Has no content to show!

PPP Nurul Ummahat Promosikan Toleransi dan HAM Melalui Workshop “Upaya Membangun Perdamaian Dunia dari Jogja Untuk Kemajuan Indonesia”.

05 October 2016

Pesantrenforpeace.com - Hotel Pramesthi, Yogyakarta (17-18/9) Pondok Pesantren Putri Nurul Ummahat Kotagede selenggarakan workshop best practices tingkat kabupaten dengan tema “Peran Pesantren dalam Mempromosikan Toleransi dan HAM: Upaya Membangun Perdamaian Dunia dari Jogja untuk Kemajuan Indonesia. Workshop ini merupakan implementasi dari program dana hibah (Subgrant) Pesantren for Peace yang bekerja sama dengan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia serta Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia dan Timor-Leste dengan dukungan Uni Eropa.

Yogyakarta yang dikenal dengan sebutan “Jogja berhati nyaman” atau “Jogja city of toleran” akhir-akhir ini mulai tergerus karena banyaknya aksi intoleran yang kerap kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Dengan latar belakang masyarakat Yogyakarta yang heterogen, sebagai miniatur Indonesia, Yogyakarta menjadi tantangan sekaligus harapan besar untuk kota-kota lain yang ada di Indonesia. Dengan adanya kasus-kasus tersebut, pesantren tidak lagi hanya berfungsi untuk mengajarkan ilmu agama, akan tetapi juga mengayomi masyarakat dan ikut serta dalam menyebarkan cinta kasih dan perdamaian untuk bangsa Indonesia

Beberapa pesantren dan organisasi-organisasi Islam yang berjumlah 30 peserta turut hadir dalam acara workshop yang berlangsung selama 2 hari 1 malam tersebut. Dengan menghadirkan 4 narasumber yaitu Dr. Muhammad Wildan, Dosen UIN Sunan Kalijaga; K.H Abdul Muhaimin, Pengasuh PPP. Nurul Ummahat;  Abdul Mu’thi Fithriyanto dan Kang Jadul Maula.

Dalam pemaparannya, K.H Abdul Muhaimin menyampaikan bahwa agama Islam adalah agama rahmatan lil’alamin. Agama yang mengayomi semua umat manusia. Disebutkan dalam surat Al Isra ayat 170, “Dan sungguh, kami telah memuliakan anak cucu Adam”. Ayat tersebut mengacu kepada umat manusia tanpa membedakan suku, ras, maupun agama. Beliau juga menyebutkan bahwa agama Islam, sejak zaman Nabi Muhammad sudah mengajarkan HAM. Dalam meperlakukan wanita contohnya, ketika wanita secara sosiologis tidak mempuyai tempat, Islam memuliakan wanita dan menghormati hak-haknya. Di pembahasaan lain, beliau juga menyebutkan bahwa pesantren adalah lembaga yang tak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi dapat berakulturasi, berakomodasi dan berkolaborasi dengan masyarakat.

Dr. Muhammad Wildan, dosen UIN Sunan Kalijaga dalam sesinya membahas tentang peta situasi sosial keagamaan Yogyakarta, khususnya tentang isu toleransi keberagamaan. Secara khusus, meskipun dikenal sebagai kota yang toleran, Yogyakarta mempunyai beberapa kasus kekerasan beragama yang cukup tinggi (versi Wahid Institute, no.2 tertinggi di Indonesia), terutama setelah munculnya kelompok-kelompok islam garis keras.

Dilanjutkan dengan sesi yang diisi oleh Kang Jadul Maula yang membahas Prinsip HAM dengan mendekonstruksi sejarah dan pemahaman HAM. “Pada dasarnya sudah ada dalam tradisi lokal nilai-nilai kemanusiaan sejak lebih dari 500 tahun yang lalu, jauh sebelum DUHAM ada”, ujarnya. “Dalam tradisi Sunda misalnya, yang mempunyai prinsip ‘Silih asah, silih asih, silih asuh’, Jawa dengan prinsip ‘tepo seliro’, begitu pula dengan pesantren yang memiliki prinsip ‘maslahat’. Hanya saja, tugas kita adalah untuk pintan menggali nilai-nilai yang ada di masayarakat supaya menjadi pedoman kita dalam mempromosikan HAM”, tambahnya.

Menjelang sore hari, para peserta diajak untuk  berdiskusi atau ngobras yang difasilitatori oleh Ade Supriyadi, Ahmad Afrizal dan Wardah. Tema yang diangkat dalam diskusi ini yaitu mengenai situasi terkini promosi HAM, Toleransi antar umat beragama di Yogyakarta, serta Peran Pesantren dalam  Mempromosikan Toleransi dan HAM di Yogyakarta.

Dari hasil diskusi yang beranggotakan 10 orang dalam tiap kelompoknya, disimpulkan bahwa agama dan negara mengalami benturan dalam praktek sosial karena kepentingan politik yang pada akhirnya mengkambinghitamkan agama. Maka dari itu, pesantren yang mempunyai basis agama yang kuat dan dapat menyentuh masyarakat secara langsung diharapkan dapat menjadi media dan problem solver dalam mengatasi intoleransi agama di Yogyakarta yang dijuluki Jogja City Of  Tolerant”. Pesantren yang  menjadi miniatur kehidupan, dapat menjadi contoh bagaimana seharusnya hubungan antar agama, antar manusia maupun antar alam semesta.

Di akhir acara, para peserta sangat mengapresiasi acara workshop tersebut. peserta sangat mengharapkan ada aksi lanjutan untuk menjadikan Yogyakarta, Pesantren maupun pemerintah tetap bersatu dalam menyatukan berbagai agama untuk kedamaian dan kenyaman Yogyakarta yang berhati nyaman, bukan Yogyakarta yang berhenti nyaman. [Minhatul Maula/LH]

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree