Has no content to show!

CSRC kembali Sebarkan Pemahaman Perdamaian di kalangan santri

05 January 2016

Setelah Sukses mengadakan Pelatihan Perdamaian berprespektif HAM dan Islam di tiga kota, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa kembali mengadakan kegiatan serupa di Soll Marina Hotel, Serpong, Kamis-Minggu(19-22/11). Pelatihan keempat ini menyasar para santri di daerah Jakarta dan sekitarnya. Ungkap Sarah Sabrina Hasbar, Manager program Pesantren for Peace.

Sarah menambahkan, selain mendapatkan training “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” para santri akan diajak kunjungan lapangan ke berbagai tempat yang terdapat konflik. Agar para santri mengetahui dan bisa praktek langsung dalam penanganan konflik dengan damai.

Dalam sambutan pembukanya, Irfan Abu Bakar selaku Direktur CSRC UIN Jakarta berharap, para Santri yang berasal dari berbagai pesantren di Jakarta dan Sekitarnya mampu menjadi pion terdepan dalam menularkan virus-virus perdamaian. Pesantren harus berperan aktif dalam menyebarkan virus-virus perdamaian kepada santri lainnya dan masyarakat sekitar, agar semua elemen masyarakat mampu menjadi aktor dalam menyelesaikan konflik dengan damai. Ungkapnya.

Irfan menyerukan kepada seluruh peserta agar bangkit bersama-sama untuk membumikan semangat cinta damai di pesantren.

Dalam laporannya, koordinator program Pesantren for Peace, Idris Hemay memaparkan, secara keseluruhan ada 30 santri yang menjadi peserta training. Mereka berasal dari 30 Pesantren yang tersebar di sekitar Jakarta, seperti Kota Tangerang, Kab. Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kambupaten Bogor, dan Kabupaten Serang.

Idris melanjutkan, ke-30 peserta dibimbing oleh trainer dan fasilitator, mereka Ustad Miftah Farid (Ponpes An-Nuqtah), Ustad Muhammahd Arsan (Ponpes Madinatunnajah), Ustadzah Nurul Khariroh (Ponpes Nur Medina), Ustadz Afthon Lubbi Nuriz (Ponpes Darunnajah), Ustadz Muhammad Mahsun (Ponpes Nurul Huda), dan Ustadz Zulkarnaen (Ponpes Nur Medina).

Sebagai penutup acara, para santri diajak berkunjung ke komplek Ahmadiyah guna mempelajari secara langsung tindak kekerasan yang dirasakan oleh jemaat Ahmadiyah dan cara penanggulangannya.

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree