Has no content to show!

CSRC Launching Program Pesantren untuk Perdamaian

29 July 2015

Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta dan Konrad Adenaeur Stiftung dengan dukungan dari Uni Eropa me-launching “Pesantren for Peace (PFP): a Project Supporting the Role of Indonesian Islamic Schools to Promote Human Rights and Peaceful Conflict Resulotion” di Hotel Ambhara, Selasa (30/6/2015). Program ini adalah upaya untuk turut mendorong dan mendukung peran pesantren dalam mempromosikan Hak Asasi Manusia (HAM) dan penyelesaian konflik secara damai.

Dalam sambutan pembukaan acara, rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Dede Rosyada memberikan apresiasi tehadap kegiatan ini, ia bercerita bagaimana proses awal masuknya Islam ke Nusantara. Bagaimana proses pendidikan Islam bermula dari pesantren. Dulu pesantren menjadi tonggak awal pendidikan Islam di Indonesia, namun sekarang justru pesantren selalu di curigai sebagai sarang teroris, sebagai muara gerakan radikalisme, anggapan Ini sangat disayangkan. Saya berharap dengan program ini CSRC bisa menjadi fasilitator bagi para guru-guru dipesantren untuk membuktikan kepada masyarakat luas bahwa pesantren merupakan muara dari perdamaian, toleransi dan penghormatan HAM. Ujarnya. Ia menambahkan “tidak fair apabila pesantren dianggap radikal, pesantren itu sangat toleran dan peduli dengan agama-agama lainnya”.

Hadir dalam acara tersebut direktur KAS Indonesia dan Timor Leste Dr Jan Woischnik. Ia memaparkan tentang KAS, dari sejarah berdirinya hingga hubngan bilateral dengan Negara-negara lainnya. Ia menyampaikan kerjasama dengan CSRC UIN Jakarta telah dimulai dari tahun 2002. Adapun kegiatannya berupa seminar, workshop, pelatihan, penelitian dan pembuatan buku. Dalam peluncuran program PFP ia berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat dan khususnya kepada Europian Union.

Direktur CSRC, Irfan Abubakar memaparkan latar belakang hingga tujuan-tujuan dari program PFP ini. Pesantren sebagai soko guru pendidikan Islam di Indonesia sekaligus sebagai manifestasi utamanya sangat toleran dan tidak ada unsur-unsur paksaan di dalamnya. Keadaan umat Islam di Indonesia yang berfikir moderat tentunya tidak akan membuat bangsa Indonesia seperti Negara-negara Islam lainnya di Timur tengah yang selalu didera konflik.

Maraknya stigma negatif di dalam masyarakat tentang pesantren menjadi salah satu alasan program ini diadakan, kita ingin mengatakan pesantren bukanlah sarang teroris, bukan sumber konflik komunal keagamaan, bukan muara dari gerakan radikalisme. Justru pesantrenlah sumber dari perdamaian, toleransi dan penghormatan kepada kaum minoritas.

Ia menambahkan, program ini kami mulai dengan need assessment di 5 Provinsi, yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur. Berdasarkan hasil need Assessment inilah kami merancang program yang melibatkan banyak pesantren di 5 Provinsi tersebut. Kita melibatkan 600 Ustad dan 300 Santri, yang nantinya mereka akan menjadi panjang tangan dari program ini. Sebagai sarana komunikasi kita meluncurkan website www.pesantrenforpeace.com, dan juga handbook produk yang lahir dari para ustad-ustad yang telah bekerja keras bersama kami. Akhir dari program ini kita ingin membentuk jaringan pesantren for peace dengan media menadi salah satu alatnya.

Sebagai pidato kunci, Meteri Agama Drs Lukman Hakim Saifuddin yang berhalangan hadir dan diwakilkan kepada dirjen Pendis Prof Kamarudin Amin menyatakan dukungannya terhadap program ini. UIN selalu konsisten dan menjadi garda depan dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam dengan jalan damai. Program ini menjadi menarik karena menjadikan pesantren sebagai ikon perdamaian di tengah stigma buruk terhadap pesantren.

Kita harus memahami bagaimana konsep Islam Nusantara dengan benar. Bagaimana dulu wali songo dalam menyebarkan agama Islam, Islam itu ramah bukan marah. Para wali songo selalu mengedepankan unsure perdamaian, pendekatan-pendekatan budaya selalu digunakan, dengan penuh ramah tamah dalam menyampaikan dakwah. Perdamaian dan toleransi harus ada dalam diri setiap muslim. Ketika ada yang mengatakan pesantren sebagai sarang teroris berarti ia tidak paham dengan kehidupan di dalam pesantren.

Di akhir sambutannya, menag mengatakan semoga pesantren bisa menjadi tempat menyebarkan Islam Nusantara yang penuh dengan kedamaian dan toleransi.

 
We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree