Has no content to show!

Diskusi Umum CSRC: Konflik Sunni dan Syiah di Indonesia

20 May 2016 K2_ITEM_AUTHOR 

CSRC.OR.ID – Tidak ada yang benar-benar mengetahui sejak kapan konflik Sunni-Syiah muncul dan meluas. Setahu saya, saat revolusi Iran tahun 1979, tidak ada kesan negatif tentang Syiah. Yang ada malah antusiasme masyarakat Islam menyambut revolusi karena dianggap merepresentasikan Islam yang tegas, sehingga nama Ayatullah Al Khomeini pun begitu di elu-elukan. Tiba-tiba, beberapa tahun terakhir ini kita dikejutkan dengan kebencian dengan hal-hal yang berbau Syiah. Sebagai contoh, terjadi kasus fenomenal yang terjadi di Sampang pada tahun 2012, serta Deklarasi Anti Syiah di Bandung, 20 April tahun 2014.

Demikianlah latar belakang diadakannya diskusi ini yang  dipaparkan oleh Irfan Abubakar, Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saat membuka kegiatan Diskusi Umum yang diselenggarakan pada hari Kamis (19/05) dengan diikuti oleh sebanyak 17 orang peserta.

Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar, menyampaikan latar belakang diadakannya diskusi umum ini dalam sambutan pembukaannya.  Pembicara dalam Diskusi Umum ini, Usep Abdul Matin, Ph. D (kiri) dan Advisory Board CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Chaider S. Bamualim (kanan)

Diskusi umum ini tidak hanya melibatkan peserta Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, namun juga dihadiri oleh perwakilan dari ABI Press (Ahlul Bait Indonesia), dan juga 2 orang peserta dari masyarakat umum yang tertarik dengan tema yang dibahas dalam diskusi ini, yaitu tentang “Konflik Sunni dan Syiah di Indonesia” dengan pembicara Bapak Usep Abdul Matin, Ph.D

“Banyak pendapat yang menyatakan bahwa, Apabila Syiah berkembang pesat di Indonesia, maka konflik akan semakin meningkat seperti halnya yang terjadi di Suriah. Namun, Ideologi moderat Jalaludin Rahmat mungkin akan menjadi solusi meskipun Syiah berkembang,” kata Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

“Menariknya, menanggapi Pidato Abu Jibril pada saat Deklarasi Anti Syiah di Bandung yang menyatakan bahwa Syiah itu wajib dibunuh dan mengklaim bahwa itu merupakan perintah Rasulullah, orang-orang Syiah bersikap biasa saja, tidak melawan atau bahkan mengerahkan masa,” lanjutnya.

Materi Presentasi yang disampaikan oleh Bapak Usep Abdul Matin, Ph.D  Materi Presentasi yang disampaikan oleh Bapak Usep Abdul Matin, Ph.D  Peserta menyimak pemaparan yang disampaikan oleh Bapak Usep Abdul Matin, Ph. D

Dosen yang menulis disertasinya dengan mengangkat tema tentang Syiah ini menerangkan bahwa konflik yang terjadi ini tak lepas dari peran internasional yang memberikan bantuan dana kepada beberapa pihak yang terlibat dalam membesar-besarkan konflik, selain karena pengaruh ideologi, politik juga turut campur menjadi penyebab pemicu konflik ini.

Diskusi ini semakin hidup dengan terlontarnya pertanyaan-pertanyaan dari peserta diskusi yang memang sangat menarik. Perwakilan dari ABI Press misalnya, dia menanyakan penjelasan tentang Representasi Sunni di Indonesia. Selama ini yang dia tahu bahwa Representasi Sunni di Indonesia adalah NU dan Muhammadiyah, sedangkan pemicu konflik dengan Syiah sebenarnya organisasi lain, bukan NU dan Muhammadiyah. Malah dua organisasi ini nampaknya tidak memusuhi Syiah.

Mahsus Ali, Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Luthfi AB, Perwakilah dari ABI Press (Ahlul Bait Indonesia) Ahmad, Peserta dari Depok (Masyarakat Umum) Suasana Diskusi Foto Bersama

“Agama sebenarnya bukan merupakan satu-satunya penyebab terjadinya konflik ‘Syiah dan Sunni’. Ada faktor-faktor lain seperti Politik, Ekonomi, dan unsur kekuasaan untuk mengkontrol suatu komunitas,” tutur Irfan Abubakar  

“Misalnya Konflik Sampang, Tajul Muluk memiliki konflik pribadi karena Ia pernah menolak saudaranya yang ingin menikahi santrinya. Selain itu, banyak masyarakat yang kemudian berpindah haluan ke pesantren Tajul Muluk karena dianggap Tajul Muluk lebih baik dalam menyampaikan pelajaran-pelajaran. Hal itu menimbulkan kecemburuan dari pesantren lain dan kemudian muncullah isu mengenai pesantren Tajul Muluk merupakan pesantren Syiah dengan ajaran yang sesat, dan mempengaruhi masyarakat dengan ‘Hate Speech’. Belakangan ini, Agama selalu digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk melegitimasi masyarakat untuk melakukan penyerangan berlatar belakang agama,” tambahnya.

Dalam penutupan diskusi ini, Irfan menjelaskan bahwa CSRC juga sempat melakukan penelitian mengenai konflik di Sampang ini. Hasil penelitian Analisis Konflik ini bisa dibuka di link berikut:

 

 Laporan Penelitian Jawa Timur

 /[LH]

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree