokok kerbau. Bisnis batik ada di Solo, Islam yang damai di Solo juga ada, NU dan Muhammadiyah.  Menurutnya, Radikalisme di Solo selalu digerakkan oleh orang luar.
Irfan Abubakar, peneliti dari CSRC melihat kurangnya otoritas tradisional NU di Solo, perannya dalam deradikalisasi atau menjadi jembatan sebagai Islam yang damai perlu ditingkatkan. Masih ada kaitan antropologis tentang stereotip masyarakat Solo yang mudah disulut dan juga mudah padam. Ini yang membuat radikalisme mudah tumbuh di sana.


Selanjutnya, menurut Zaki Mubarok, dosen fisip UIN Jakarta, Ada aktor dari luar yang bermain di solo. Dia melihat, otoritas Kraton selalu bersaing dengan kelompok masyarakat miskin, misalnya kasus kerusuhan antara petani tebu. Ternyata mereka adalah petani yang dipaksa menanam tebu di lahannya. Dalam studinya yang pernah dilakukan di Solo, dia melihat ada sejarah PKI muslim yang sangat kental di sana. Banyak kiai kampung yang beraliran sosialis yang akhirnya diasingkan ke Digul, sama halnya dengan yang terjadi di Pandeglang Banten, ada 25 haji yang terlibat Sarekat Islam komunis yang dibuang ke Digul juga.


Rizal Haq, peneliti dari Solo, melihat adanya perusahaan nasional yang mencoba memonopoli dan datang ke solo merupakan salah satu faktor perubahan sosial di Solo. Munculnya saling delegitimasi antar otoritas di solo, menimbulkan api kekerasan yang menimbulkan perpecahan antara umat. Misalnya, dia mencontohkan, Muhammadiyah dan MUI saja, terjadi saling klaim, sehingga terpolarisasi. Munculnya pesantren salaf di pinggiran kota, dia melihat, juga mungkin akan menjadi ledakan di masa mendatang.


Amelia Fauzia, direktur CSRC, melihat perlunya riset terhadap masjid di sana. Rencananya CSRC juga akan melakukan riset di Solo yang akan melihat apakah masjid memproduksi wacana, atau hanya menyebarkan wacana dari kelompok tertentu. 


Jamila, seorang mahasiswa, mempertanyakan bagaimana Islam yang murni menurut Ricklefs yang dijawab bahwa sejak 1400 tahun lalu, sampai saat ini, juga banyak klaim terhadap ajaran Islam, sehingga muncul kelompok-kelompok dalam Islam. Sama juga dengan agama lain.
Diskusi ini berakhir pukul 17.00 wib.

Laporan; Abdullah Sajad