Has no content to show!

Workshop Penguatan Khutbah Untuk Dakwah Rahmatan Lil-Alamin

11 April 2018

Csrc.or.id – [9-11/04] Dakwah memiliki peran signifikan dalam mengembangkan Islam dan ke-Islam-an umat di tanah air. Metode dakwah yang diperkenalkan oleh para pendahulu terkenal dengan pendekatan yang ramah dan menampilkan Islam yang terbuka, ramah, damai, dan akomodatif terhadap persoalan-persoalan kemasyarakatan. Karenanya wajah Islam di tanah air dikenal dengan Islam yang ramah dan bukan Islam yang marah. Berbagai macam persoalan umat mampu diselesaikan tanpa memicu konflik. Damai menjadi kunci yang lebih dikedepankan di dalam dakwah.

Arena dakwah Islam selama ini tidak hanya terbatas person to person. Lebih dari itu dakwah mampu menjangkau umat secara komunal baik di area terbuka maupun area tertutup seperti masjid yang itu pun mampu menjangkau area terbuka dengan adanya pengeras suara. Ini menunjukkan bahwa dimensi dakwah sangat luas. Dakwah menyentuh ranah-ranah tidak hanya privat, namun juga ranah publik turut dijamahnya. Wilayah yang awal mulanya privat namun seiring berkembangnya zaman, mengalami transformasi masuk ke wilayah publik. Lihat saja bagaimana ceramah-ceramah atau khutbah-khutbah yang tertutup dengan ikut hidupnya kamera kemudian memasuki wilayah publik setelah melewati proses digitalisasi dan masuk diunggah ke internet, seperti youtube. Belum lagi ditambah dengan merebaknya media sosial (medsos).

Dakwah di era digital memang memiliki tantangan tersendiri. Akses yang begitu terbuka dan tanpa batas membuat para pendakwah harus ekstra hati-hati baik dalam tata cara penyampaian dan juga isi atau konten dari dakwahnya. Walaupun proses dakwah dilakukan dalam ruang tertutup namun bisa saja tiba-tiba meledak di dunia digital ataupun medsos. Tak pelak bila ada yang tidak sesuai dengan kaedah agama maupun kaedah sosial, maka siap-siap saja seorang pendakwah akan menjadi buah bibir dan dicibir oleh masyarakat yang kini telah melek dengan dunia digital. Belum lagi ditambah dengan objek dakwah yang makin milenial. Generasi Z atau dikenal juga dengan generasi milenial adalah objek vital dalam dakwah kekinian.

Bagaimanapun juga sampai kini masjid masih menjadi lahan subur untuk penyemaian pesan-pesan dakwah. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam aspek pengajaran keagamaan, masjid masih menjadi tempat yang dianggap efektif. Fakta ini terungkap dalam penelitian CSRC (2008) dimana 99% takmir masjid di DKI Jakarta mengiyakan masjid merupakan salah satu tempat yang efektif bagi pengajaran dan penyebaran ajaran-ajaran agama (Islam). Aspek pengajaran yang paling sering diungkapkan adalah aspek-aspek ibadah dan sangat sedikit menyentuh ranah sosial yang pada hakekatnya diperlukan juga bagi umat dalam kehidupan sosial keberagamaannya.

Walaupun demikian, sejauh ini sebagian masjid khususnya masjid perkotaan telah terbukti efektif, tidak saja dalam memainkan perannya sebagai institusi ritual keagamaan, tetapi baik disadari maupun tidak juga menjalankan fungsinya sebagai agensi bagi organisasi dan mobilisasi sosial. Ini memungkinkan berkembangnya masjid dan komunitasnya secara produktif dan strategis sehingga dapat mendukung agenda-agenda transformasi sosial secara konstruktif pada level gagasan maupun institusi. Untuk mencapai tujuan tersebut, masjid harus mampu menjaga jarak dari berbagai kelompok kepentingan yang suka sekali memanfaatkan institusi sakral ini untuk tujuan-tujuan tertentu. Jika tidak, bukan mustahil masjid sebagai tempat yang rapuh dan rentan untuk disusupi pelbagai kepentingan ideologis yang pada akhirnya memanipulasi masjid sebagai ruang manifestasi kepentingan ideologi-politik. Ini bukan mustahil terjadi, mengingat kontestasi politik di lingkaran masjid semakin hari semakin terang benderang.

Idealnya ceramah ataupun khutbah diperkuat untuk memainkan peran pembawa misi perdamaian dan harmoni sebagaimana dicita-citakan misalnya dengan berdirinya Masjid Istiqlal. Masjid harus kembali kepada ruh dakwah yang lebih mengedepankan hikmah dan mau’izah hasanah. Islam ramah dan bukan Islam marah lah yang perlu terus dikembangkan. Peran khutbah sebagai pengemban dan penyalur misi Islam yang rahmatan lil-alamin harus terus didorong dan dikedepankan. Khutbah dan ceramah di masjid khususnya yang kemudian akan muncul adalah khutbah-khutbah perdamaian dan tidak lagi khutbah kebencian yang provokatif. Dalam konteks inilah CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Prof. Dr. Nasaruddin Umar sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal menyelenggarakan Workshop “Penguatan Khutbah untuk Dakwah Rahmatan Lil-Alamin”.

Workshop ini diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya khutbah yang bermuatan damai dan toleran, serta mempertegas peran khutbah sebagai medium untuk meneguhkan Islam yang rahmatan lil-alamin.

Dalam sambutan pembukaan workshop, Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar menyampaikan “dengan adanya workshop ini diharapkan semakin menguatkan peran para khatib sebagai lokomotif penyemaian Islam yang rahmatan lil-alamin khususnya dengan muatan-muatan ceramah dan program yang lebih mengedepankan nilai-nilai dan sikap toleran serta saling menghargai dan menghormati”, Jelas Irfan. “Dengan demikian khatib mampu turut menjadi jembatan pembangunan perdamaian (peacebuilder) khususnya manakala riak-riak konflik mengemuka sekaligus memainkan peran sebagai pencegah meletupnya konflik”, Tambahnya.

Sementara itu secara umum kegiatan ini mengkombinasikan dua pendekatan, yaitu pertama, sesi penyampaian materi (seminar) yang akan disampaikan oleh narasumber yang berkompeten di bidang dakwah; dan kedua, sesi diskusi kelompok. Pendekatan pertama diperlukan untuk sekedar memberikan gambaran dan perspektif bagi para peserta tentang persoalan-persoalan dakwah. Pendekatan kedua difungsikan sebagai pendalaman untuk merumuskan berbagai isu/masalah terkait dakwah khususnya dalam konteks kekinian. Penyampaian Materi (seminar) terdiri dari 5 sesi, Pertama, Perkenalan yang berlangsung tepat setelah workshop dibuka secara resmi; Kedua, Sesi Manajemen dan Strategi Dakwah Rahmatan Lil-Alamin yang disampaikan oleh Ketua Komisi Dakwah MUI, KH. M. Cholil Nafis, Lc., Ph.D dan Direktur CSRC UIN Jakarta, Irfan Abubakar, MA; Ketiga, Sesi bedah buku “Khutbah-Khutbah Imam Besar” sebagai bagian integral dari workshop karena terkait erat dengan isu-isu dakwah rahmatan lil-alamin, Sesi ini diisi langsung oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. dan Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, MA. serta  Dr. Budhy Munawar-Rachman dari Nurcholish Madjid Society; Keempat, Sesi Psikologi Dakwah Rahmatan Lil-Alamin Di Era Digital yang disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA. dan   Dr. Chaider S. Bamualim, MA. dari FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Kelima, Sesi Dimensi Dakwah Wasathiyah Karakter Indonesia yang disampaikan oleh Dr. Abdul Aziz dari Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kemenag, dan Prof. Dr. Asep Usman Ismail, M.Ag. dari Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Di akhir sesi, perwakilan peserta diskusi kelompok akan mempresentasikan hasil diskusi kelompok untuk kemudian dirumuskan bersama-sama hasilnya. Narasumber Workshop terdiri dari 8 orang dan difasilitasi oleh 1 orang fasilitator di masing-masing kelompok.

Workshop ini berlangsung selama 3 hari, yaitu mulai dari Senin, 9 April 2018 sampai dengan Rabu, 11 April 2018 dan bertempat di Swiss-bell Hotel Pondok Indah, Jakarta, dengan coverage area program yaitu para khatib, penceramah, dan imam masjid se-DKI Jakarta yang biasa mengisi pengajian, ceramah, atau khutbah di masjid khususnya masjid-masjid BUMN, perkantoran, dan pemerintahan.[LH]

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree