Has no content to show!

Workshop Penguatan Kapasitas Manajerial dan Jaringan Pesantren  di Salatiga

14 June 2017

 

 

Total peserta yang terlibat dalam workshop ini yaitu 150 peserta dengan rincian 30 peserta di setiap kota. Para peserta ini merupakan ustadz/ustadzah pengurus di pesantren masing-masing dengan kisaran usia 22-35 tahun.

Workshop untuk wilayah Salatiga diselenggarakan di Hotel Laras Asri, Salatiga pada tanggal 28-29 Maret 2017 yang juga menghadirkan 3 pembicara yang kompeten di bidangnya. Sesi pertama tentang pengembangan jaringan dan strategi komunikasi disampaikan oleh Dr. Ahmad Zainul Hamdi, Direktur Central for Maginalized Communities Studies (CIMARS) dan dimoderatori oleh Fahsin M. Fa’al. Materi selanjutnya tentang Studi kasus manajemen berjejaring dan komunikasi oleh pesantren disampaikan oleh Dr. Chaider S. Bamualim, Advisory Board of CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dimoderatori oleh M. Cholilullah. Materi terakhir membahas tentang Manajemen berjejaring dan komunikasi: Pengalaman PfP yang disampaikan oleh KH. Anang Rizka Masyhadi, MA., Pimpinan Pondok Modern Tazakka, Batang,  dengan dimoderatori oleh Nashif Ubbadah.

Koordinator Pesantren for Peace, Idris Hemay menyampaikan, “Di Salatiga, Jawa Tengah ini pesertanya sejumlah 32 ustadz/ustadzah. Dari workshop-workshop atau kegiatan-kegiatan sebelumnya, Jawa Tengah ini pesertanya terbilang belum cukup moderat, tidak ada yang memperbincangkan atau mempertentangkan tentang apa itu HAM dan relasi islam dan HAM. Namun di Salatiga ini mayoritas pesantrennya adalah moderat jadi mereka sebenarnya hanya perlu mengembangkan dirinya saja dari sisi peserta”, ungkap Idris.

“Dari sisi nara sumber dalam workshop ini kita menghadirkan Dr. Ahmad Zainul Hamdi atau yang akrab disapa Pak Inung dari CIMARs. Menurut saya memang pas sekali kita menghadirkan Pak Inung, karena memang berdasarkan pengalaman dari apa yang dilakukannya di CIMARs, khususnya bagi para pengungsi dan pembangunan perdamaian di Jawa Timur. Nah, dalam menyampaikan materi, dia menggali dari peserta, apa yang mereka hadapi di pesantren dan di Jawa Tengah secara umum, baru kemudian dia masuk dengan penjelasan-penjelasan berdasarkan pengalamannya dia selama di CIMARs,” tambah Idris.

Idris juga mengaku tertarik dengan Narasumber Anang Riska Masyhadi, Pimpinan Pondok Modern Tazakka, Batang yang bercerita bagaimana membangun hubungannya dengan pemerintah, baik pemerintah lokal maupun pemerintah pusat  dalam membangun pesantren untuk menyuarakan perdamaian, tidak hanya itu misalnya ketika ada masalah yang dihadapi oleh pemerintahan lokal dia berdiri di tengah menyelesaikan masalahnya itu. Contohnya dia membangun kantor aula di kecamatan kemudian dia menyelesaikan masalah pembangunan kantor koramil, membelikan tanahnya, serta membangun fisiknya. Jadi, pesantrenlah yang banyak berpengaruh. Dia bisa memberikan keyword-keyword bagaimana pesantren di Jawa Tengah  ini bisa membangun hubungan berjejaring dengan pemerintah, khususnya dengan pengusaha,  dengan media, dan lain-lain, dia menyampaikannya dengan sangat detail sekali. [LH]

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree