Has no content to show!

Hibridasi Identitas Keberagamaan Kaum Muda : Seminar Sosialisasi Hasil Penelitian CSRC UIN Jakarta  

25 February 2018

 

Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan dukungan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan United Nation Development Programme (UNDP) mengadakan penelitian dengan topik “Arah dan Corak Keberagamaan Kaum Muda Muslim Indonesia”, di 18 kota/kabupaten di Indonesia, meliputi: Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Bandar Lampung, Jakarta, Bogor, Tasikmalaya, Bandung, Garut, Yogyakarta, Solo, Lamongan, Pontianak, Banjarmasin, Balik Papan, Makassar, Bulukumba dan Bima. Program penelitian ini dikerjakan selama Agustus 2017 – Januari 2018, melibatkan 14 Peneliti yang tersebar di 18 kota/kabupaten tersebut.

Riset ini hendak mengetahui secara mendalam struktur dasar sikap dan prilaku kaum muda muslim generasi milenial (15-24 tahun) tentang kekerasan dan ekstremisme. Melibatkan 935 aktivis muda Muslim yang terdiri dari 555 narasumber in-depth interview dan 380 narasumber FGD dengan varian ideologi yang sangat beragam di 18 kota/kabupaten tersebut, penelitian ini menemukan bahwa secara umum sikap dan perilaku kaum muda Muslim bisa dikategorikan moderat, namun pada saat yang sama tren konservatisme dengan ciri skriptural plus komunal juga menguat. Kecenderungan terakhir ini melahirkan tantangan tersendiri bagi munculnya sikap dan perilaku intoleran, sekaligus menguatnya dukungan terhadap radikalisme dan ekstremisme di kalangan muda Muslim zaman now.

Secara spesifik, tema-tema yang diajukan dalam penelitian ini mencakup pokok-pokok berikut: 1) relijiusitas: pehamahaman keagamaan dan pengalamaan keberagamaan kaum muda Muslim, 2) pendidikan dan pembelajaran keagamaan, 3) keragaman (diversity) dan toleransi, 4) kebebasan individu dan Hak Asasi Manusia, 5) wawasan kebangsaan (nasionalisme), dan 6) radikalisme dan ekstremisme.

Dr. Chaider S. Bamualim, MA mengungkapkan, dalam penelitian ini ditemukan suatu fenomena yang disebut dengan hybridation of identity (hibridasi identitas). “hibridasi identitas di sini adalah proses “persilangan” afiliasi dan orientasi keagamaan berdasarkan dinamika dan interaksi sosial-politik-keagamaan yang mereka alami dengan lingkungan sosialnya, atau bentuk lahirnya identitas baru akibat percampuran budaya, tradisi, nilai dan prinsip yang dipegang oleh kaum muda Muslim akibat proses interaksi intensif antara seseorang atau sekelompok orang dengan konteks dan tradisi yang ada di sekitarnya,” Terang Chaider.

Hibridasi identitas kaum muda Muslim terjadi disebabkan oleh pengalaman yang mereka dapatkan sejak masih usia anak-anak sampai remaja dan atau sampai masa studi di perguruan tinggi. “Kebanyakan anak muda jarang yag memiliki pengalaman linier dalam tradisi keagamaan, misalnya dari SD sampai SMA nya NU lanjut ke Muhammadiyah atau afiliasi keagamaan lainnya, jadi tidak linier. Mereka akhirnya mencerna pengetahuan baru. Kadang-kadang ini membuat dualisme. Mereka mendapat pengetahuan dari guru-guru mereka yang berbeda, tapi mereka juga dapat pelajarang dikotomi-dikotomi dari lingkungan mereka,” tambah Chaider.

Terkait dengan radikalisme, penelitian ini dapat mengklaim bahwa para aktivis muda Muslim cenderung menolak radikalisme dan ekstremisme yang mencoba melakukan perubahan sosial-politik secara revolusioner dan menyeluruh. Ide menggantikan Pancasila dengan kekhilafahan, yang resonansinya kuat di lingkaran aktivis HTI, Khilafatul Muslimin, Jama’ah Muslimin, tidak terlalu mereka hiraukan. Meski demikian, kalangan muda Muslim ini menunjukkan corak keberagamaan yang skripturalis dan konservatif dengan penekanan yang kuat pada nilai-nilai komunal di atas nilai-nilai kewargaan. Pada kadar tertentu, sikap keberagamaan skriptural dan komunal ini rentan terhadap pengaruh wacana radikalisme manakala relasi sosial mereka dengan kelompok-kelompok keagamaan yang berbeda diwarnai oleh ekslusivisme social dan prasangka komunal.

Penelitian ini menemukan indikasi yang kuat bahwa sangat minim aktivis muda Muslim milenial menganut sikap dan perilaku keberagamaan yang ekstrim. Kalaupun ada, sikap seperti itu dianut mereka yang memang sudah bergabung dengan kelompok-kelompok jihadis yang jumlahnya terbatas. Bahkan sebagian besar kaum muda Muslim memoderasi makna jihad. Tetapi menariknya, di tempat-tempat tertentu terjadi sejumlah anomali dalam melihat hal ini. Di Lamongan, misalnya, terdapat sejumlah kaum muda Muslim yang secara mengejutkan menyatakan dukungannya terhadap apa yang telah dilakukan Amrozi dkk, pelaku Bom Bali. Yang lebih mengherankan lagi adalah bahwa sejumlah aktivis yang berhaluan nasionalis seperti GMNI, Pemuda Pancamarga, dan KNPI justru berpendapat bahwa Amrozi bukanlah teroris. Pandangan dan sikap yang seperti ini dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya di mana sebagian besar masyarakat menaruh simpati kepada Amrozi dan teman-temannya.

Hadir sebagai pembahas, Deputi Bidang Pengkajian dan Materi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila, Anas Saidi dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat dengan dimoderatori oleh Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati. Seminar ini menjadi sangat dinamis dengan berbagai masukan dari pembahas juga pertanyaan-pertanyaan kritis dari peserta.

Beberapa rekomendasi dari hasil penelitian ini yang bisa dijadikan pertimbangan oleh semua pemangku kepentingan, baik pemerintah mulai dari tingkat pusat hingga daerah, universitas, organisasi keagamaan, organisasi masyarakat sipil, organisasi kepemudaan, dan masyarakat luas: 1) perlu memperbanyak dan memperluas perjumpaan-perjumpaan di kalangan kaum muda Muslim dengan beragam latar belakang yang berbeda, terutama dari sisi etnis dan ras. Misalnya, kemah antar etnis, antar agama dan sejenisnya. Perjumpaan-perjumpaan yang demikian akan memungkinkan kaum muda Muslim ini bisa mempelajari kelompok lain dengan cara yang lebih respek dan terbuka; 2) membatasi pengaruh gerakan dan aktivisme Islam konservatif, garis keras dan radikal dalam lembaga pendidikan formal tanpa terjebak pada kebijakan-kebijakan yang kontraproduktif, misalnya pelarangan, pembekuan, dan sejenisnya; 3) memperkenalkan diskursus nilai-nilai kewargaan bagi kelompok-kelompok konservatif seperti ROHIS dan LDK melalui kurikulum formal di sekolah dan universitas; 4) sekolah atau universitas jangan mengabaikan program-program ROHIS dan LDK seperti liqa dan yang sejenis berjalan sendiri begitu saja tanpa intervensi dari otoritas sekolah dan kampus dengan diskursus nilai-nilai kewargaan; 5) selain itu penting juga mengekspos dan memperkenalkan keragaman penafsiran di dalam Islam terhadap kelompok-kelompok konservatif dengan dengan ragam metode yang lebih popular; 6) mendorong kelompok-kelompok moderat untuk terlibat aktif dalam area-area dakwah yang lebih luas seperti ROHIS dan LDK, dan tak hanya berebut dalam BEM semata.

 

 

 

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree