Has no content to show!

Memotret Pemahaman Islam Radikal

Studi Kasus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Indonesia
Kekerasan atas nama agama masih terus saja kita dengar di Indonesia. SETARA Institute melansir bahwa pada tahun 2007 terdapat 185 jenis tindakan dalam 135 peristiwa; pada tahun 2008 terdapat 367 tindakan dalam 265 peristiwa, dan pada tahun 2009 terdapat 291 tindakan dalam 200 peristiwa (Setara Institute, 2010). Selain itu, kasus Ciketing Bogor pada tahun 2010 menyebabkan pemerintah kota Bogor menghentikan ijin pendirian gereja Kristen Protestan Batak atas desakan kelompok garis keras. Belum lagi peristiwa Cikeusik di Pandeglang yang mengakibatkan meninggalnya 6 anggota Ahmadiyyah setelah mendapat serangan dari kelompok garis keras. Selain itu, 7 alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Kabarnet 28 April 2011) dan 2 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta telah ditangkap oleh Densus 88 atas keterlibatan mereka dalam gerakan terorisme (Suara Merdeka, 1 Oktober 2011). Situasi ini tentu akan mengganggu kehidupan sosial masyarakat Indonesia jika tidak segera diselesaikan.

Salah satu nilai yang penting bagi kelompok garis keras adalah halalnya penggunaan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan yang diyakini. Pada kelompok garis keras ini kekerasan dapat dilakukan untuk mencegah pemurtadan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi bagaimana seseorang sampai pada tahapan menjadi radikal dan tidak toleran, diantaranya factor ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya. Selain itu, kelahiran kelompok garis keras seperti Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) dan juga Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang juga ingin simpati pengikut baru telah mewarnai dinamika dakwah keislaman di Indonesia paska reformasi. Tidak mengherankan jika benih-benih radikalisme telah mempengaruhi proses dakwah Islam di Indonesia.

Mahasiswa merupakan representasi segmen kelas menengah yang terdidik yang akan mewrnai kehidupan pengambil kebijakan dan birokrasi di masa yang akan datang. Selainitu, usia mahasiswa adalah usia yang rentan terhadap penyebaran ideologi radikal mengingat usia ini adalah usia transisi menjadi manusia dewasa. Keterlibatan beberapa mahasiswa dalam tindakan kekerasan atas nama agama menjadi bukti betapa rentannya para mahasiswa terhadap penyebaran ideology radikal. Untuk itu, investigasi mendalam terhadap keterlibatan mahasiswa dalam aksi kekerasan atas nama agama sangat penting dilakukan karena para mahasiswa ini juga mendapatkan pelajaran agama Islam dalam perkuliahan mereka.

 Perubahan institusi Instut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) dengan berdirinya fakultas-fakultas umum ternyata menimbulkan perubahan pada pardigma keilmuan di UIN. Tujuan awal berdirinya fakultas umum adalah pengintegrasian keilmuan umum dengan keislaman. Pada kenyataannya, fakultas umum yang lebih banyak peminatnya belum juga dapat mewujudkan harapan untuk pengintegrasian ilmu umum dan nilai keislaman ini. Muncul anggapan bahwa fakultas-fakultas non agama malah menjadi tempat tumbuhnya ideologi Islam radikal dibandingkan di fakultas agama. Begitu pula anggapan bahwa universitas yang sekuler seperti Universitas Indonesia lebih mudah untuk menjadi tempat tumbuhnya ideologi radikal dibandingkan di universitas yang berbasis agama seperti UIN. Untuk itu, investigasi mendalam tentang pertumbuhan ideologi radikal di kalangan mahasiswa dengan pembandingan dua universitas yang berbasis agama dan non agama menjadi penting untuk membuktikan asumsi universitas/fakultas yang berbasis sekuler justru menjadi lahan subur tumbuhnya ideologi radikal di kalangan mahasiswa.

 Usaha-usaha deradikalisasi telah banyak dilakukan oleh berbagai pihak. Pemerintah telah menyatakan perang terhadap terorisme dan hal ini diikuti oleh banyak pihak, diantaranya pihak kepolisian dan jajarannya. Kampus-kampus juga menyelenggarakan sosialisasi anti terorisme dan masyarakat pun mulai mawas diri dengan bahaya terorisme dan kekerasan lainnya. Penelitian ini akan melihat pula apakah usaha-usaha deradikalisasi juga memiliki dampak yang signifikan di kalangan mahasiswa.

 Atas dasar pemikiran di atas, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menganggap penting untuk melakukan penelitian tentang pemahaman ideologi dan gerakan radikal di kalangan mahasiswa UI dan UIN dengan judul “ Memotret Pemahaman Islam Radikal di Kalangan Mahasiswa: Studi Kasus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Indonesia ”. Penelitian ini akan diselenggarakan di Jakarta pada bulan September-November 2012.

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree