Has no content to show!

Lia Cgs

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Csrc.or.id – [9-11/04] Dakwah memiliki peran signifikan dalam mengembangkan Islam dan ke-Islam-an umat di tanah air. Metode dakwah yang diperkenalkan oleh para pendahulu terkenal dengan pendekatan yang ramah dan menampilkan Islam yang terbuka, ramah, damai, dan akomodatif terhadap persoalan-persoalan kemasyarakatan. Karenanya wajah Islam di tanah air dikenal dengan Islam yang ramah dan bukan Islam yang marah. Berbagai macam persoalan umat mampu diselesaikan tanpa memicu konflik. Damai menjadi kunci yang lebih dikedepankan di dalam dakwah.

Arena dakwah Islam selama ini tidak hanya terbatas person to person. Lebih dari itu dakwah mampu menjangkau umat secara komunal baik di area terbuka maupun area tertutup seperti masjid yang itu pun mampu menjangkau area terbuka dengan adanya pengeras suara. Ini menunjukkan bahwa dimensi dakwah sangat luas. Dakwah menyentuh ranah-ranah tidak hanya privat, namun juga ranah publik turut dijamahnya. Wilayah yang awal mulanya privat namun seiring berkembangnya zaman, mengalami transformasi masuk ke wilayah publik. Lihat saja bagaimana ceramah-ceramah atau khutbah-khutbah yang tertutup dengan ikut hidupnya kamera kemudian memasuki wilayah publik setelah melewati proses digitalisasi dan masuk diunggah ke internet, seperti youtube. Belum lagi ditambah dengan merebaknya media sosial (medsos).

Dakwah di era digital memang memiliki tantangan tersendiri. Akses yang begitu terbuka dan tanpa batas membuat para pendakwah harus ekstra hati-hati baik dalam tata cara penyampaian dan juga isi atau konten dari dakwahnya. Walaupun proses dakwah dilakukan dalam ruang tertutup namun bisa saja tiba-tiba meledak di dunia digital ataupun medsos. Tak pelak bila ada yang tidak sesuai dengan kaedah agama maupun kaedah sosial, maka siap-siap saja seorang pendakwah akan menjadi buah bibir dan dicibir oleh masyarakat yang kini telah melek dengan dunia digital. Belum lagi ditambah dengan objek dakwah yang makin milenial. Generasi Z atau dikenal juga dengan generasi milenial adalah objek vital dalam dakwah kekinian.

Bagaimanapun juga sampai kini masjid masih menjadi lahan subur untuk penyemaian pesan-pesan dakwah. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam aspek pengajaran keagamaan, masjid masih menjadi tempat yang dianggap efektif. Fakta ini terungkap dalam penelitian CSRC (2008) dimana 99% takmir masjid di DKI Jakarta mengiyakan masjid merupakan salah satu tempat yang efektif bagi pengajaran dan penyebaran ajaran-ajaran agama (Islam). Aspek pengajaran yang paling sering diungkapkan adalah aspek-aspek ibadah dan sangat sedikit menyentuh ranah sosial yang pada hakekatnya diperlukan juga bagi umat dalam kehidupan sosial keberagamaannya.

Walaupun demikian, sejauh ini sebagian masjid khususnya masjid perkotaan telah terbukti efektif, tidak saja dalam memainkan perannya sebagai institusi ritual keagamaan, tetapi baik disadari maupun tidak juga menjalankan fungsinya sebagai agensi bagi organisasi dan mobilisasi sosial. Ini memungkinkan berkembangnya masjid dan komunitasnya secara produktif dan strategis sehingga dapat mendukung agenda-agenda transformasi sosial secara konstruktif pada level gagasan maupun institusi. Untuk mencapai tujuan tersebut, masjid harus mampu menjaga jarak dari berbagai kelompok kepentingan yang suka sekali memanfaatkan institusi sakral ini untuk tujuan-tujuan tertentu. Jika tidak, bukan mustahil masjid sebagai tempat yang rapuh dan rentan untuk disusupi pelbagai kepentingan ideologis yang pada akhirnya memanipulasi masjid sebagai ruang manifestasi kepentingan ideologi-politik. Ini bukan mustahil terjadi, mengingat kontestasi politik di lingkaran masjid semakin hari semakin terang benderang.

Idealnya ceramah ataupun khutbah diperkuat untuk memainkan peran pembawa misi perdamaian dan harmoni sebagaimana dicita-citakan misalnya dengan berdirinya Masjid Istiqlal. Masjid harus kembali kepada ruh dakwah yang lebih mengedepankan hikmah dan mau’izah hasanah. Islam ramah dan bukan Islam marah lah yang perlu terus dikembangkan. Peran khutbah sebagai pengemban dan penyalur misi Islam yang rahmatan lil-alamin harus terus didorong dan dikedepankan. Khutbah dan ceramah di masjid khususnya yang kemudian akan muncul adalah khutbah-khutbah perdamaian dan tidak lagi khutbah kebencian yang provokatif. Dalam konteks inilah CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Prof. Dr. Nasaruddin Umar sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal menyelenggarakan Workshop “Penguatan Khutbah untuk Dakwah Rahmatan Lil-Alamin”.

Workshop ini diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya khutbah yang bermuatan damai dan toleran, serta mempertegas peran khutbah sebagai medium untuk meneguhkan Islam yang rahmatan lil-alamin.

Dalam sambutan pembukaan workshop, Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar menyampaikan “dengan adanya workshop ini diharapkan semakin menguatkan peran para khatib sebagai lokomotif penyemaian Islam yang rahmatan lil-alamin khususnya dengan muatan-muatan ceramah dan program yang lebih mengedepankan nilai-nilai dan sikap toleran serta saling menghargai dan menghormati”, Jelas Irfan. “Dengan demikian khatib mampu turut menjadi jembatan pembangunan perdamaian (peacebuilder) khususnya manakala riak-riak konflik mengemuka sekaligus memainkan peran sebagai pencegah meletupnya konflik”, Tambahnya.

Sementara itu secara umum kegiatan ini mengkombinasikan dua pendekatan, yaitu pertama, sesi penyampaian materi (seminar) yang akan disampaikan oleh narasumber yang berkompeten di bidang dakwah; dan kedua, sesi diskusi kelompok. Pendekatan pertama diperlukan untuk sekedar memberikan gambaran dan perspektif bagi para peserta tentang persoalan-persoalan dakwah. Pendekatan kedua difungsikan sebagai pendalaman untuk merumuskan berbagai isu/masalah terkait dakwah khususnya dalam konteks kekinian. Penyampaian Materi (seminar) terdiri dari 5 sesi, Pertama, Perkenalan yang berlangsung tepat setelah workshop dibuka secara resmi; Kedua, Sesi Manajemen dan Strategi Dakwah Rahmatan Lil-Alamin yang disampaikan oleh Ketua Komisi Dakwah MUI, KH. M. Cholil Nafis, Lc., Ph.D dan Direktur CSRC UIN Jakarta, Irfan Abubakar, MA; Ketiga, Sesi bedah buku “Khutbah-Khutbah Imam Besar” sebagai bagian integral dari workshop karena terkait erat dengan isu-isu dakwah rahmatan lil-alamin, Sesi ini diisi langsung oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. dan Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, MA. serta  Dr. Budhy Munawar-Rachman dari Nurcholish Madjid Society; Keempat, Sesi Psikologi Dakwah Rahmatan Lil-Alamin Di Era Digital yang disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA. dan   Dr. Chaider S. Bamualim, MA. dari FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Kelima, Sesi Dimensi Dakwah Wasathiyah Karakter Indonesia yang disampaikan oleh Dr. Abdul Aziz dari Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kemenag, dan Prof. Dr. Asep Usman Ismail, M.Ag. dari Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Di akhir sesi, perwakilan peserta diskusi kelompok akan mempresentasikan hasil diskusi kelompok untuk kemudian dirumuskan bersama-sama hasilnya. Narasumber Workshop terdiri dari 8 orang dan difasilitasi oleh 1 orang fasilitator di masing-masing kelompok.

Workshop ini berlangsung selama 3 hari, yaitu mulai dari Senin, 9 April 2018 sampai dengan Rabu, 11 April 2018 dan bertempat di Swiss-bell Hotel Pondok Indah, Jakarta, dengan coverage area program yaitu para khatib, penceramah, dan imam masjid se-DKI Jakarta yang biasa mengisi pengajian, ceramah, atau khutbah di masjid khususnya masjid-masjid BUMN, perkantoran, dan pemerintahan.[LH]

 

Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan dukungan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan United Nation Development Programme (UNDP) mengadakan penelitian dengan topik “Arah dan Corak Keberagamaan Kaum Muda Muslim Indonesia”, di 18 kota/kabupaten di Indonesia, meliputi: Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Bandar Lampung, Jakarta, Bogor, Tasikmalaya, Bandung, Garut, Yogyakarta, Solo, Lamongan, Pontianak, Banjarmasin, Balik Papan, Makassar, Bulukumba dan Bima. Program penelitian ini dikerjakan selama Agustus 2017 – Januari 2018, melibatkan 14 Peneliti yang tersebar di 18 kota/kabupaten tersebut.

Riset ini hendak mengetahui secara mendalam struktur dasar sikap dan prilaku kaum muda muslim generasi milenial (15-24 tahun) tentang kekerasan dan ekstremisme. Melibatkan 935 aktivis muda Muslim yang terdiri dari 555 narasumber in-depth interview dan 380 narasumber FGD dengan varian ideologi yang sangat beragam di 18 kota/kabupaten tersebut, penelitian ini menemukan bahwa secara umum sikap dan perilaku kaum muda Muslim bisa dikategorikan moderat, namun pada saat yang sama tren konservatisme dengan ciri skriptural plus komunal juga menguat. Kecenderungan terakhir ini melahirkan tantangan tersendiri bagi munculnya sikap dan perilaku intoleran, sekaligus menguatnya dukungan terhadap radikalisme dan ekstremisme di kalangan muda Muslim zaman now.

Secara spesifik, tema-tema yang diajukan dalam penelitian ini mencakup pokok-pokok berikut: 1) relijiusitas: pehamahaman keagamaan dan pengalamaan keberagamaan kaum muda Muslim, 2) pendidikan dan pembelajaran keagamaan, 3) keragaman (diversity) dan toleransi, 4) kebebasan individu dan Hak Asasi Manusia, 5) wawasan kebangsaan (nasionalisme), dan 6) radikalisme dan ekstremisme.

Dr. Chaider S. Bamualim, MA mengungkapkan, dalam penelitian ini ditemukan suatu fenomena yang disebut dengan hybridation of identity (hibridasi identitas). “hibridasi identitas di sini adalah proses “persilangan” afiliasi dan orientasi keagamaan berdasarkan dinamika dan interaksi sosial-politik-keagamaan yang mereka alami dengan lingkungan sosialnya, atau bentuk lahirnya identitas baru akibat percampuran budaya, tradisi, nilai dan prinsip yang dipegang oleh kaum muda Muslim akibat proses interaksi intensif antara seseorang atau sekelompok orang dengan konteks dan tradisi yang ada di sekitarnya,” Terang Chaider.

Hibridasi identitas kaum muda Muslim terjadi disebabkan oleh pengalaman yang mereka dapatkan sejak masih usia anak-anak sampai remaja dan atau sampai masa studi di perguruan tinggi. “Kebanyakan anak muda jarang yag memiliki pengalaman linier dalam tradisi keagamaan, misalnya dari SD sampai SMA nya NU lanjut ke Muhammadiyah atau afiliasi keagamaan lainnya, jadi tidak linier. Mereka akhirnya mencerna pengetahuan baru. Kadang-kadang ini membuat dualisme. Mereka mendapat pengetahuan dari guru-guru mereka yang berbeda, tapi mereka juga dapat pelajarang dikotomi-dikotomi dari lingkungan mereka,” tambah Chaider.

Terkait dengan radikalisme, penelitian ini dapat mengklaim bahwa para aktivis muda Muslim cenderung menolak radikalisme dan ekstremisme yang mencoba melakukan perubahan sosial-politik secara revolusioner dan menyeluruh. Ide menggantikan Pancasila dengan kekhilafahan, yang resonansinya kuat di lingkaran aktivis HTI, Khilafatul Muslimin, Jama’ah Muslimin, tidak terlalu mereka hiraukan. Meski demikian, kalangan muda Muslim ini menunjukkan corak keberagamaan yang skripturalis dan konservatif dengan penekanan yang kuat pada nilai-nilai komunal di atas nilai-nilai kewargaan. Pada kadar tertentu, sikap keberagamaan skriptural dan komunal ini rentan terhadap pengaruh wacana radikalisme manakala relasi sosial mereka dengan kelompok-kelompok keagamaan yang berbeda diwarnai oleh ekslusivisme social dan prasangka komunal.

Penelitian ini menemukan indikasi yang kuat bahwa sangat minim aktivis muda Muslim milenial menganut sikap dan perilaku keberagamaan yang ekstrim. Kalaupun ada, sikap seperti itu dianut mereka yang memang sudah bergabung dengan kelompok-kelompok jihadis yang jumlahnya terbatas. Bahkan sebagian besar kaum muda Muslim memoderasi makna jihad. Tetapi menariknya, di tempat-tempat tertentu terjadi sejumlah anomali dalam melihat hal ini. Di Lamongan, misalnya, terdapat sejumlah kaum muda Muslim yang secara mengejutkan menyatakan dukungannya terhadap apa yang telah dilakukan Amrozi dkk, pelaku Bom Bali. Yang lebih mengherankan lagi adalah bahwa sejumlah aktivis yang berhaluan nasionalis seperti GMNI, Pemuda Pancamarga, dan KNPI justru berpendapat bahwa Amrozi bukanlah teroris. Pandangan dan sikap yang seperti ini dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya di mana sebagian besar masyarakat menaruh simpati kepada Amrozi dan teman-temannya.

Hadir sebagai pembahas, Deputi Bidang Pengkajian dan Materi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila, Anas Saidi dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat dengan dimoderatori oleh Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati. Seminar ini menjadi sangat dinamis dengan berbagai masukan dari pembahas juga pertanyaan-pertanyaan kritis dari peserta.

Beberapa rekomendasi dari hasil penelitian ini yang bisa dijadikan pertimbangan oleh semua pemangku kepentingan, baik pemerintah mulai dari tingkat pusat hingga daerah, universitas, organisasi keagamaan, organisasi masyarakat sipil, organisasi kepemudaan, dan masyarakat luas: 1) perlu memperbanyak dan memperluas perjumpaan-perjumpaan di kalangan kaum muda Muslim dengan beragam latar belakang yang berbeda, terutama dari sisi etnis dan ras. Misalnya, kemah antar etnis, antar agama dan sejenisnya. Perjumpaan-perjumpaan yang demikian akan memungkinkan kaum muda Muslim ini bisa mempelajari kelompok lain dengan cara yang lebih respek dan terbuka; 2) membatasi pengaruh gerakan dan aktivisme Islam konservatif, garis keras dan radikal dalam lembaga pendidikan formal tanpa terjebak pada kebijakan-kebijakan yang kontraproduktif, misalnya pelarangan, pembekuan, dan sejenisnya; 3) memperkenalkan diskursus nilai-nilai kewargaan bagi kelompok-kelompok konservatif seperti ROHIS dan LDK melalui kurikulum formal di sekolah dan universitas; 4) sekolah atau universitas jangan mengabaikan program-program ROHIS dan LDK seperti liqa dan yang sejenis berjalan sendiri begitu saja tanpa intervensi dari otoritas sekolah dan kampus dengan diskursus nilai-nilai kewargaan; 5) selain itu penting juga mengekspos dan memperkenalkan keragaman penafsiran di dalam Islam terhadap kelompok-kelompok konservatif dengan dengan ragam metode yang lebih popular; 6) mendorong kelompok-kelompok moderat untuk terlibat aktif dalam area-area dakwah yang lebih luas seperti ROHIS dan LDK, dan tak hanya berebut dalam BEM semata.

 

 

 

JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah aksi teror oleh segelintir anak muda berpaham radikal bukanlah cerminan dari keseluruhan generasi milenial Muslim. Generasi milenial Muslim justru memiliki sikap dan berperilaku moderat dan terbuka dengan menghargai kebebasan individu, hak asasi manusia, dan mewujudkan nilai-nilai Pancasila. Meski demikian, kewaspadaan tetap perlu terus dijaga karena sikap moderat anak muda masih disertai […]

 

Sumber: https://kompas.id/baca/polhuk/2018/02/24/anak-muda-berpotensi-disusupi-radikalisme/

Growing up in an era with greater access to communication, media and digital technology, Indonesian millennials have a good opportunity to learn skills and qualities to be successful in their future. 

However, frequent interaction with information channels without proper guidance may instead make them prone to radical and intolerant teachings, a study on the religiousness of Muslim millenni...

Source: http://www.thejakartapost.com/news/2018/02/24/muslim-millennials-prone-intolerance-study.html

Seminar Sosialisasi Hasil Penelitian

"Arah dan Corak Keberagamaan Kaum Muda Muslim Indonesia"

 

 

Pembicara :

  • Dr. Chaider S. Bamualim
  • Dr. Hilman Latief

 

Pembahas:

  • Dr. Samsul Maarif
  • Dr. Akif Khilmiyah

 

Moderator:

Dr. Zuly Qodir

 

Seminar akan dilaksanakan pada hari Senin, 12 Februari 2018 Pukul 08.30 - 12.30 WIB di Seminar Room, Pasca Sarjana UMY

 

Contact Person : Rozikan (WA  0812-2786-5789)

Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer- Stiftung (KAS) mengadakan Uji Coba (Try Out) Training “Penguatan Peran Pesantren dalam Promosi HAM Melalui Kontra Narasi Ekstremis” di Hotel Grand Wahid Salatiga selama tiga hari, 28-30 November 2017.

Program ini melibatkan 15 ustadz/ustadzah untuk menjadi trainer dan fasilitator yang sudah dilatih dalam acara preliminary workshop sebelumnya. Sejalan dengan tujuannya, Preliminary Workshop tersebut telah berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan Ustadz/Ustadzah pesantren dalam menyusun dan melakukan Kontra Narasi Ekstremis dan propaganda ekstremis lainnya baik melalui khutbah, ceramah maupun di media online. Disamping itu, ustadz/ustadzah juga dibekali materi advance tentang HAM dan relasinya dengan Islam. Hal penting lain yang dicapai adalah ustadz/ustadzah memiliki keterampilan dan siap menjadi pembicara/trainer materi tentang Narasi Ekstremis, Kontra Narasi Ekstremis dan propaganda ekstremis lainnya melalui khutbah, ceramah maupun di media online, khususnya di kegiatan Try out Training ini dalam rangka persiapan untuk program lanjutan di tahun 2018 nanti.

Peserta yang terlibat dalam Try Out Training ini yaitu 25 ustadz/ustadzah muda pesantren yang terdiri dari 12 orang peserta terbaik Capacity Training dan Field Trip dan 13 orang terdiri dari peserta baru baik dari pesantren yang pernah atau belum pernah terlibat kegiatan PfP sebelumnya.

Pembukaan dilaksanakan selasa (28/11) pukul 14.00 WIB. Sambutan pertama diisi oleh Pimpinan Pondok Pesantren Edi Mancoro, Muhamad Hanif, dalam hal ini menjadi Mitra Lokal Pesantren for Peace untuk wilayah Salatiga, dilanjut oleh Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay, dan Terakhir Sambutan dari Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar, sekaligus membuka acara Try Out Training ini secara resmi.

Acara berlanjut sampai pukul 22:00 Malam disela waktu itu peserta shalat dan makan malam, Selama 3 hari jadwal sama tidak berubah. Suasana yang dirasa para peserta sangat nyaman, dan memotivasi serta saling silaturahmi antar peserta dan didorong aktif untuk berdiskusi.

Try Out Training ini sangat menarik sekali, karena berhasil mengkombinasikan dua pendekatan, yaitu sesi penyampaian materi yang disampaikan oleh 15 trainer/fasilitator dari ustadz/ustadzah yang sudah dilatih dalam preliminary workshop di Malang, serta sesi diskusi kelompok untuk menyusun Kontra Narasi Ekstremis dan Kontra Propaganda Ekstremis Lainnya Melalui Khutbah, Ceramah dan di media online. Di akhir sesi, perwakilan peserta diskusi kelompok mempraktikkan penyampaian khutbah dan ceramah kontra narasi ekstremis.

kesan yang didapat dari para peserta ialah salah seorang peserta, Najih Fikriyah mengungkapkan “Acaranya bagus, di season ini kita dibawa untuk bisa berperan di media tulis terutama dedia online, baik itu facebook, tweeter, dan lain sebagainya. Kita belajar untuk menyampaikan ilmu-ilmu yang disampaikan para trainer dalam bentuk narasi yang menarik sehingga mampu meng-Counter narasi ekstremis yang berkembang”.

Najih menambahkan, acara ini sangat bermanfaat khususnya di Solo yang dikenal sebagai kota Radikal, meskipun multikultural, tapi di sana sarangnya kelompok ekstremis juga, yang sangat aktif berdakwah di medsos, baik artikel, meme, dan anjuran-anjuran lainnya yang bernada ekstreme. Dari training ini, saya terinspirasi untuk menerapkannya di pondok, baik dalam bentuk pelatihan penulisan dan kegiatan lain yang sifatnya meng-Counter narasi-narasi ekstreme.

Harapannya, semoga dengan di adakan nya Try Out Training ini menjadikan para Trainer dan peserta dapat mengamalkan ilmu sebaik-baiknya, khususnya di bidang kontra narasi ekstremis. [LH]

 

Page 1 of 11
We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree