Has no content to show!

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya Selenggarakan Workshop Tingkat Provinsi Jawa Timur

01 November 2016

Surabaya (28/10/2016) Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, telah berhasil menggelar workshop tingkat Provinsi dengan Tema, “Pesantren sebagai Uswah dalam Mempromosikan HAM dan Penyelesaian Konflik secara Damai.” Workshop ini merupakan implementasi dari program dana hibah (Subgrant) Pesantren for Peace yang diinisiasi oleh Pondok Pesantren Al-Fithrah bekerja sama dengan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia dan Timor-Leste dengan dukungan Uni Eropa.

Acara ini dihadiri langsung oleh koordinator Pesantren for Peace, Idris Hemay, M.Si. Melalui sambutannya, ia menyampaikan bahwa kerjasama dengan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya ini sudah dilaksanakan sebanyak empat kali. Dan kegiatan keempat ini merupakan yang paling berkesan karena dilaksanakan di Trawas Mojokerto yang bernuansa asri dan jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Selanjutnya ia menyampaikan kehadiran Pesantren for Peace adalah untuk meningkat peran pesantren dalam mempromosikan HAM dan menyelesaikan konflik secara damai. Hal ini didasari oleh masih rendahnya tingkat peran pesantren dalam menanggapi konflik yang terjadi ditengah-tengah masyarakat, dan masih rendahnya pemahaman masyarakat pesantren dalam memahami makna HAM dan Toleransi beragama.

Panitia penyelenggara workshop yang sekaligus mewakili Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, Ust. Abu Sari, M.Ag mengunkapkan bahwa kegiatan workshop ini menghadirkan 30 peserta dari 30 pesantren yang berada disekitar Provinsi Jawa Timur. Harapannya sepulang dari kegiatan workshop ini, para peserta dapat menjadi pelopor dan Uswah (Percontohan) dalam mempromosikan HAM dan penyelesaian konflik secara damai, di pesantren masing-masing.

Dalam pengantar dan perkenalan ketua panitia Ust. Fathur Rozi, M.H.I menyampaikan bahwa kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dimulai dengan seminar sejarah dan fungsi pesantren dilanjutkan dengan peran pesantren dalam mempromosikan HAM dan penyelesaian konflik secara damai dan diakhiri seminar HAM dalam hokum nasional dan Islam tiga seminar ini penting agar menambah wawasan pesantren dan kesadaran pesantren bahwa selama ini pesantren sudah mengaplikasikan promosi HAM dan penyelesaian konflik secara damai namun karena keterbatasan wawasan tentang HAM dan strategi penyelesaian konflik para pemangku pesantren belum sadar apa yang dia lakukan adalah bagian dari promosi HAM dan penyelesaian konflik secara damai. Dan pesantren pantas untuk menjadi uswah, suri tauladan untuk promosi HAM dan penyelesaian konflik.

Nara sumber dalam workshop ini adalah 6 orang yakni, H. Muhammad Musyaffa’, S.Pd.I., M.Th.I kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya; Drs. Husnul Umami, M.Pd.I dari Kementrian Agama Kota Surabaya; Imam Mustaqim MR, S,Pd.I Ketua Pokjanas Pendidikan Diniyah Formal (PDF); K.H. Rosidi, S.Pd.I., M.Fil.I, ketua Toriqoh Qodiriyah wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah Pusat; Ahmad Khoirul Mustamir, S.Pd.I., S.H., Kepala Departemen Center of Marginal Communitias Studies (CMARs) Surabaya. Dan yang terakhir Muhammad Khudhori, M.Th.I salah seorang trainer Pesantren for Peace.

Drs. Husnul Umami, M.Pd.I dalam kesempetan ini berkenan menyampaikan sejarah pesantren, mulai cikal bakal hingga perkembangannya di masa moderen ini. Selanjutnya H. Muhammad Musyaffa’, S.Pd.I., M.Th.I menjelaskan bahwa pesantren yang merupakan peninggalan wali songo sudah seharusnya melestarikan nilai-nilai luhur tersebut sebagai ruh menyelesaikan konflik secara damai. Karena hakikat pondok pesantren terletak pada ruh dan nilai-nilai luhurnya. Yaitu, niat yang baik dan bangunan paradigma “rahmah li al-‘alamin” yang mempunyai implikasi pada berbuat ihsan (berbuat baik) dan husn al-khuluq (berprilaku baik) kepada siapa saja dan apa saja, termasuknya al-ulfah wa al-ukhuwah baik al-insaniyyah, al-Islamiyyah, al-wathaniyyah maupun al-‘ubudiyyah. Syuhud al-minnah juga termasuk nilai-nilai luhur yang tidak kalah pentingnya. Pembawaan keseharian orang yang berada di maqam syuhud al-minnah atau maqam iman akan selalu bersukur atau sabar serta selalu minta pertolongan, naungan dan perlindungan Allah swt, sehingga secara otomatis hatinya akan bersih dari penyakit maknawi seperti sombong, ‘ujub, riya’ dan yang lain.  

Imam Mustaqim MR, S,Pd.I mempresentasikan bahwa peran serta pesantren (Kyai/ustaz, santri dan masyarakat binaannya) secara aktif untuk mempromosikan hak asasi manusia yang bersifat universal tanpa membedakan suku, ras, dan agama apalagi masalah mazhab dan golongan dapat menjadi salah satu solusi dalam menyelesaikan dan mencegah konflik. Disamping itu, penyelesaikan konflik secara damai tanpa kekerasan juga dapat dilakukan dengan cara memahami budaya, politik, ekonomi dan sosial serta akhlak mulia. Melakukan revolusi akhlak mulia untuk mereduksi konflik dengan mensinergikan akhlak dengan akidah, ibadah atau fikih.

K.H. Rosidi, S.Pd.I., M.Fil.I dalam kesempatan ini menjelaskan bahwa pesantren memiliki posisi strategis di masyarakat karena, hal dikarenakan pesantren di Indonesia mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim sebagai sebuah institusi yang mengajarkan cinta dan perdamaian. Untuk menyelesaiakan konflik pesantren berperan sebagai mediator yang dapat memfasilitasi kedua bilah pihak yang tengah berkonflik dengan norma-norma agama yang telah diajarkan dalam Islam.

Ahmad Khoirul Mustamir, S.Pd.I., S.H., mempresentasikan HAM dalam perspektif nasional. Menurutnya, nilai-nilai HAM sudah tercermin dalam Pancasila yang menjadi dasar negara republik Indonesia. Nilai-nilai tersebut adalah, sila pertama mencerminkan bahwa negara mengakui kehidupan beragama setiap warga negaranya untuk beribadah sesuai agama yang dianutnya. Sila kedua mencerminkan bahwa setiap manusia berhak mendapatkan perlakuan yang manusiawi dan setiap bangsa bebas untuk bebas dari segala bentuk penjajahan; Sila ketiga, mencerminkan hasrat dan tujuan bangsa Indonesia untuk bersatu padu membangun negeri tanpa memperdulikan, ras, golongan, agama, dan status sosial rakyatnya; sila keempat, mencerminkan pengakuan harkat dan martabat manusia yang harus dijunjung tinggi. Hak asasi manusia yang terdapat dalam sila keempat meliputi hak untuk berserikat, menyuarakan pendapat, dan hak untuk berpartisipasi dalam pemerintahan; sila kelima, menegaskan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat. Sila tersebut menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kehidupan yang layak dalam hal sosial dan ekonomi. Keadilan sosial yang dimaksud dalam sila kelima juga meliputi hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan pekerjaan, dan hak milik.

Muhammad Khudhori, M.Th.I dikesempatam ini menyampaikan materi HAM dalam perspektif Islam. Ia menuturkan bahwa sebenarnya Islam sebagai agama yang membawa misi rahmat li al-‘alamin (menebarkan kasih sayang bagi semua mahluk dunia) telah menciptakan undang-undang yang bertujuan mewujudkan kemaslahatan da kesejahtraan umat manusia dengan berlandaskan al-maqasid al-shari‘ah (tujuan-tujuan penetapan hukum). dimana tujuan umum tashri‘ (penetapan hukum) dalam Islam adalah untuk mewujudkan kemashlahatan umat manusia dengan terpenuhinya hak-hak yang bersifat primer (daruriyyat), sekunder (hajiyyat) dan tersier (tahsiniyyat) mereka. Setiap hukum yang ditetapkan oleh Islam tujuan utamanya pasti tidak terlepas dari tiga hal tersebut. Hak-hak in terdiri dari hifz al-din (menjaga agama/jaminan kebebasan beragama), hifz al-nafs (menjaga jiwa/jaminan keselamatan jiwa), hifz al-‘aql (menjaga akal/jaminan kebebasan menyampaikan ide dan gagasan), hifz al-‘ird (menjaga harga diri/jaminan terhadap kemuliaan harga diri) dan hifz al-mal (menjaga harta/jaminan keamanan harta benda). Dari sinilah dia menyimpulkan bahwa nilai-nilai HAM juga termaktub dalam Islam.

Kegiatan selanjutya para peserta workshop diajak berdikusi tentang pengalaman masing-masing peserta dalam mempromosikan HAM dan penyelesaian konflik secara damai. Diskusi berlangsung sangat menarik penuh humor, namun tidak menghilangkan tujuan utama dari diskusi. Hal ini dibuktikan dengan hasil diskusi yang berkualitas dan disampaikan secara menarik dari setiap kelompok. Diakhir workshop para peserta berharap hasil diskusi yang telah dirumuskan dapat disampaikan dan direalisasikan oleh setiap pondok dinusantara dan  Jawa Timur khususnya. Dan kegiatan seperti ini dapat berlangsung secara terus menerus sehingga mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat pesantren terhadap penting dan bahayanya pelanggaran HAM dan membiarkan konflik berlarut-larut.

Sebelum peserta presentasi dari hasil diskusi kelompok masing masing, karena bertepatan dengan malam jumat, semua peserta melestarikan tradisi pessantren yaitu dengan bersama sama melakukan istighotsah, pembacaan yasin dan tahlil dan diakhiri dengan pembacaan maulid, ini dilakuakan untuk meningkatkan kecerdasan sepiritual mereka disamping dua hari penuh dilakukan seminar dan diskusi untuk meningkatkan kecerdasan intlektual.

Salah seorang peserta juga menyampaikan sangat terkesan sekali dengan workshop ini, menurutnya “dia belum pernah ada workshop yang diisi dengan acara istighosah, yasin, tahlil dan pembacaan maulidur rasul, hal ini menunjukkan bahwa workshop ini tidak hanya menanamkan nilai-nilai intelektual tapi juga nilai-nilai spiritual.”

Rumusan hasil diskusi tentang pengalaman pesantren dalam mempromosikan HAM dan penyelesaian konflik secara damai dirumuskan oleh fasilitator dimalam hari setelah presentasi peserta dengan kesimpulan bahwa pengalaman pesantren dalam mempromosikan HAM yaitu; 1. Mempromosikan HAM melalui materi pelajaran Ushul Fiqih tentang HAM dalam Islam, 2. Mempromosikan HAK Pendidikan, dengan bentuk  menerima anak-anak berkebutuhan khusus Rehabilitasi moral, memberikan  biaya bagi  anak yatim piatu, Menampung korban konflik  anak  Sambas, Menampung anak-anak yang telat belajar, Bebas biaya pendidikan bagi para muallaf, 3. Memperomosikan HAM melalui Pemenuhan Hak ekonomi masyarakat yang kurang mampu di dua desa sekitar pesantren dengan bentuk menjadi mediator antara masyarakat dan pejabat pemerintah, 4. Mempromosikan toleransi intra dan antar umat beragama.  5. Mempromosikan HAM melalui tata tertib pesantren, seperti larangan berbuat asusila, mencuri, bullying, atau tindak kriminal  yang dapat menciderai hak orang lain.

Adapun pengalam pesantren dalam menyelesaikan konflik secara damai dirumuskan 1. Bentuk bentuk konflik yang terjadi dipesantren dan 2. Pengalaman pesantren dalam penyelesaian konfli yaitu a. Melakukan klarifikasi (tabayyun) b. Melakukan negosiasi, c. Melakukan dialog d.Menjalin kerjasama dengan lembaga hukum, d. Meminimalisir peluang melebarnya konflik dengan cara memperbanyak pengajian di setiap titik  rawan. [Fathur Rozi/LH]

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree