Has no content to show!

Dicari dan Ditemukan: Penceramah HAM dan Demokrasi dalam Islam

04 June 2013
Pimpinan KAS Indonesia dan Timor Leste, Dr. Jan Woischnik (kiri), bersama dengan Irfan Abubakar (Direktur organisasi mitra KAS, CSRC, tengah) dan Gus Solah (juga dari CSRC) dalam acara pembukaan workshop alumni pertama untuk guru pesantren di Bogor.

Dari tanggal 20 hingga 24 Mei yang lalu, 24 guru pesantren dari seluruh Indonesia mengambil bagian dalam workshop alumni yang pertama. Dalam bulan-bulan mendatang para peserta ini akan dilatih menjadi multiplikator atau pengganda gagasan demokrasi dan HAM – keberhasilan awal sudah mulai tampak.

Sudah sejak tahun 2009, KAS Indonesia bekerjasama dengan Center for Study of Religion and Culture dari Universitas Islam Negeri (UIN) menyelenggarakan pelatihan bertemakan HAM, demokrasi, toleransi serta pendamaian konflik agama dan suku di seluruh propinsi di Indonesia. Target peserta pelatihan-pelatihan ini ialah para guru pesantren.

Efek Multiplikator atau Pengganda Gagasan Sebagai Tujuan

Para alumni potensial dari pelatihan-pelatihan sebelumnya telah diundang menghadiri pelatihan lanjutan di Bogor, Jawa Barat untuk memperdalam pengetahuan mereka seputar HAM, demokrasi dan toleransi. Dalam beberapa bulan terakhir, KAS Indonesia bersama dengan organisasi Mitranya, CSRC, telah mengembangkan konsep pelatihan berkelanjutan bagi para guru pesantren. Melalui program pelatihan guru ini, diharapkan dapat terwujud efek multiplikator atau pengganda gagasan, sehingga topik-topik seputar demokrasi, toleransi serta HAM dapat semakin diterima diantara kaum Muslim di Indonesia.

Indonesia yang Terdiri dari Beribu-ribu Pulau, Kaya Akan Contoh Kasus

Analisa akan situasi penjaminan serta pelaksanaan HAM serta toleransi di Indonesia menjadi titik berat pembahasan dalam workshop ini. Melalui contoh-contoh kasus yang aktual para peserta mempelajari peraturan serta perundang-undangan, menganalisa kemungkinan penerapannya serta mendiskusikan potensi kelemahan yang ada. Hal lain yang menjadi fokus ialah strategi-strategi pencegahan untuk menghindari perilaku dan perbuatan yang membahayakan HAM dan toleransi. Penjabaran yang rinci mengenai hal ini tidak hanya diberikan oleh tim pelatih ternama yang beranggotakan Irfan Abubakar, Direktur organisas mitra KAS CSRC, namun juga oleh para pekerja NGO. Junaidi Siimun dari organisasi HAM IMPARSIAL serta aktifis HAM ternama Usman Hamid juga menjadi pembicara dalam workshop ini.

Kunjungan ke Komnas HAM Menunjukkan Keberhasilan Awal dari Program Ini

Salah satu puncak kegiatan program alumni selama empat hari ini ialah kunjungan ke kantor Komnas HAM. Organisasi yang dipercayakan untuk melindungi serta mendukung penegakan HAM ini telah menjadi „tokoh“ yang memegang peranan penting dalam struktur masyarakat dan politik di Indonesia. Para guru pesantren yang hadir dalam kunjungan ini mengajukan banyak pertanyaan kepada Muhammad Nurkhoiron, salah satu anggota Komnas HAM, yang menyambut dan berdiskusi dengan para peserta mengenai tugas serta tantangan Komnas HAM. Dalam diskusi ini menjadi jelas bahwa konsep program alumni ini, baik dari segi materi maupun metode, telah membuahkan hasil pada pelaksanaan pertamanya. Dengan penuh dedikasi dan keyakinan serta pengetahuan yang mendalam, para peserta workshop meminta dengan sangat agar Komnas HAM dapat memegang peranan yang lebih besar lagi dalam memerangi pelanggaran HAM di Indonesia.

sumber: kas

 

 

 

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree