Has no content to show!

Lia Cgs

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer- Stiftung (KAS) mengadakan Uji Coba (Try Out) Training “Penguatan Peran Pesantren dalam Promosi HAM Melalui Kontra Narasi Ekstremis” di Hotel Grand Wahid Salatiga selama tiga hari, 28-30 November 2017.

Program ini melibatkan 15 ustadz/ustadzah untuk menjadi trainer dan fasilitator yang sudah dilatih dalam acara preliminary workshop sebelumnya. Sejalan dengan tujuannya, Preliminary Workshop tersebut telah berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan Ustadz/Ustadzah pesantren dalam menyusun dan melakukan Kontra Narasi Ekstremis dan propaganda ekstremis lainnya baik melalui khutbah, ceramah maupun di media online. Disamping itu, ustadz/ustadzah juga dibekali materi advance tentang HAM dan relasinya dengan Islam. Hal penting lain yang dicapai adalah ustadz/ustadzah memiliki keterampilan dan siap menjadi pembicara/trainer materi tentang Narasi Ekstremis, Kontra Narasi Ekstremis dan propaganda ekstremis lainnya melalui khutbah, ceramah maupun di media online, khususnya di kegiatan Try out Training ini dalam rangka persiapan untuk program lanjutan di tahun 2018 nanti.

Peserta yang terlibat dalam Try Out Training ini yaitu 25 ustadz/ustadzah muda pesantren yang terdiri dari 12 orang peserta terbaik Capacity Training dan Field Trip dan 13 orang terdiri dari peserta baru baik dari pesantren yang pernah atau belum pernah terlibat kegiatan PfP sebelumnya.

Pembukaan dilaksanakan selasa (28/11) pukul 14.00 WIB. Sambutan pertama diisi oleh Pimpinan Pondok Pesantren Edi Mancoro, Muhamad Hanif, dalam hal ini menjadi Mitra Lokal Pesantren for Peace untuk wilayah Salatiga, dilanjut oleh Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay, dan Terakhir Sambutan dari Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar, sekaligus membuka acara Try Out Training ini secara resmi.

Acara berlanjut sampai pukul 22:00 Malam disela waktu itu peserta shalat dan makan malam, Selama 3 hari jadwal sama tidak berubah. Suasana yang dirasa para peserta sangat nyaman, dan memotivasi serta saling silaturahmi antar peserta dan didorong aktif untuk berdiskusi.

Try Out Training ini sangat menarik sekali, karena berhasil mengkombinasikan dua pendekatan, yaitu sesi penyampaian materi yang disampaikan oleh 15 trainer/fasilitator dari ustadz/ustadzah yang sudah dilatih dalam preliminary workshop di Malang, serta sesi diskusi kelompok untuk menyusun Kontra Narasi Ekstremis dan Kontra Propaganda Ekstremis Lainnya Melalui Khutbah, Ceramah dan di media online. Di akhir sesi, perwakilan peserta diskusi kelompok mempraktikkan penyampaian khutbah dan ceramah kontra narasi ekstremis.

kesan yang didapat dari para peserta ialah salah seorang peserta, Najih Fikriyah mengungkapkan “Acaranya bagus, di season ini kita dibawa untuk bisa berperan di media tulis terutama dedia online, baik itu facebook, tweeter, dan lain sebagainya. Kita belajar untuk menyampaikan ilmu-ilmu yang disampaikan para trainer dalam bentuk narasi yang menarik sehingga mampu meng-Counter narasi ekstremis yang berkembang”.

Najih menambahkan, acara ini sangat bermanfaat khususnya di Solo yang dikenal sebagai kota Radikal, meskipun multikultural, tapi di sana sarangnya kelompok ekstremis juga, yang sangat aktif berdakwah di medsos, baik artikel, meme, dan anjuran-anjuran lainnya yang bernada ekstreme. Dari training ini, saya terinspirasi untuk menerapkannya di pondok, baik dalam bentuk pelatihan penulisan dan kegiatan lain yang sifatnya meng-Counter narasi-narasi ekstreme.

Harapannya, semoga dengan di adakan nya Try Out Training ini menjadikan para Trainer dan peserta dapat mengamalkan ilmu sebaik-baiknya, khususnya di bidang kontra narasi ekstremis. [LH]

 

 
Oleh: Muhammad Afthon Lubbi
 
 
Alkisah, seorang petani miskin di suatu desa kecil kehilangan satu-satunya kuda jantan kesayangan yang ia gunakan untuk membantu menggarap sawah miliknya. Dengan keadaan seperti itu, banyak pekerjaannya yang terhambat.
 
Para tetangga banyak yang iba atas musibah tersebut. Namun, tidak sedikit pula yang mencibir dan 'nyinyir', menganggap bahwa petani tersebut mendapatkan kesialan.
 
Alih-alih tidak menanggapi komentar-komentar negatif tersebut, Pak Tani tetap terus melanjutkan pekerjaannya menggarap sawah. Ia hanya berpikir bahwa kehilangan tersebut mungkin saja sebuah kesialan atau juga bukan.
 
Selang beberapa hari, kuda kesayangannya kembali dari hutan dengan membawa kuda betina. Betapa bahagianya Pak Tani, selain mendapatkan kuda tambahan, ada kemungkinan kedua pasangan kuda tersebut akan beranak pinak menjadi banyak.
 
Beberapa bulan kemudian, petani miskin tertimpa musibah lagi. Anak laki-laki semata wayangnya jatuh dari kuda dan mengalami patah tulang kaki. Lagi-lagi, tetangganya berkomentar dengan nada sinis. Meski ada beberapa yang iba atas musibah tersebut.
 
Di saat kemalangan yang menimpa Pak Tani, tersiar berita dari Kerajaan bahwa setiap rakyat yang memiliki anak laki-laki wajib mengirimkannya untuk ikut perang. Alangkah bersyukurnya Pak Tani, ia tidak berpisah dengan anak kesayangannya karena tidak wajib mengirimkan putranya sebab patah tulang kaki. 
 
Para tetangga mulai berubah pandangan, bahwa di setiap musibah yang menimpa Pak Tani, selalu ada hikmah yang mengikuti. Sejak saat itu, penduduk desa tersebut membiasakan selalu bersabar dan bersyukur atas segala kemalangan yang menimpa.
 
Kira-kira begitulah kekuatan "positive thinking", tidak hanya membuat orang menjadi kuat dan sabar, tapi juga menghadirkan kebaikan-kebaikan bagi dirinya dan orang di sekitarnya. Bertolak belakang dengan "negative thinking", membuat orang selalu memandang buruk segala hal. Tidak hanya musibah, suatu kebaikan pun seringkali dilihat sisi negatifnya.
 
"Saya kesel deh sama bawahan saya, kerjanya selalu lambam". "Wuhh! Hujan lagi! Ngeselin!!". "Gurunya ngasih PR mulu, bete!!". Demikian contoh kalimat manusia dalam menghadapi realita sehari-hari dengan sikap yang negatif. 
 
Sebenarnya, dalam realita yang sama, dengan kacamata 'Pak Tani' di atas, kita bisa mengubah sikap dengan pandangan positif. "Alhamdulillah, bawahan saya bekerja dengan tekun,  membutuhkan waktu yang lama". "Hujan lagi, bisa kumpul dengan keluarga di rumah". "Banyak PR dari Pak Guru, ayo belajar bareng sambil bikin rujak".
 
Dalam tahap tertentu, pandangan negatif kita sehari-hari akan membawa kita kepada gangguan psikologis. Bahkan dalam level yang lebih tinggi, sikap negatif bisa menghadirkan kebencian kepada hal-hal yang tidak sesuai dengan hasrat dan harapan.
 
"Ekonomi sulit, korupsi semakin merajalela, kejahatan dimana-mana, Indonesia akan hancur!  Ganti Presiden! Ganti Demokrasi!!". "Musibah dimana-mana.  Salah SBY! Salah Jokowi!". Kalimat-kalimat demikian biasanya disampaikan dengan emosi negatif tanpa kemampuan analisa yang baik.
 
Sebenarnya kalimat-kalimat di atas bisa diubah dengan kalimat positif. Misal, "Ekonomi sulit, korupsi semakin merajalela, kejahatan dimana-mana, Presiden harus lebih kuat dan bekerja keras!  Demokrasi harus menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat!". "Musibah dimana-mana, mari bersinergi dan bekerjasama membangun Bangsa!".
 
Kalimat negatif yang diulang berkali-kali tidak hanya akan membentuk pribadi yang negatif, tapi juga bisa menyerang syaraf otak untuk berpikir. Dalam bahasa psikologi disebut "Neuro-Linguistic". Maka untuk menyembuhkan gangguan psikologis ini, para ahli psikologi membuat "obat penawar" yang disebut "Reframing". Yaitu salah satu tools NLP (Neuro-Linguistic Programming) yang digunakan untuk mengubah emosi negatif menjadi positif dengan mengubah sudut pandang. Seperti cara pandang "Pak Tani" di atas, yang selalu 'positive thinking'.
 
Kemiskinan dan keterpurukan umat Islam adalah masalah bagi masyarakat umum. Tidak hanya dalam umat Islam terdapat kemiskinan, umat agama lain juga terdapat kemiskinan dan keterpurukan. Maka perlu pemberdayaan ekonomi yang dilakukan bersama-sama. Perlu program dan kebijakan pemerintah yang baik. Perlu pemerataan ekonomi.
 
Konflik dan keretakan Umat Islam adalah konflik sosial yang dihadapi semua kelompok manusia di muka bumi. Perlu dialog, rekonsiliasi, ishlah, dan negosiasi untuk persatuan umat. Bukan perang pendapat apalagi perang fisik yang tidak akan menyelesaikan masalah.
 
Korupsi, maksiat, dan segala jenis kejahatan semakin merajalela dianggap karena tidak menegakan hukum Allah, tidak mendirikan daulah Islamiyah, tidak menggunakan sistem khilafah dan menyalahkan sistem demokrasi yang dipilih para pendiri Bangsa sebagai sebuah konsensus bersama. Sistem demokrasi harus diganti total tanpa dialog, tanpa musyawarah, dan menafikan ijtihad para tokoh Islam yang juga mengerti betul tentang agama, KH. Agus Salim, KH. Wahid Hasyim, KH.  Abdul Kahar Muzakir, dll. Terlebih Bung Karno menyebutkan,  bahwa demokrasi kita bukanlah demokrasi ala Barat, tapi "Demokrasi Berketuhanan".
 
Khilafah, daulah Islamiyah, syariat Islam, dll. adalah konsep-konsep positif yang mengandung nilai-nilai kebaikan. Akan tetapi, tidak boleh dipaksakan dengan cara-cara yang negatif. Perlu dialog dan musyawarah secara kontinyu, agar konsep-konsep positif yang baik tersebut dapat mensejahterakan rakyat dengan seadil-adilnya. Dalam alam demokrasi, segala konsep kebaikan dapat diterima.
 
Cara pandang negatif terhadap demokrasi ini pula yang menimbulkan reaksi kekerasan, ekstremisme keagamaan. Segala hal yang berkaitan dengan demokrasi dikaitkan dengan kekafiran. Dan para pendukung demokrasi digolongkan sebagai penyembah toghut, berhala selain Tuhan Allah.
 
Pemahaman seperti  ini pernah dialami Ali Fauzi, adik kandung dari Ali Mukhlas dan Amrozi, pelaku Bom Bali jilid I. Ali  Fauzi memulai karirnya menjadi kombatan sejak 1991 dengan bergabung bersama daulah Islamiah di Malaysia, dan baiat kepada Jamaah Islamiah di Indonesia pada 2004.
 
Karirnya terhenti setelah tertangkap Polisi Filipina pada 2007. Ia dibawa pulang oleh Kombes Tito Karnavian (sekarang Kapolri)  dan dirawat hingga sembuh dari luka-luka. Ali Fauzi terheran-heran, orang yang selama ini ia anggap sebagai thogut dan kafir, justru malah menolong dan merawatnya. Bahkan diberi modal untuk berwirausaha. Kini Ali Fauzi mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian dan menjadi mitra BNPT dalam program deradikalisasi.
 
Kisah Ali Fauzi di atas menunjukkan bahwa kebencian hanya bisa dipadamkan dengan cinta dan kasih sayang. Sikap dan pandangan negatif hanya bisa diubah dengan menyikapi hal-hal kecil hingga besar dengan kacamata kebaikan.
 
Syaikh Mutawalli As-Sya'rawi pernah berdialog dengan seorang pemuda berhaluan keras dan suka mengkafirkan. Beliau bertanya, "Apakah mengebom sebuah klub malam di Negara muslim itu halal atau haram?", pemuda itu menjawab, "Tentu saja halal, membunuh mereka boleh".
 
Beliau bertanya lagi, "Jika seandainya engkau membunuh mereka, sedangkan mereka bermaksiat kepada Allah, kemana mereka akan ditempatkan?" Dengan yakin pemuda itu menjawab, "Tentu di neraka.", "Kemana pula setan menjerumuskan manusia?", Beliau bertanya lagi. "Tentu saja ke neraka. Mustahil setan membawa manusia ke surga.", jawab pemuda. 
 
"Jika demikian, engkau dan setan memiliki tujuan yang sama, yaitu mengantarkan manusia ke dalam neraka." Beliau lalu menyebutkan sebuah kisah dimana ketika ada mayat seorang Yahudi lewat di hadapan Rasulullah SAW., beliau lalu menangis. Para sahabat bertanya mengapa beliau menangis.  Beliau menjawab, "Telah lolos dariku satu jiwa dan ia masuk ke dalam neraka."
 
"Perhatikan perbedaan kalian dengan Rasulullah yang berusaha memberi petunjuk dan menjauhkan mereka dari neraka. Kalian berada di satu lembah, sedangkan Rasulullah berada di lembah lain." Pemuda itu hanya diam membisu mendengarnya.
 
Tempo hari, mantan Presiden Afghanistan yang sekarang menjabat Ketua High Peace Council (HCP), Muhammad Karim Khalili berkunjung ke Indonesia. Atas arahan presiden Joko Widodo, Pesantren Darunnajah Jakarta ditunjuk untuk menerima rombongan delegasi HCP.
 
Dalam pidatonya, Muhammad Karim berkeinginan Pemerintah Indonesia untuk mendirikan pesantren di Kabul. Ia menyampaikan bahwa Afghanistan lelah dengan konflik dan perang antar kelompok agama. Indonesia dengan ratusan perbedaan suku,  etnis, dan agama, mampu bertahan menjadi Negara yang damai. Sedangkan Afghanistan yang hanya memiliki beberapa suku dan perbedaan agama belum mampu mengatasi konflik dan perpecahan. 
 
Artinya, kita harus ber-positive thinking dan percaya diri bahwa dengan sistem demokrasi, Indonesia akan menjadi Negara yang besar bangsanya, maju negaranya, dan kuat ukhuwah umatnya dalam menghadapi ekstremisme, terorisme, dan radikalisme.

Dibutuhkan Staff Keuangan

Csrc.or.id -  Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan dukungan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan United Nation Development Programme (UNDP) akan mengadakan program penelitian dengan topik Research on Muslim Youths: Attitudes and Behaviors on Violence and Extremism. Program ini dikerjakan dalam rentang waktu Agustus 2017 – Januari 2018. 

Penelitian ini bersifat kualitatif terapan (applied qualitative research) dan menggunakan pendekatan interpretive phenomenology (IP). Dengan pendekatan ini penelitian bertujuan untuk memahami, menganalisis, dan mengeksplorasi bagaimana dan mengapa pemuda Muslim menerima atau sebaliknya menolak ideologi radikal dan ekstremis bernuansakan kekerasan dalam tiga konteks. Pertama, menguatnya penyebaran narasi ideologi radikal dan ekstrimis di kalangan anak-anak muda Muslim; Kedua, interaksi sosial mereka dengan lingkungan keluarga, pertemanan, lembaga pendidikan, organisasi di sekolah, kampus, dan perkumpulan kepemudaan, serta ormas-ormas keislaman dengan ragam spektrum ideologi politiknya; Ketiga, perkembangan sosial politik khususnya terkait kebijakan pemerintah dalam penanggulangan radikalisme dan terorisme. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan yang bermanfaat bagi pengambil kebijakan dalam meningkatkan efektifitas pencegahan dan penanggulangan Radikalisme dan Ektsremisme yang bernuansakan kekerasan.

Dalam mengawali program penelitian ini dan guna memastikan kualitas proses penelitian dan hasilnya, sebelum pelaksanaan penelitian lapangan dimulai, CSRC UIN Jakarta telah mengadakan Workshop Pengembangan Instrumen Penelitian pada 6-8 September 2017 dengan melibatkan konsultan penelitian, manajemen penelitian dan peserta aktif lainnya. Dari workshop tersebut telah dihasilkan sejumlah draft instrumen penelitian terkait struktur dan tema wawancara mendalam (in-dept interview), struktur dan tema Focus Group Discussion (FGD), draft rencana Laporan Penelitian Lokal (per Daerah) dan Draft Rencana Laporan Penelitan Nasional.

Salah satu hasil penelitian yang menempatkan pemuda dan usia muda sebagai sumber perilaku radikal dan ekstremis dilakukan Noorhaidi Hasan (2015). Dalam penelitian tersebut, disebutkan bahwa di masa transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa, generasi muda mudah mengalami krisis akibat perubahan sosial yang cepat, modernisasi, dan globalisasi (Hasan, 2015). Sebenarnya banyak anak muda menikmati dampak arus modernisasi dan globalisasi, seperti tersebarnya teknologi komputer dan internet secara luas, semaraknya industri model, musik, cinema dan lifestyle yang membuat bakat mereka berkembang sehingga menjadi lebih percaya diri. Akan tetapi itu semua tidak sepenuhnya bisa membuat mereka bahagia.  Demikian pula, di tengah arus modernisasi dan globalisasi, yang bertumpu pada pasar bebas, kompetisi yang lebih intensif, dan akselarasi jaringan teknologi dan ilmu pengetahuan, anak muda dihadapkan pada tantangan besar, terutama mengenai bagaimana mengatasi ketidakpastian masa depannya (Hasan, 2015). Ini seringkali berdampak negatif bagi mereka, khususnya dalam mempersiapkan masa depan yang lebih sejahtera dan mandiri. Terlebih lagi dengan globalisasi, dimana sumberdaya material terkonsentrasi di sebagian kecil pemilik modal. Masyarakat menjadi terpecah-pecah secara berkelompok. Mereka mengalami krisis serta goncangan akibat kepemilikan/distribusi sumberdaya material yang tidak sama, khususnya antara orang-orang yang hidup dalam kelas-kelas sosial yang berbeda-beda. Akibatnya, pemuda bisa terus-menerus hidup dalam ketidakpastian dan ketegangan (Hasan, 2015; White and Whyne, 2005). Dalam situasi seperti itu mereka mudah sekali terpengaruh dengan ajakan-ajakan radikalisme dan ekstremisme sebagai pelipur lara. 

Faktor lain adalah bahwa kecenderungan perilaku radikal dan Ekstremisme pemuda bukan semata-mata disebabkan oleh unsur kepemudaan itu, melainkan ia berjalin kelindan dengan faktor sosial ekonomi yang melingkupinya. Sebuah hasil penelitian menyebutkan, anak muda yang suka mengikuti gaya hidup kelas menengah yang modis dan lebih sejahtera, terkadang tidak sanggup wemujudkan apa yang mereka inginkan, karena faktor ekonomi. Mereka sadar bahwa kondisi ekonomi/keuangan keluarga yang kurang baik merupakan hambatan dalam meraih cita-cita mereka. Sebagian generasi muda kelas ekonomi rendah, mengakui bahwa hambatan material-struktural adalah sebab gagalnya mewujudkan mimpi-mimpi mereka (Pam Nilana, Loynette Parkerb, Linda Bennettc dan Kathryn Robinsond, 2011). Akibatnya, mereka berpaling ke agama, dengan resiko menjadi sasaran rekruitmen kelompok radikal. Kondisi ini dimungkinkan karena terdapat porsi cukup besar anggota ormas Islam radikal, semisal FPI, HTI, Laskar Jihad, MMI, dst, yang berasal dari kalangan miskin kota dan desa. Karena kalah bersaing, mereka tidak terserap pasar lapangan kerja yang kompleks itu. Akibatnya, mereka hanya bisa diserap di sektor ekonomi informal secara terbatas, dan karenanya, mimpi-mimpi kesejahteraan menjadi jauh dari kenyataan. Lebih banyak menganggur, membuat anak muda teralienasi serta hilang harapan akan masa depannya. Dalam situasi ini seringkali ormas-ormas radikal seperti FPI, laskar Jihad, HTI, JAT, menjadi tempat yang pas bagi anak-anak muda, dengan status baru sebagai laskar, untuk mengatasi alienasi dan frustrasi sosial yang mereka alami (Bamualim dkk, 2002).  

Aktif di ormas Islam radikal menyebabkan para laskar muda kembali mendapatkan kepercayaan masyarakat dan keluarga. Posisi sosial mereka pun terkoreksi, setidaknya di lingkungan kelompok-kelompok Islam yang konservatif. Contohnya, sebagian laskar yang dulunya tidak taat beragama, menjadi lebih taat setelah menjadi laskar, sebagai cara menunjukkan loyalitas pada ormas dan komunitas baru. Di ormas baru ini, kebanyakan anggota laskar, yang dulunya berprofesi sebagai anggota preman, menjadikan pengalaman baru ini sebagai kesempatan pertobatan dan penyucian diri (Bamualim dkk, 2002). 

Tapi perlu diingat bahwa, seperti disebut di atas, Radikalisme bukan hanya tumbuh di lingkungan orang-orang miskin dan marjinal, tetapi juga di lingkungan orang-orang terdidik dan berada, yang berkampus di perguruan tinggi sekuler terkemuka. Dalam konteks ini, radikalisasi biasanya bermula dari upaya konstruksi identitas yang eksklusif dengan mempertahankan ketekunan/ketaatan dan rutinitas agama. Generasi muda yang berasal dari desa dan berpindah ke kota, tidak ingin tercerabut dari akar budayanya dan nilai-nilai moral agamanya (Hefner, 2001). Karenanya, meski aktif kuliah, mereka tetap menunaikan rukun Islam, terutama sholat fardhu di ruangruang kosong di kampus yang dimungkinkan untuk beribadah, karena tidak tersedianya masjid/musholla. Sadar bahwa aksi-aksi individual semacam itu tidak cukup menarik perhatian otoritas kampus, mereka kemudian menjadikan isu tersebut sebagai isu komunitas/kelompok, dengan argumen hak dan kebebasan beragama (religious freedom).  Dari sini lah aktivisme dakwah kampus muncul, namun dengan motif yang evolutif. Mulanya dakwah kampus bertujuan memperkuat ikatan-ikatan moral-kultural, namun dalam perkembangan selanjutnya, dakwah kampus berubah menjadi aksi mempertahankan identitas, serta mengandalkan aktivisme berbasis perjuangan kelompok dan ideologis.  

Dalam kaitan ini, faktor ideologis dengan sendirinya menjadi aspek lain yang perlu dijelaskan juga. Secara simultan, proses identifikasi diri para anak muda Muslim berhadapan dengan gejolak urbanisasi ketika menjalani hidup sebagai mahasiswa di perguruan tinggi juga muncul, tergantung konteks dan tujuan aktivisme keagamaan mereka.  Karena gairah aktivisme keagamaan berjalan secara linier dengan setting sosial-politik nasional dan global, sejak tahun 1980an-1990an, aktivisme dakwah kampus mulai bergumul dengan berbagai corak pemikiran dan ideologi agama, dari Modernisme, neo Modernisme, Radikalisme, Fundamentalisme, Salafisme hingga Ekstremisme ala NII (Rosyad, 2007; Bamualim, 2015).  

Semua kecenderungan baru anak-anak muda Muslim terpelajar ini memfasilitasi berkembangnya dakwah kampus yang Islamis dan eksklusif, yang diantaranya disebabkan oleh memudarnya loyalitas mahasiswa terhadap ideologi-ideologi lain termasuk ideologi Negara, yang melarang agama di ruang publik serta membatasi kehadirannya hanya di ruang-ruang privat. Dalam mekanisme pertautan pemuda dan ideologi inilah, dakwah kampus manjadi tempat menarik bagi mahasiswa-mahasiswa yang merasa teralienasi dari kehiduan publik yang lebih luas dan dari agenda rezim mempertahankan status quo.

Csrc.or.id – Puslitbangpenda Kementerian Agama RI bekerja sama dengan CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Seminar bertemakan “Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Agama dan Keagamaandalam Perspektif Permendikbu No. 23 Tahun 2017”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu-Kamis (26-27/07), bertempat di The Grantage Hotel, BSD City, Tangerang Selatan.

Hadir dalam seminar ini Kepala Puslitbang Penda Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA beserta para narasumber kompeten di bidang pendidikan seperti Dr. H. Ahmad Zayadi (Direktur Pontren Kemenag RI), dan Dr. Thamrin Kasman, SE., M.Si (Sekretaris Dirjen Dikdasmen Kemendikbud), Ir. Hendarman, Ph.D (Kepala Pusat Penelitian dan Kebijakan Kemendikbud), Dr. Tjipto Sumadi, M.Pd., M.Si. (Dosen Pascasarjana UNJ), dan para narasumber kompeten lainnya.

Selain itu, hadir dalam seminar ini sedikitnya 75 perserta dari berbagai kalangan mulai dari peneliti, akademisi, guru agama, madrasah, pesantren, lembaga-lembaga pendidikan dan juga asosiasi guru dan madrasah.

Dalam sambutannya, Direktur CSRC, Irfan Abubakar, M.A. menjelaskan bahwa seminar ini dilatar belakangi oleh terbitnya  peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 atau lebih dikenal sebagai Full Day School (FDS) yang kemudian menjadi polemik di tengah masyarakat.

“Maka dari itu, sangat penting diadakannya forum dialog dengan berbagai pihak dalam rangka menguraikan konsep-konsep, gagasan, pemikiran, serta praktik program pendidikan karakter khususnya melalui pendidikan Agama dan Keagamaan dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2017 ”, jelas Irfan.

Dalam sambutan sekaligus membuka acara seminar ini secara resmi, Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA (Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan Kemenag RI) menyampaikan tentang Tugas utama Puslitbang, yaitu Penelitian dan Pengembangan. Penelitian ini meliputi pendidikan agama mulai tingkat TK sampai Perguruan Tinggi baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya pengembangan bisa bersumber dari hasil penelitian, baik melalui kegiatan yang bersifat seminar, workshop, FGD, dan lain-lain.

“Seminar ini termasuk agenda tentang isu-isu aktual dalam pendidikan agama dan keagamaan, lebih tepatnya isu kontroversial terhadap Permendikbud No. 23 Tahun 2017. Latar belakang seminar ini atas dasar kontroversi dari masyarakat yang muncul, maka Puslitbang Penda Kemenag RI merespons secepatnya. Puslitbang Penda mencari solusi substansif yang kita sampaikan kepada Menteri Agama atau mitra yang berkaitan. Selain itu latar belakang seminar ini terdapat pro dan kontra. Mereka yang pro terhadap Permendikbud no. 23/2017 ini setidaknya memiliki 10 alasan sedangkan yang kontra setidaknya mempunyai 20 argumen”, ungkap Amsal.

Sedikitnya ada 5 topik inti yang dibahas dalam seminar ini, diantaranya Kebijakan penguatan pendidikan karakter melalui pendidikan Agama dan Keagamaan yang disampaikan oleh Dr. H. Ahmad Zayadi (Direktur Pontren Kemenag RI) dan Dr. Thamrin Kasman, SE., M.Si (Sekretaris Dirjen Dikdasmen Kemendikbud); Urgensi Permendikbud No 23 Tahun 2017 dalam penguatan pendidikan karakter dengan pembicara Ir. Hendarman, Ph.D (Kepala Pusat Penelitian dan Kebijakan Kemendikbud) dan Dr. Tjipto Sumadi, M.Pd., M.Si. (Dosen Pascasarjana UNJ); Pengalaman empirik penguatan pendidikan karakter melalui pendidikan agama dan keagamaan dengan pembicara Dr. H. Muhammad Adlin Sila, Ph.D. (Balitbang Agama Jakarta), Husen Hasan Basri, M.Si (Puslitbang Penda Kemenag), Dr. Hayadin (Puslitbang Penda Kemenag), dan Dr. Farida Hanun (Puslitbang Penda Kemenag); Respon lembaga-lembaga pendidikan keagamaan terhadap FDS dengan Pembicara Drs. KH. Z. Arifin Junaidi, MBA (Ketua LP Maarif NU), Dr. Dien Wahid (PP Muhammadiyah), Dr Suwendi, M.Ag (DPP Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah / FKDT), dan H. Djamaluddin, M.Pd (Wakil Direktur Madrasa Pembangunan UIN Jakarta); serta Perumusan hasil seminar oleh Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA dan Sr. Cheder S. Bamualim.

Harapannya, melalui rekomendasi-rekomendasi yang dihasilkan dalam seminar ini dapat memberikan manfaat bagi terciptanya kebijakan pendidikan yang lebih mengedepankan penguatan nilai dan karakter peserta didik sehingga mampu menjadi pemimpin masa depan yang lebih  bertanggung jawab. [LH]

Keluarga Besar Center for the Study of Religion and Culture (CSRC)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri

1 Syawal 1438 H

Mohon Maaf Lahir Dan Bathin

Page 1 of 10
We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree