Has no content to show!

Deklarasi "Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Perdamaian Di Maluku

14 May 2015

MEMBUMIKAN "PENDIDIKAN PERDAMAIAN" DI MALUKU

Dengan berucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kami perwakilan dari tokoh agama, tokoh masyarakat, Kementerian Agama Wilayah Maluku, akademisi, yayasan pendidikan, kepala sekolah, tokoh agama, guru, dan pemerhati pendidikan telah berpartisipasi aktif dalam Workshop Advokasi Pendidikan Perdamaian di Ambon yang dilaksanakan di Swiss-Belhotel yang berlangsung dari tanggal 22 sampai dengan 23 Agustus 2014.

Dalam workshop ini kami merefleksikan “Maluku Damai” dengan mendalami konsep dan indikator-indikatornya. Kami sadar sampai kini ada 128 titik rawan konflik yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Maluku sebagaimana dirilis oleh Polisi Daerah (Polda) Maluku. Titik terbanyaknya bahkan berada di Kota Ambon. Kondisi ini makin rawan dan memprihatinkan menilik derasnya pengaruh radikalisme keagamaan  global yang terus menusuk Maluku. Khususnya fenomena ISIS yang saat ini mengincar segmen generasi muda. Oleh karena itu, ruang gerak mereka harus dipersempit.

Pemikiran ini sejalan dengan amanat yang sering disampaikan oleh Gubernur Maluku agar Maluku tidak lagi menjadi “Laboratorium Konflik” tetapi harus bertransformasi menuju “Laboratorium Perdamaian”. Lebih jauh lagi cita-cita ini didukung dengan Instruksi Presiden No. 2 Tahun 2013 tentang Penanganan Gangguan Keamanan yang menegaskan peran para gubernur, bupati, dan walikota sebagai ketua tim terpadu di tingkat daerah untuk menyusun rencana aksi terpadu nasional dalam rangka penanganan gangguan keamanan di daerah sebagai akibat konflik sosial. Maka,

1. Kami telah menemukan kesepahaman perlunya pembumian pendidikan yang berperspektif perdamaian di sekolah-sekolah. Kami sadar damai yang abadi harus dimulai dengan menanamkan benih-benih perdamaian dalam jiwa  anak-anak kita.
2. Kami menegaskan bahwa pendidikan perdamaian dapat dengan efektif dibumikan melalui integrasi nilai-nilai perdamaian ke dalam konten dan proses pembelajaran serta penciptaan budaya sekolah yang pro-perdamaian.
3. Kami telah menemukan kesepahaman perlunya pembumian pendidikan yang berperspektif perdamaian di sekolah-sekolah. Kami sadar damai yang abadi harus dimulai dengan menanamkan benih-benih perdamaian dalam jiwa  anak-anak kita.
4. Kami bertekad untuk memperjuangkan implementasi pendidikan perdamaian di Maluku dengan mendorong DPRD dan Pemerintah Daerah Maluku mengeluarkan payung hukum Peraturan Daerah (Perda) agar pendidikan perdamaian di sekolah dapat terlaksana secara terstruktur dan sistematis.
5. Kami akan menyambut baik inisiatif pemerintah daerah dalam mendukung proses-proses menuju Maluku Damai yang abadi dalam spirit “Hidop Orang Basudara”. 

 

Dideklarasikan di  Ambon, 23 Agustus 2014

Penandatangan:

  1. Abidin Wakano (ARMC IAIN Ambon)
  2. Asrul A. Tuasikal (Badan Imarah Masjid Maluku)
  3. Embong Salampessy (Suara Maluku)
  4. Hasyim Umasugi (SMKN Siwalima)
  5. Heny L. Likliwatil (SMPN 9 Ambon)
  6. Hijerin Aliah (Kanwil Kementerian Agama Provinsi Maluku)
  7. Idris Hemay (Direktur Indeks Indonesia)
  8. Irfan Abubakar (CSRC UIN Jakarta)
  9. Ismail Fatah (Kepala Sekolah SMKN 7 Leihitu)
  10. Jacky Manuputi (Kepala Litbang GPM Maluku)
  11. Jafar Sia (SMPN 2 Leihitu)
  12. Kiki Zakia Samal (LAIM Ambon)
  13. Lissa Kuhumarua (Wartawan)
  14. M. Pelupessy (Institut TIFA DAMAI)
  15. Muchtadlirin (CSRC UIN Jakarta)
  16. Muhammad Safin Soulisa (MUI Provinsi Maluku)
  17. Muhammad Yusuf (SMPN 4 Salahutu)
  18. Nurlaila Sopamena (Fakultas Tarbiyah IAIN Ambon)
  19. Rita Pranawati (Komisioner KPAI)
  20. Salma Hatuwe (Yayasan Pendidikan Al-Fatah)
  21. Theo Latumahina (YKPP Dr. J.B. Sitanala)
  22. Yanti Samangun (Rakyat Maluku)
  23. Yusuf Tupamahu (SMAN 3 Kairatu)
  24. Zaenal Arifin (ARMC IAIN Ambon)
We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree