Has no content to show!

Workshop Pengembangan Instrumen Penelitian

13 September 2017

Csrc.or.id -  Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan dukungan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan United Nation Development Programme (UNDP) akan mengadakan program penelitian dengan topik Research on Muslim Youths: Attitudes and Behaviors on Violence and Extremism. Program ini dikerjakan dalam rentang waktu Agustus 2017 – Januari 2018. 

Penelitian ini bersifat kualitatif terapan (applied qualitative research) dan menggunakan pendekatan interpretive phenomenology (IP). Dengan pendekatan ini penelitian bertujuan untuk memahami, menganalisis, dan mengeksplorasi bagaimana dan mengapa pemuda Muslim menerima atau sebaliknya menolak ideologi radikal dan ekstremis bernuansakan kekerasan dalam tiga konteks. Pertama, menguatnya penyebaran narasi ideologi radikal dan ekstrimis di kalangan anak-anak muda Muslim; Kedua, interaksi sosial mereka dengan lingkungan keluarga, pertemanan, lembaga pendidikan, organisasi di sekolah, kampus, dan perkumpulan kepemudaan, serta ormas-ormas keislaman dengan ragam spektrum ideologi politiknya; Ketiga, perkembangan sosial politik khususnya terkait kebijakan pemerintah dalam penanggulangan radikalisme dan terorisme. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan yang bermanfaat bagi pengambil kebijakan dalam meningkatkan efektifitas pencegahan dan penanggulangan Radikalisme dan Ektsremisme yang bernuansakan kekerasan.

Dalam mengawali program penelitian ini dan guna memastikan kualitas proses penelitian dan hasilnya, sebelum pelaksanaan penelitian lapangan dimulai, CSRC UIN Jakarta telah mengadakan Workshop Pengembangan Instrumen Penelitian pada 6-8 September 2017 dengan melibatkan konsultan penelitian, manajemen penelitian dan peserta aktif lainnya. Dari workshop tersebut telah dihasilkan sejumlah draft instrumen penelitian terkait struktur dan tema wawancara mendalam (in-dept interview), struktur dan tema Focus Group Discussion (FGD), draft rencana Laporan Penelitian Lokal (per Daerah) dan Draft Rencana Laporan Penelitan Nasional.

Salah satu hasil penelitian yang menempatkan pemuda dan usia muda sebagai sumber perilaku radikal dan ekstremis dilakukan Noorhaidi Hasan (2015). Dalam penelitian tersebut, disebutkan bahwa di masa transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa, generasi muda mudah mengalami krisis akibat perubahan sosial yang cepat, modernisasi, dan globalisasi (Hasan, 2015). Sebenarnya banyak anak muda menikmati dampak arus modernisasi dan globalisasi, seperti tersebarnya teknologi komputer dan internet secara luas, semaraknya industri model, musik, cinema dan lifestyle yang membuat bakat mereka berkembang sehingga menjadi lebih percaya diri. Akan tetapi itu semua tidak sepenuhnya bisa membuat mereka bahagia.  Demikian pula, di tengah arus modernisasi dan globalisasi, yang bertumpu pada pasar bebas, kompetisi yang lebih intensif, dan akselarasi jaringan teknologi dan ilmu pengetahuan, anak muda dihadapkan pada tantangan besar, terutama mengenai bagaimana mengatasi ketidakpastian masa depannya (Hasan, 2015). Ini seringkali berdampak negatif bagi mereka, khususnya dalam mempersiapkan masa depan yang lebih sejahtera dan mandiri. Terlebih lagi dengan globalisasi, dimana sumberdaya material terkonsentrasi di sebagian kecil pemilik modal. Masyarakat menjadi terpecah-pecah secara berkelompok. Mereka mengalami krisis serta goncangan akibat kepemilikan/distribusi sumberdaya material yang tidak sama, khususnya antara orang-orang yang hidup dalam kelas-kelas sosial yang berbeda-beda. Akibatnya, pemuda bisa terus-menerus hidup dalam ketidakpastian dan ketegangan (Hasan, 2015; White and Whyne, 2005). Dalam situasi seperti itu mereka mudah sekali terpengaruh dengan ajakan-ajakan radikalisme dan ekstremisme sebagai pelipur lara. 

Faktor lain adalah bahwa kecenderungan perilaku radikal dan Ekstremisme pemuda bukan semata-mata disebabkan oleh unsur kepemudaan itu, melainkan ia berjalin kelindan dengan faktor sosial ekonomi yang melingkupinya. Sebuah hasil penelitian menyebutkan, anak muda yang suka mengikuti gaya hidup kelas menengah yang modis dan lebih sejahtera, terkadang tidak sanggup wemujudkan apa yang mereka inginkan, karena faktor ekonomi. Mereka sadar bahwa kondisi ekonomi/keuangan keluarga yang kurang baik merupakan hambatan dalam meraih cita-cita mereka. Sebagian generasi muda kelas ekonomi rendah, mengakui bahwa hambatan material-struktural adalah sebab gagalnya mewujudkan mimpi-mimpi mereka (Pam Nilana, Loynette Parkerb, Linda Bennettc dan Kathryn Robinsond, 2011). Akibatnya, mereka berpaling ke agama, dengan resiko menjadi sasaran rekruitmen kelompok radikal. Kondisi ini dimungkinkan karena terdapat porsi cukup besar anggota ormas Islam radikal, semisal FPI, HTI, Laskar Jihad, MMI, dst, yang berasal dari kalangan miskin kota dan desa. Karena kalah bersaing, mereka tidak terserap pasar lapangan kerja yang kompleks itu. Akibatnya, mereka hanya bisa diserap di sektor ekonomi informal secara terbatas, dan karenanya, mimpi-mimpi kesejahteraan menjadi jauh dari kenyataan. Lebih banyak menganggur, membuat anak muda teralienasi serta hilang harapan akan masa depannya. Dalam situasi ini seringkali ormas-ormas radikal seperti FPI, laskar Jihad, HTI, JAT, menjadi tempat yang pas bagi anak-anak muda, dengan status baru sebagai laskar, untuk mengatasi alienasi dan frustrasi sosial yang mereka alami (Bamualim dkk, 2002).  

Aktif di ormas Islam radikal menyebabkan para laskar muda kembali mendapatkan kepercayaan masyarakat dan keluarga. Posisi sosial mereka pun terkoreksi, setidaknya di lingkungan kelompok-kelompok Islam yang konservatif. Contohnya, sebagian laskar yang dulunya tidak taat beragama, menjadi lebih taat setelah menjadi laskar, sebagai cara menunjukkan loyalitas pada ormas dan komunitas baru. Di ormas baru ini, kebanyakan anggota laskar, yang dulunya berprofesi sebagai anggota preman, menjadikan pengalaman baru ini sebagai kesempatan pertobatan dan penyucian diri (Bamualim dkk, 2002). 

Tapi perlu diingat bahwa, seperti disebut di atas, Radikalisme bukan hanya tumbuh di lingkungan orang-orang miskin dan marjinal, tetapi juga di lingkungan orang-orang terdidik dan berada, yang berkampus di perguruan tinggi sekuler terkemuka. Dalam konteks ini, radikalisasi biasanya bermula dari upaya konstruksi identitas yang eksklusif dengan mempertahankan ketekunan/ketaatan dan rutinitas agama. Generasi muda yang berasal dari desa dan berpindah ke kota, tidak ingin tercerabut dari akar budayanya dan nilai-nilai moral agamanya (Hefner, 2001). Karenanya, meski aktif kuliah, mereka tetap menunaikan rukun Islam, terutama sholat fardhu di ruangruang kosong di kampus yang dimungkinkan untuk beribadah, karena tidak tersedianya masjid/musholla. Sadar bahwa aksi-aksi individual semacam itu tidak cukup menarik perhatian otoritas kampus, mereka kemudian menjadikan isu tersebut sebagai isu komunitas/kelompok, dengan argumen hak dan kebebasan beragama (religious freedom).  Dari sini lah aktivisme dakwah kampus muncul, namun dengan motif yang evolutif. Mulanya dakwah kampus bertujuan memperkuat ikatan-ikatan moral-kultural, namun dalam perkembangan selanjutnya, dakwah kampus berubah menjadi aksi mempertahankan identitas, serta mengandalkan aktivisme berbasis perjuangan kelompok dan ideologis.  

Dalam kaitan ini, faktor ideologis dengan sendirinya menjadi aspek lain yang perlu dijelaskan juga. Secara simultan, proses identifikasi diri para anak muda Muslim berhadapan dengan gejolak urbanisasi ketika menjalani hidup sebagai mahasiswa di perguruan tinggi juga muncul, tergantung konteks dan tujuan aktivisme keagamaan mereka.  Karena gairah aktivisme keagamaan berjalan secara linier dengan setting sosial-politik nasional dan global, sejak tahun 1980an-1990an, aktivisme dakwah kampus mulai bergumul dengan berbagai corak pemikiran dan ideologi agama, dari Modernisme, neo Modernisme, Radikalisme, Fundamentalisme, Salafisme hingga Ekstremisme ala NII (Rosyad, 2007; Bamualim, 2015).  

Semua kecenderungan baru anak-anak muda Muslim terpelajar ini memfasilitasi berkembangnya dakwah kampus yang Islamis dan eksklusif, yang diantaranya disebabkan oleh memudarnya loyalitas mahasiswa terhadap ideologi-ideologi lain termasuk ideologi Negara, yang melarang agama di ruang publik serta membatasi kehadirannya hanya di ruang-ruang privat. Dalam mekanisme pertautan pemuda dan ideologi inilah, dakwah kampus manjadi tempat menarik bagi mahasiswa-mahasiswa yang merasa teralienasi dari kehiduan publik yang lebih luas dan dari agenda rezim mempertahankan status quo.

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree