Has no content to show!

Menegaskan kembali peran dan fungsi Pesantren melalui Training Perdamaian

05 January 2016

Maraknya Aksi Terorisme dan kekerasan atas nama agama akhir-akhir ini semakin menyudutkan umat muslim secara umum. Selain umat muslim Pesantren ikut terseret dalam arus tuduhan ini. Dimana Pesantren dianggap hanya akan melahirkan para teroris dan jihadis baru yang akan terus melakukan teror. Bahkan oleh beberapa pihak ada keinginan untuk mengurangi keberadaan pesantren di Indonesia.

Atas fenomena tersebut, Idris Hemay koordinator program Pesantren for Peace(PFP) mengatakan, perlu usaha sejak dini untuk mengcounter tuduhan-tuduhan tersebut. Dimana Pesantren bukan tempat lahirnya para teoris namun pesantren memiliki cita-cita yang jauh lebih mulia untuk meyebarkan paham Islam Rahmatan lil alamin.

Idris menambahkan, Training dan Field Trip dengan tema “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren Berperspektif HAM dan Islam” yang dilaksanakan di Hotel Park View, Bandung (26-29/11) menjadi salah satu cara untuk mengcounter anggapan tersebut. Training ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman para santri tentang perdamaian dalam Islam dan HAM, sehingga keterampilan mereka dalam menyelesaikan konflik secara damai semakin terasah. Selain training para peserta akan diajak untuk berkunjung (field trip) dan berdialog dengan JAKATARUB (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan Sinode Gereja Kristen Pasundan (GKP).

Perlu praktik lapangan untuk memperkaya pengetahuan dan pengalaman dalam menyelesaikan konflik secara damai menurut Islam dan HAM, ungkap Junaidi Simun, Supervisi training dan field trip.

Program PFP diselenggarakan atas kerjasama Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta, Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) untuk Indonesia dan Timor Leste serta Uni Eropa dengan mitra lokal Pondok Pesantren Al-Quran Babussalam, Bandung.

Sebagai Informasi tambahan, sebagaimana dikutip dari www.pesantrenforpeace.com acara ini diikuti oleh 30 santri dari 30 pesantren di Bandung, Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, Kab. Garut dan Kab. Ciamis, yang terdiri dari 14 peserta perempuan dan 16 laki-laki. Berusia antara 17-22 tahun dengan tingkat pendidikan antara kelas 3 SLTA hingga tingkat 2 perguruan tinggi.

Adapun fasilitator training adalah alumni program PFP, yang sebelumnya telah dibina oleh Tim PfP untuk menjadi Trainer Mereka adalah Ahmad Agus Suryawinata (PP. Mahasiswa Universal Bandung), Ade Muslih (PP. Sirnarasa Ciamis), Agus Suryaman,Ss (PP. Darut Taqwa Bandung), Wahidah Rosyadah (PP. Al-Quran Babussalam Bandung), Arum Ningsih (PP. Al-Ihsan Bandung), dan Desi Nia Kurniasih (PP. Al Falah Dago).

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree