Sebanyak 30 pengasuh pesantren itu berkumpul menyatukan pandangan, bertekad bulat, dan menyusun langkah dalam lokakarya yang digelar Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Jerman dan Uni Eropa, Rabu (7/6), di Jakarta.

 

Para pengasuh pesantren mayoritas kiai dan guru muda yang, selain belajar kitab di pesantren, juga mengenyam pendidikan di sekolah umum. Dari sejumlah usulan yang mereka kemukakan, tampak pikiran yang terbuka dan mendukung kemajemukan.

Direktur CSRC UIN Jakarta Irfan Abubakar mengatakan, lokakarya pesantren se-Jawa dan Madura ini untuk memperkuat dakwah Islam rahmat bagi semesta alam. Ia menyampaikan hasil konferensi internasional bersama seratusan tokoh lintas agama dari empat benua (kecuali Amerika Serikat) di Jerman beberapa waktu lalu, yang bertepatan dengan bom di Manchester, Inggris. Para tokoh itu berkomitmen mencegah berkembangnya ekstremisme atas nama agama.

Direktur KAS untuk Indonesia dan Timor Lester Jan Senkyr mengatakan, KAS bekerja sama dengan CSRC selama 15 tahun, termasuk untuk program “Pesantren for Peace” yang berjalan sejak tahun 2014. Program ini penting karena pesantren berperan strategis menyuarakan Islam yang menjunjung perdamaian, toleransi, dan menolak konflik.

Guru Besar Sejarah UIN Jakarta Azyumardi Azra menyampaikan pemikiran terkait dinamika pendidikan pesantren sebagai pendidikan Islam wasathiyyah atau jalan tengah. Tantangan pesantren moderat di antaranya datang dari pesantren salafi yang menganut paham dan praksis yang menekankan “Islam murni”, yang tidak berkompromi dengan keindonesiaan semacam penghormatan pada bendera Merah Putih dan lagu “Indonesia Raya”.

Tantangan lain adalah perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam pesantren. Ini disampaikan juga oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti. Pesantren berkembang dari yang semula mayoritas berada di pedesaan menjadi pesantren urban yang diisi kelas menengah kota dengan fasilitas jauh lebih baik. Pesantren pun berkelas-kelas. Hal ini perlu disadari agar inklusivitas pesantren serta nilai-nilai kemandirian dan kerendah-hatian yang ditanamkan itu tidak berubah. (IVV)