Has no content to show!

Lia Cgs

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Dibutuhkan Staff Keuangan

Csrc.or.id -  Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan dukungan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan United Nation Development Programme (UNDP) akan mengadakan program penelitian dengan topik Research on Muslim Youths: Attitudes and Behaviors on Violence and Extremism. Program ini dikerjakan dalam rentang waktu Agustus 2017 – Januari 2018. 

Penelitian ini bersifat kualitatif terapan (applied qualitative research) dan menggunakan pendekatan interpretive phenomenology (IP). Dengan pendekatan ini penelitian bertujuan untuk memahami, menganalisis, dan mengeksplorasi bagaimana dan mengapa pemuda Muslim menerima atau sebaliknya menolak ideologi radikal dan ekstremis bernuansakan kekerasan dalam tiga konteks. Pertama, menguatnya penyebaran narasi ideologi radikal dan ekstrimis di kalangan anak-anak muda Muslim; Kedua, interaksi sosial mereka dengan lingkungan keluarga, pertemanan, lembaga pendidikan, organisasi di sekolah, kampus, dan perkumpulan kepemudaan, serta ormas-ormas keislaman dengan ragam spektrum ideologi politiknya; Ketiga, perkembangan sosial politik khususnya terkait kebijakan pemerintah dalam penanggulangan radikalisme dan terorisme. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan yang bermanfaat bagi pengambil kebijakan dalam meningkatkan efektifitas pencegahan dan penanggulangan Radikalisme dan Ektsremisme yang bernuansakan kekerasan.

Dalam mengawali program penelitian ini dan guna memastikan kualitas proses penelitian dan hasilnya, sebelum pelaksanaan penelitian lapangan dimulai, CSRC UIN Jakarta telah mengadakan Workshop Pengembangan Instrumen Penelitian pada 6-8 September 2017 dengan melibatkan konsultan penelitian, manajemen penelitian dan peserta aktif lainnya. Dari workshop tersebut telah dihasilkan sejumlah draft instrumen penelitian terkait struktur dan tema wawancara mendalam (in-dept interview), struktur dan tema Focus Group Discussion (FGD), draft rencana Laporan Penelitian Lokal (per Daerah) dan Draft Rencana Laporan Penelitan Nasional.

Salah satu hasil penelitian yang menempatkan pemuda dan usia muda sebagai sumber perilaku radikal dan ekstremis dilakukan Noorhaidi Hasan (2015). Dalam penelitian tersebut, disebutkan bahwa di masa transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa, generasi muda mudah mengalami krisis akibat perubahan sosial yang cepat, modernisasi, dan globalisasi (Hasan, 2015). Sebenarnya banyak anak muda menikmati dampak arus modernisasi dan globalisasi, seperti tersebarnya teknologi komputer dan internet secara luas, semaraknya industri model, musik, cinema dan lifestyle yang membuat bakat mereka berkembang sehingga menjadi lebih percaya diri. Akan tetapi itu semua tidak sepenuhnya bisa membuat mereka bahagia.  Demikian pula, di tengah arus modernisasi dan globalisasi, yang bertumpu pada pasar bebas, kompetisi yang lebih intensif, dan akselarasi jaringan teknologi dan ilmu pengetahuan, anak muda dihadapkan pada tantangan besar, terutama mengenai bagaimana mengatasi ketidakpastian masa depannya (Hasan, 2015). Ini seringkali berdampak negatif bagi mereka, khususnya dalam mempersiapkan masa depan yang lebih sejahtera dan mandiri. Terlebih lagi dengan globalisasi, dimana sumberdaya material terkonsentrasi di sebagian kecil pemilik modal. Masyarakat menjadi terpecah-pecah secara berkelompok. Mereka mengalami krisis serta goncangan akibat kepemilikan/distribusi sumberdaya material yang tidak sama, khususnya antara orang-orang yang hidup dalam kelas-kelas sosial yang berbeda-beda. Akibatnya, pemuda bisa terus-menerus hidup dalam ketidakpastian dan ketegangan (Hasan, 2015; White and Whyne, 2005). Dalam situasi seperti itu mereka mudah sekali terpengaruh dengan ajakan-ajakan radikalisme dan ekstremisme sebagai pelipur lara. 

Faktor lain adalah bahwa kecenderungan perilaku radikal dan Ekstremisme pemuda bukan semata-mata disebabkan oleh unsur kepemudaan itu, melainkan ia berjalin kelindan dengan faktor sosial ekonomi yang melingkupinya. Sebuah hasil penelitian menyebutkan, anak muda yang suka mengikuti gaya hidup kelas menengah yang modis dan lebih sejahtera, terkadang tidak sanggup wemujudkan apa yang mereka inginkan, karena faktor ekonomi. Mereka sadar bahwa kondisi ekonomi/keuangan keluarga yang kurang baik merupakan hambatan dalam meraih cita-cita mereka. Sebagian generasi muda kelas ekonomi rendah, mengakui bahwa hambatan material-struktural adalah sebab gagalnya mewujudkan mimpi-mimpi mereka (Pam Nilana, Loynette Parkerb, Linda Bennettc dan Kathryn Robinsond, 2011). Akibatnya, mereka berpaling ke agama, dengan resiko menjadi sasaran rekruitmen kelompok radikal. Kondisi ini dimungkinkan karena terdapat porsi cukup besar anggota ormas Islam radikal, semisal FPI, HTI, Laskar Jihad, MMI, dst, yang berasal dari kalangan miskin kota dan desa. Karena kalah bersaing, mereka tidak terserap pasar lapangan kerja yang kompleks itu. Akibatnya, mereka hanya bisa diserap di sektor ekonomi informal secara terbatas, dan karenanya, mimpi-mimpi kesejahteraan menjadi jauh dari kenyataan. Lebih banyak menganggur, membuat anak muda teralienasi serta hilang harapan akan masa depannya. Dalam situasi ini seringkali ormas-ormas radikal seperti FPI, laskar Jihad, HTI, JAT, menjadi tempat yang pas bagi anak-anak muda, dengan status baru sebagai laskar, untuk mengatasi alienasi dan frustrasi sosial yang mereka alami (Bamualim dkk, 2002).  

Aktif di ormas Islam radikal menyebabkan para laskar muda kembali mendapatkan kepercayaan masyarakat dan keluarga. Posisi sosial mereka pun terkoreksi, setidaknya di lingkungan kelompok-kelompok Islam yang konservatif. Contohnya, sebagian laskar yang dulunya tidak taat beragama, menjadi lebih taat setelah menjadi laskar, sebagai cara menunjukkan loyalitas pada ormas dan komunitas baru. Di ormas baru ini, kebanyakan anggota laskar, yang dulunya berprofesi sebagai anggota preman, menjadikan pengalaman baru ini sebagai kesempatan pertobatan dan penyucian diri (Bamualim dkk, 2002). 

Tapi perlu diingat bahwa, seperti disebut di atas, Radikalisme bukan hanya tumbuh di lingkungan orang-orang miskin dan marjinal, tetapi juga di lingkungan orang-orang terdidik dan berada, yang berkampus di perguruan tinggi sekuler terkemuka. Dalam konteks ini, radikalisasi biasanya bermula dari upaya konstruksi identitas yang eksklusif dengan mempertahankan ketekunan/ketaatan dan rutinitas agama. Generasi muda yang berasal dari desa dan berpindah ke kota, tidak ingin tercerabut dari akar budayanya dan nilai-nilai moral agamanya (Hefner, 2001). Karenanya, meski aktif kuliah, mereka tetap menunaikan rukun Islam, terutama sholat fardhu di ruangruang kosong di kampus yang dimungkinkan untuk beribadah, karena tidak tersedianya masjid/musholla. Sadar bahwa aksi-aksi individual semacam itu tidak cukup menarik perhatian otoritas kampus, mereka kemudian menjadikan isu tersebut sebagai isu komunitas/kelompok, dengan argumen hak dan kebebasan beragama (religious freedom).  Dari sini lah aktivisme dakwah kampus muncul, namun dengan motif yang evolutif. Mulanya dakwah kampus bertujuan memperkuat ikatan-ikatan moral-kultural, namun dalam perkembangan selanjutnya, dakwah kampus berubah menjadi aksi mempertahankan identitas, serta mengandalkan aktivisme berbasis perjuangan kelompok dan ideologis.  

Dalam kaitan ini, faktor ideologis dengan sendirinya menjadi aspek lain yang perlu dijelaskan juga. Secara simultan, proses identifikasi diri para anak muda Muslim berhadapan dengan gejolak urbanisasi ketika menjalani hidup sebagai mahasiswa di perguruan tinggi juga muncul, tergantung konteks dan tujuan aktivisme keagamaan mereka.  Karena gairah aktivisme keagamaan berjalan secara linier dengan setting sosial-politik nasional dan global, sejak tahun 1980an-1990an, aktivisme dakwah kampus mulai bergumul dengan berbagai corak pemikiran dan ideologi agama, dari Modernisme, neo Modernisme, Radikalisme, Fundamentalisme, Salafisme hingga Ekstremisme ala NII (Rosyad, 2007; Bamualim, 2015).  

Semua kecenderungan baru anak-anak muda Muslim terpelajar ini memfasilitasi berkembangnya dakwah kampus yang Islamis dan eksklusif, yang diantaranya disebabkan oleh memudarnya loyalitas mahasiswa terhadap ideologi-ideologi lain termasuk ideologi Negara, yang melarang agama di ruang publik serta membatasi kehadirannya hanya di ruang-ruang privat. Dalam mekanisme pertautan pemuda dan ideologi inilah, dakwah kampus manjadi tempat menarik bagi mahasiswa-mahasiswa yang merasa teralienasi dari kehiduan publik yang lebih luas dan dari agenda rezim mempertahankan status quo.

Csrc.or.id – Puslitbangpenda Kementerian Agama RI bekerja sama dengan CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Seminar bertemakan “Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Agama dan Keagamaandalam Perspektif Permendikbu No. 23 Tahun 2017”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu-Kamis (26-27/07), bertempat di The Grantage Hotel, BSD City, Tangerang Selatan.

Hadir dalam seminar ini Kepala Puslitbang Penda Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA beserta para narasumber kompeten di bidang pendidikan seperti Dr. H. Ahmad Zayadi (Direktur Pontren Kemenag RI), dan Dr. Thamrin Kasman, SE., M.Si (Sekretaris Dirjen Dikdasmen Kemendikbud), Ir. Hendarman, Ph.D (Kepala Pusat Penelitian dan Kebijakan Kemendikbud), Dr. Tjipto Sumadi, M.Pd., M.Si. (Dosen Pascasarjana UNJ), dan para narasumber kompeten lainnya.

Selain itu, hadir dalam seminar ini sedikitnya 75 perserta dari berbagai kalangan mulai dari peneliti, akademisi, guru agama, madrasah, pesantren, lembaga-lembaga pendidikan dan juga asosiasi guru dan madrasah.

Dalam sambutannya, Direktur CSRC, Irfan Abubakar, M.A. menjelaskan bahwa seminar ini dilatar belakangi oleh terbitnya  peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 atau lebih dikenal sebagai Full Day School (FDS) yang kemudian menjadi polemik di tengah masyarakat.

“Maka dari itu, sangat penting diadakannya forum dialog dengan berbagai pihak dalam rangka menguraikan konsep-konsep, gagasan, pemikiran, serta praktik program pendidikan karakter khususnya melalui pendidikan Agama dan Keagamaan dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2017 ”, jelas Irfan.

Dalam sambutan sekaligus membuka acara seminar ini secara resmi, Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA (Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan Kemenag RI) menyampaikan tentang Tugas utama Puslitbang, yaitu Penelitian dan Pengembangan. Penelitian ini meliputi pendidikan agama mulai tingkat TK sampai Perguruan Tinggi baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya pengembangan bisa bersumber dari hasil penelitian, baik melalui kegiatan yang bersifat seminar, workshop, FGD, dan lain-lain.

“Seminar ini termasuk agenda tentang isu-isu aktual dalam pendidikan agama dan keagamaan, lebih tepatnya isu kontroversial terhadap Permendikbud No. 23 Tahun 2017. Latar belakang seminar ini atas dasar kontroversi dari masyarakat yang muncul, maka Puslitbang Penda Kemenag RI merespons secepatnya. Puslitbang Penda mencari solusi substansif yang kita sampaikan kepada Menteri Agama atau mitra yang berkaitan. Selain itu latar belakang seminar ini terdapat pro dan kontra. Mereka yang pro terhadap Permendikbud no. 23/2017 ini setidaknya memiliki 10 alasan sedangkan yang kontra setidaknya mempunyai 20 argumen”, ungkap Amsal.

Sedikitnya ada 5 topik inti yang dibahas dalam seminar ini, diantaranya Kebijakan penguatan pendidikan karakter melalui pendidikan Agama dan Keagamaan yang disampaikan oleh Dr. H. Ahmad Zayadi (Direktur Pontren Kemenag RI) dan Dr. Thamrin Kasman, SE., M.Si (Sekretaris Dirjen Dikdasmen Kemendikbud); Urgensi Permendikbud No 23 Tahun 2017 dalam penguatan pendidikan karakter dengan pembicara Ir. Hendarman, Ph.D (Kepala Pusat Penelitian dan Kebijakan Kemendikbud) dan Dr. Tjipto Sumadi, M.Pd., M.Si. (Dosen Pascasarjana UNJ); Pengalaman empirik penguatan pendidikan karakter melalui pendidikan agama dan keagamaan dengan pembicara Dr. H. Muhammad Adlin Sila, Ph.D. (Balitbang Agama Jakarta), Husen Hasan Basri, M.Si (Puslitbang Penda Kemenag), Dr. Hayadin (Puslitbang Penda Kemenag), dan Dr. Farida Hanun (Puslitbang Penda Kemenag); Respon lembaga-lembaga pendidikan keagamaan terhadap FDS dengan Pembicara Drs. KH. Z. Arifin Junaidi, MBA (Ketua LP Maarif NU), Dr. Dien Wahid (PP Muhammadiyah), Dr Suwendi, M.Ag (DPP Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah / FKDT), dan H. Djamaluddin, M.Pd (Wakil Direktur Madrasa Pembangunan UIN Jakarta); serta Perumusan hasil seminar oleh Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA dan Sr. Cheder S. Bamualim.

Harapannya, melalui rekomendasi-rekomendasi yang dihasilkan dalam seminar ini dapat memberikan manfaat bagi terciptanya kebijakan pendidikan yang lebih mengedepankan penguatan nilai dan karakter peserta didik sehingga mampu menjadi pemimpin masa depan yang lebih  bertanggung jawab. [LH]

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H

Keluarga Besar Center for the Study of Religion and Culture (CSRC)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri

1 Syawal 1438 H

Mohon Maaf Lahir Dan Bathin

Menurutnya, deklarasi akan dibacakan oleh 30 perwakilan pimpinan pesantren yang berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat dan Jakarta di Gedung MPR/DPR pada hari ini, Kamis (08/06).

Irfan mengatakan, aliansi bertujuan mendorong peran dan sinergi antar pesantren dalam menyuarakan Islam rahmatan lil 'alamin, mempromosikan perdamaian, toleransi, perlindungan HAM, serta penyelesaian konflik secara damai di lingkungan pesantren dan masyarakat umum.

"Deklarasi ini merupakan bentuk dukungan dan komitmen pesantren sebagai kekuatan civil society kepada negara untuk terus memelihara dan memperkuat tegaknya nilai-nilai Pancasila, pelaksanaan UUD Thn 1945, serta terwujudnya Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," ujar Irfan Abubakar.

Berikut petikan deklarasi "Aliansi Pesantren se-Jawa untuk Penguatan Islam Moderat" yang akan dibacakan di Gedung MPR/DPR:

Kami merefleksikan situasi masyarakat Indonesia yang terpolarisasi akibat kontestasi politik yang melibatkan sentimen keagamaan. Kondisi rawan ini semakin memprihatinkan mengingat derasnya pengaruh radikalisme keagamaan global yang tak henti menguji ketahanan negara dan masyarakat Indonesia. Refleksi ini sejalan dengan amanat Presiden untuk makin menggelorakan semangat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.

Kami sadar, pesantren memiliki peran yang sangat strategis dalam mempromosikan Islam yang rahmatan lil 'alamin. Maka, kami wakil-wakil pesantren se-Jawa menyatakan:

1. Berpegang teguh dan siap mempertahankan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika;
2. Menyadari pentingnya menumbuhkan sikap saling menghargai keyakinan dan pandangan yang berbeda dalam kehidupan sosial, politik dan keagamaan;

3. Meyakini pentingnya membangun kesepahaman dan kesepakatan yang terus menerus di tengah umat dan bangsa tentang urgensi Pancasila sebagai platform bersarna dalam menjalankan kehidupan sosial dan politik yang damai, beradab dan bermartabat;

4. Mendorong pemerintah dan lembaga negara untuk bergandengan tangan dengan kekuatan civil sociely dalam menegakkan amanat menjaga keutuhan NKRI serta memelihara kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis;

5. Bertekad untuk saling mendukung dalam menjalankan aksi nyata dalam mencegah dan menolak ekstrimisme melalui penguatan sikap keagamaan yang tasamuh (toleran) dan tawasuth (moderat) di tengah masyarakat.
(maryani/mkd/mkd)

 

Berita ini dimuat di: https://www.kemenag.go.id/berita/504693/para-kyai-akan-deklarasikan-aliansi-pondok-pesantren-untuk-penguatan-islam-moderat

Workshop ini diselenggarakan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah yang didukung oleh Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Jerman dan Uni Eropa.

Menurut Kamaruddin Amin, Indonesia yang damai dan toleran tidak bisa dilepaskan dari kontribusi fundamental lembaga pendidikan Islam, baik Pondok Pesantren, Madrasah, maupun perguruan tinggi keagamaan Islam. Untuk itu, Kemenag selama ini juga terus melakukan upaya pembinaan terhadap kemajuan lembaga pendidikan Islam ini.

"Negara sangat membutuhkan adanya gerakan bersama seperti ini yang berusaha menjaga dan merawat potensi yang beragam di Indonesia," kata Kamaruddin Amin, di Jakarta, Kamis (08/06).

Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Irfan Abubakar menyampaikan bahwa workshop Pembentukan Aliansi Pondok Pesantren se-Jawa dalam Mempromosikan Islam Moderat merupakan kegiatan terakhir dari rangkain kegiatan dalam Program Pesantren For Peace (PfP). Titik tekan workshop ini adalah mendiskusikan bagaimana pesantren sebagai mitra Program Pesantren For Peace (PfP) dapat berperan lebih maksimal dalam menyuarakan lslam rahmatan 'alamin dan membangun jejaring antar pesantren dan stakeholders potensial lainnya, ujar Irfan.

"Hal ini merupakan upaya mempromosikan perdamaian, toleransi, HAM dan penyelesaian konflik secara damai, serta Islam moderat di Indonesia, baik secara nasional maupun di wilayah masing-masing," pungkasnya.

Kegiatan Workshop Pembentukan Aliansi ini, lanjut Irfan, melibatkan 50 peserta, terdiri dari Pimpinan/Pengasuh Pondok Pesantren yang berasal dari wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat dan Jakarta.

Workshop ini diharapkan dapat memperkuat peran pesantren dalam menyuarakan Islam rahmatan alamin, mempromosikan Islam moderat di Indonesia, serta membangun jejaring antar pesantren dalam mempromosikan perdamaian, toleransi, HAM dan penyelesaian konflik secara damai.

Turut hadir dalam pertemuan ini, Direktur Pendidikan Dinyah dan Pondok Pesantren Ahmad Zayadi, Koordinator Program Pesantren for Peace (PfP) Idris Hemay, dan 30 kyai muda perwakilan pesantren se-Jawa, serta seluruh panitia penyelenggara. (maryani/mkd/mkd)

 

Berita ini dimuat di: https://www.kemenag.go.id/berita/504692/kemenag-dukung-pesantren-promosikan-ham-dan-resolusi-konflik-secara-damai

 
 
 
 
 
Page 1 of 9
We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree