Has no content to show!

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASI KEPALA DAERAH

11 July 2016

Rivelino, SSTP, MM

 

PENDAHULUAN

 

Sistem demokrasi yang selama ini dijalankan oleh Pemerintah Indonesia telah mengantarkan kepada terselenggaranya otonomi daerah sebagaimana telah dilaksanakannya pemilihan kepala daerah serentak pertama kalinya dalam sejarah bangsa Indonesia pada tanggal 9 Desember 2015 lalu yang diikuti oleh 269 daerah kabupaten/kota. Otonomi daerah melahirkan sejumlah kegiatan politik seperti pemilihan kepala daerah. Pemilihan Kepala Daerah mencirikan bahwa sebuah negara dari tingkat propinsi ke tingkat daerah telah berdemokrasi. Masyarakat dapat memilih pemimpin dengan melihat Visi dan Misi yang diusung, kepribadian pemimpin dan juga cara-cara kampanye mereka. Salah satu kampanye yang paling berhasil adalah dengan melakukan Transformasi Kepemimpinan. Transformasi kepemimpinan yang dimaksud disini adalah suatu perubahan dan perpindahan bentuk dari kepemimpinan yang belum mengedepankan visi dan menginspirasi kepada kepemimpinan yang lebih mengedepankan visi dan menginspirasi para anggotanya. Bentuk dari Transformasi Kepemimpinan adalah konsep kepemimpinan transformasional. Konsep kepemimpinan transformasi telah diperkenalkan oleh James MacGregor Burns pada tahun 1979 di dalam kajiannya berkaitan dengan kepemimpinan politik. Menurut Burns, kepemimpinan transformasi merupakan satu proses di mana pemimpin dan pengikutnya saling bantu membantu untuk meningkatkan motivasi dan moral kepada tahap yang lebih tinggi (Wagner, 2009).

 

Di dalam kepemimpinan transformasional, dapat dilihat sejumlah perilaku kepemimpinan seperti; (1) Attributed charisma, bahwa kharisma dipandang sebagai hal yang bersifat inheren. Pemimpin yang memiliki ciri tersebut, memperlihatkan visi, kemampuan dan keahliannya serta tindakan yang lebih mendahulukan kepentingan organisasi dan kepentingan masyarakat. Sehingga pemimpin kharismatik dijadikan suri tauladan, idola, dan model panutan oleh bawahan. (2) Idealized influence. Pemimpin tipe ini berusaha mempengaruhi bawahan hanya melalui komunikasi langsung dengan menekankan pentingnya nilai-nilai, komitmen dan keyakinan serta memiliki tekad untuk mencapai tujuan bersama. (3) Inspirational motivation. Pemimpin transformasional bertindak dengan cara memotivasi dan memberikan inspirasi dalam bentuk partisipasi publik untuk mencapai tujuan bersama. (4) Intellectual stimulation. Pemimpin mendorong bawahan untuk memikirkan kembali cara kerja dan mencari cara-cara kerja baru dalam menyelesaikan tugasnya.Dalam kepemimpinan kepada daerah, dalam hal ini dapat mendorong partisipasi publik. (5) Individualized consideration. Pimpinan memberikan perhatian pribadi kepada bawahannya, seperti memperlakukan mereka sebagai pribadi yang utuh dan menghargai sikap peduli mereka terhadap organisasi.

Di dalam konteks organisasi pemerintahan daerah, kepala daerah memperhatikan warganya dengan selalu menyapa melalui berbagai cara merupakan langkah yang familiar bagi seorang kepala daerah, seperti yang dilakukan oleh Bapak Jokowi (sewaktu masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta),dengan cara menyerap aspirasi publik melalui blusukan di tengah masyarakat, Bapak Ridwan Kamil melalui berbagai media massa dan elektronika.

Di dalam menyelesaikan masalah-masalah di daerah masing-masing seorang kepala daerah dapat mempraktekkan berbagai macam teori kepemimpinan seperti mempraktekkan dan mengambil teori transformastif, teori kepemimpinan primal dan kepemimpinan humanistik dengan pendekatan persuasif dan dialogis. Melalui pendekatan persuasif dan dialogis inilah, sedikit demi sedikit, satu demi satu permasalahan di daerah dapat diurai persoalannya dengan mengedepankan persuasif dan dialogis terhadap warga masyarakat. Di Jakarta, diantara permasalahan klasik Jakarta yang dapat di identifikasi melalui “blusukannya” Jokowi, kemudian diambil keputusan untuk menelorkan dalam bentuk program, antara lain adalah : Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar; Penertiban Pedagang Kaki Lima; Normalisasi waduk dan relokasi warga dari beberapa waduk  yang ada; normalisasi sungai; Lelang Jabatan Camat dan Lurah yang merupakan terobosan baru dalam reformasi birokrasi; Proyek Transportasi masal melalui Mass Rapid Transit (MRT) dan Monorel.

Partai politik sebagai asosiasi yang mengaktifkan, memobilisir rakyat, serta mewakili kepentingan tertentu member jalan kompromi bagi pendapat-pendapat yang bersaing dan memunculkan kepemimpinan politik, telah menjadi suatu keharusan dewasa ini. Partai politik adalah alat bantu untuk memperoleh kekuasaan dan untuk memerintah.

Partai politik telah menjadi fenomena umum dalam kehidupan politik. Kepemimpinan politik seseorang di dalam partai menjadi ujung tombak berjalan atau tidaknya partai tersebut. Seleksi kepemimpinan muncul dalam tahap yang lebih serius di dalam persaingan multi partai. Persaingan diantara mereka yang saling berjuang untuk mempengaruhi tindakan politik membuktikan adanya keuntungan politik yang mungkin didapatkan oleh mereka yang bertindak cepat dari lawan-lawannya.Pencalonan para kandidat dalam rangka legitimasi sebagai pejabat, kemudian menjadi fungsi terpenting dari partai politik dewasa ini. Seleksi kepemimpinan ini dimaksudkan untuk mendapat kepercayaan dari masyarakat karena persaingan di dalam sistem multipartai mendorong setiap partai untuk memvisualisasikan tindakan dengan menggunakan janji-janji tertentu, peringatan-peringatan, serta segala kemungkinan yang bakal terjadi dalam situasi sejarah yang konkret, dalam memvisualisasi tindakan partisipasi pemilih secara langsung amat diharapkan. Biasanya seleksi kepemimpinan partai politik digunakan sebagai strategi transformasi kepemimpinan pada masa kampanye.Transformasi kepemimpinan adalah suatu perubahan dan perpindahan bentuk dari kepemimpinan yang belum mengedepankan visi dan menginspirasi kepada kepemimpinan yang lebih mengedepankan visi dan menginspirasi para anggotanya.

Transformasi kepemimpinan hendaknya bukan hanya memindahkan “kursi” kekuasaan dari satu pemimpin ke pemimpin lainnya tetapi disertai dengan perubahan atau perpindahan bentuk dari ideologi pemimpin sebelumnya dan disempurnakan dengan bentuk ideologi pemimpin yang baru. Transformasi kepemimpinan ini tidak serta merta harus sama / mirip dengan pemimpin sebelumnya tetapi seorang pemimpin tetap harus memiliki karakter yang berbeda yang jauh lebih baik dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.Transformasi kepemimpinan menunjukan proses dari gaya kepemimpinan transformasional, dimana pemimpin transformasional mencoba untuk membangun kesadaran para bawahannya dengan menyerukan cita- cita yang besar dan moralitas yang tinggi seperti kejayaan, kebersamaan dan kemanusiaan. Transformasi identik dengan perubahan, karena sejatinya transformasi adalah sebuah bentuk perpindahan menuju sistem. Lebih lanjut, kepemimpinan transformasional lebih mengandalkan pertemuan visi kedepan yang dibangun berdasarkan konsesus bersama antara pemimpin dan anggota. Oleh karena itu pemimpin tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang bertugas untuk memberikan visi gerakan dan kemudian mendiseminasikan kepada anggotanya; pemimpin justru menjadi interpreter (penerjemah) visi bersama para anggotanya untuk di transformasikan dalam bentuk kerja nyata kolektif yang mutual. Menurut Burn, pemimpin bukan saja pemimpin yang memungkinkan terjadinya proses pertukaran dengan kemauan atau keinginan para pengikutnya, atau Pemimpin transaksional, apalagi bagi para pengikutnya yang baru belajar, tetapi dalam proses selanjutnya perlu pemimpin yang dapat mengangkat dan mengarahkan pengikutnya ke arah yang benar, ke arah moralitas dan motivasi yang lebih tinggi atau sering disebut sebagai Pemimpin Transformasional. James MacGregor Burns, dalam Leadership (pemenang Pulitzer Prize),” But transformational leadership ultimately becomes moral in that it raises the level of human conduct and ethical aspiration of both leader and the led, and thus it hasa transforming effect on both.”

Maksudnya adalah tetapi kepemimpinan transformasional akhirnya menjadi moral yang menaikkan tingkat perilaku manusia dan menjadi suatu aspirasi yang bersifat etis dari kedua pemimpin dan yang dipimpin, dan dengan demikian memiliki efek transformasi pada keduanya." Sehingga efek transformasi ini yang dilakukan oleh pemimpin akan langsung terasa kepada anggotanya. Jika diterjemahkan kedalam kampanye partai politik, bahwa transformasi pemimpin merupakan perubahan pemimpin yang akan dirasakan langsung oleh masyarakat, karena pada hakikatnya dimana pemimpin menganut gaya kepemimpinan transformasional disitu pula transformasi pemimpin terjadi.

 

PEMBAHASAN

 

Pemilu Kepala Daerah atau biasa disebut dengan Pilkada. Pilkada yang akan dibahas adalah pilkada di DKI Jakarta sebagai contoh seleksi kepemimpinan menggunakan strategi transformasi kepemimpinan.Telah banyak kita ketahui bahwa pasangan Joko Widodo–Ahok mendapatkan jumlah suara terbanyak 2.472.130 dari seluruh bagian wilayah di Jakarta. Politikus PDIP, Ganjar Pranowo, mengatakan, penunjukkannya sebagai cagub yang diusung partai berlambang banteng moncong putih itu sebagai bagian dari transformasi kepemimpinan dari Megawati Soekarnoputri

Keberhasilan mereka tak luput dari proses seleksi kepemimpinan yang dilakukan oleh Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarno Putri menggangap bahwa sosok Jokowi sebagai pemimpin yang dapat mewakili ideologi partai. Transformasi kepemimpinan yang dilakukannya merupakan bentuk strategi kampanye yang menunjukan kekuatan partainya. Kampanye sebagai sebuah arena memvisualisasikan visi misi partai kepada masyarakat luas agar partai tersebut terpilih, masyarakat diminta untuk menilai berbagai kecocokan sesuai dengan pribadinya untuk dapat di representasikan oleh pemimpinnya kelak. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah transformasi kepemimpinan yang dilakukan oleh Megawati telah masuk sesuai dengan transformasi kepemimpinan secara harfiah ataukah hanya propaganda. yang ditunjukan pada saat pemilu dengan begitu definisi transformasi kepemimpinan berbeda arti Strategi Kampanye Transformasi kepemimpinan semakin ramai ketika media massa seperti koran,televisi juga radio berperan mengiklankan kandidat dari partai–partai pada saat pilkada. Gaya kampanye pada pemilu dewasa ini merupakan gaya kampanye yang telah bertransformasi, dimana didalamnya terdapat sebuah trend yang mengarah pada “Amerikanisasi” dengan dua gejala yaitu pertama, kampanye berbiaya tinggi dan yang kedua permainan citra kandidat dimungkinkan karena pemakaian tekhnologi baru dalam kampanye serta pemakaian konsultan kampanye yang semakin ramai dibicarakan.Dalam komponennya permainan citra termasuk kedalam program penggiatan kampanye dimana citra pemimpin di poles dengan memunculkan pemimpin yang baru yang dinilai telah berhasil sebelumnya. Contoh dari Jokowi adalah transformasi kepemimpinan yang dimainkan oleh Megawati, dimana Megawati mengusung Jokowi sebagai Walikota yang sempat berhasil di Solo dan diharapkan dapat berhasil di Jakarta. Perubahan pemimpin dari Sutiyoso menjadi Jokowi tentunya dinilai oleh masyarakat sebuah gebrakan baru. Karya Klasik Lasswell, Propaganda Technique in the World war (1927) mendefinisikan Propaganda semata merujuk pada control opini dengan symbol-simbol penting, atau berbicara secara lebih konkret dan kurang akurat melalui cerita, rumor, berita, gambar, atau bentuk-bentuk komunikasi social lainnya. (Seperti yang dikutip oleh Werner J. Severin–Jamesa W Tankard ,Jr. Teori Komunikasi, dalam Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, Terapan di Dalam Media Massa. Hal.128). Jokowi bukan orang Betawi Asli. Hal ini tidak mematahkan semangat rakyat DKI Jakarta untuk memilih Jokowi karena yang dilihat adalah kemampuannya bukan dimana ia dilahirkan. Pada saat kampanye pernyataan Ganjar bahwa Megawati melakukan transformasi kepemimpinan terlihat benar adanya karena pada saat itu Megawati menjadi pengusung Jokowi. Komunikasi politik menjadi kental adanya ketika seorang politikus berbicara didepan media yang digunakan sebagai salah satu media kampanye. Penulis berpendapat bahwa transformasi kepemimpinan tidak bisa diartikan hanya sebagai perpindahan visi dan misi dari Megawati ke Jokowi saja dan tidak bersifat pencitraan.

Jokowi berusaha memindahkan keberhasilan Kota Solo ke Jakarta. Seorang pemimpin yang memiliki visi: Jakarta Baru, kota modern yang tertata rapi, menjadi tempat hunian yang layak dan manusiawi, memiliki masyarakat yang berkebudayaan, dan dengan pemerintahan yang berorientasi pada pelayanan publik, ini memiliki keterikatan terhadap tanggung jawabnya sebagai Gubernur meskipun Jakarta bukan tempat kelahirannya. Hal ini memperlihatkan bahwa pergerakan yang nyata dengan melakukan perubahan ditunjukannya dalam kurun waktu 1 tahun menjabat sebagai Gubernur dinilai sama dengan kinerja pemerintah sebelumnya dalam kurun waktu yang lebih lama. Pergerakan tersebut mendapat respon yang positif dengan munculnya fenomena baru dalam kancah politik nasional. Fenomena itu disebut sebagai fenomena Jokowi (Joko Widodo).

 

KESIMPULAN

 

Transformasi kepemimpinan yang dilakukan oleh Jokowi untuk Jakarta telah mengantarkan masyarakat Jakarta untuk mendapatkan pendidikan politik dengan mudah. Sehingga transformasi kepemimpinan dapat dikatakan sebagai wujud dari strategi kampanye yang berhasil. Keberhasilan ini dapat dilihat sejauh mana masyarakat percaya kepada pemimpin /kandidat pemilu di pemilu yang akan datang. Transformasi kepemimpinan merupakan salah satu langkah mewujudkan gaya kepemimpinan transformanasional. Transformasi kepemimpinan merupakan strategi partai politik. Kualitas dari transformasi kepemimpinan akan muncul dari diri sendiri bukan dari partai politik. Transformasi kepemimpinan menjadi strategi kampanye ketika komunikasi politiknya baik menjadi ketertarikan tersendiri bagi pemilih.

 

Strategi transformasi kepemimpinan mengantarkan pemimpin mewujudkan kesuksesan dalam mentransformasikan pendidikan politik kepada masyarakat. Pada dasarnya transformasi kepemimpinan akan menjadi sesuatu yang brilian untuk mengantarkan masyarakat Indonesia menuju masyarakat madani yang lebih baik ketika di dalamnya masih mengusung/ mengedapankan visi dan misi yang lebih baik dari sebelumnya dan mewujudkannya dengan menyelenggarakan pelayanan publik yang prima.

 

 DAFTAR PUSTAKA

 

  • Agus Purwanto, Erwan dan Agus Pramusinto (editor), 2009.Reformasi Birokrasi, Kepemimpinan dan Pelayanan Publik, Penerbit Kerjsama antara Gava Media-JIAN UGM dan MAP UGM, Yogyakarta.
  • Ambarita, Domu, dkk., 2012.Jokowi, Spirit Bantaran Kali Anyar, Penerbit PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.Elsabrina, 2013.
  • Leadership Ala Jokowi, Penerbit Cemerlang Penerbit Publishing, Yogyakarta.Endah, Alberthiene, 2012.
  • Jokowi Memimpin Kota Menyentuh Jakarta, Penerbit Metagraf, Solo.
  • Khairul Muluk, MR., 2007.
  • Menggugat Partisipasi Publik dalam Pemerintahan Daerah: Sebuah Kajian dengan Pendekatan Berfikir Sistem,Penerbit Kerjasama Bayumedia Publising dengan Lembaga Penerbitan dan Dokumentasi FIA UNIBRAW, Malang.
  • Said, Ms’ud (editor), 2007.Kepemimpinan, Pengembangan Organisasi, Team Building dan Perilaku Inovatif, Penerbit UIN Press, Malang.
  • Sedarmayanti, 2009 Reformasi Administrasi Publik, Reformasi Birokrasi, dan Kepemimpinan Masa Depan,Penerbit Refika Aditama, Bandung.
  • Thoha, Miftah, 1998.Perilaku Organisasi, Konsep Dasar dan Aplikasinya,Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
  • Thoha, Miftah, 2001.Kepemimpinan dalam Manajemen, Penerbit Raja Grafindo Persada,Jakarta.
  • Warih Adiguna, Rangga, 2013.Jokowi Ahok, Duet Maut Pendobrak Wajah Kaku Birokrat dan Program

 

 

 

DITULIS OLEH :  RIVELINO,SSTP,MM

 (WIDYAISWARA AHLI MUDA BPSDM KEMENDAGRI)

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree