Has no content to show!

Penelitian Ideologi Masjid

Penelitian Ideologi Masjid di Solo dan Jawa Tengah
Berbicara secara umum, riset di sepuluh masjid tersebut menunjukkan dan membuktikan bahwa dalam derajat yang beragam kelompok Islam radikal telah menggunakan masjid sebagai kendaraan bagi penyebaran ideologinya. Level intensitas yang tinggi dari radikalisasi terlihat di  Masjid Al-Islam Gumuk dan Masjid al-Maghfiroh (Al-Kahfi) yang masing-masing berafiliasi kepada Front Pemuda Islam Surakarta (LPIS) dan Hidayatullah, dua ormas Islam yang terkenal berhaluan radikal. Radikalisasi juga cukup tinggi di masjid terbuka dan tidak berafiliasi dengan ormas tertentu, yaitu Masjid al-Muttaqien, Kartopuran. Sementara masjid-masjid umum lainnya yang diteliti juga memperlihatkan anasir-anasir ideologi Islam radikal dengan level intensitas yang lebih rendah. Misalnya, Masjid Pesantren Jamsaren (kec. Serengan),Masjid Komplek al-Hikmah (Joyodiningratan, kec. Serengan) dan  Masjid Kampus, Nurul Huda, UNS, Surakarta.

Riset secara khusus mendalami aspek kebijakan dakwah di masjid yang diteliti, terkait jama’ah masjid dan kontrol pengurus terhadap dakwah masjid. Riset menunjukkan bahwa dari aspek keterbukaan jamaah, kecuali Masjid Gumuk dan al-Kahfi Hidayatullah, yang memiliki jama’ah yang eksklusif, masjid-masjid lain pada umumnya terbuka kepada semua kalangan. Sementara jama’ah Masjid Gumuk dan al-Kahfi Hidayatullah merupakan jama’ah tetap yang mendapatkan model pengajian yang terstruktur dan cenderung tertutup. Jama’ah masjid Gumuk berasal dari pengurus dan imam-imam masjid di lingkungannya sehingga diperkirakan memiliki pengaruh terhadap corak dakwah di masjidnya masing-masing. Sementara itu, yang mengikuti pengajian rutin di masjid al-Kahfi merupakan calon da’i atau khatib yang telah dibekali dengan ajaran dan ideologi Hidayatullah yang menekankan pentingnya totalitas dalam ber-Islam (kaffah).

Dari aspek kontrol pengurus terhadap dakwah masjid ditemukan bahwa di masjid-masjid yang memiliki afiliasi dengan Hidayatullah dan juga FPIS kontrol pengurus sangat kuat. Keputusan tentang khatib/penceramah serta materi khutbah dan pengajian ditentukan secara otoritatif oleh ustadz yang sekaligus pimpinan pesantren yang  memayungi masing-masing masjid ini. Di seberang lain, masjid-masjid yang dikelola oleh aktivis NU dan Muhammadiyah menjalankan fungsi kontrol yang tidak seketat kedua masjid di atas. Sementara masjid-masjid yang dikelola pemerintah (Depag) kontrol dilakukan dari jauh pada khatib dan isi khutbah jumat, sedangkan untuk ceramah dan kegiatan pengajian di luar itu lebih longgar sehingga berbagai anasir radikal bisa menggunakan masjid untuk ajang dakwah. Penting untuk dicatat, bahwa tanpa adanya peningkatan kontrol dikhawatirkan tercipta keadaan yang  beresiko terhadap infiltrasi ideologi radikal.

Secara umum, persepsi sikap dan prilaku pengurus masjid dan jama’ah masjid terhadap lima isu ideologis (sistem pemerintahan, formalisasi syari’at Islam, jihad, kesetaraan gender dan pluralisme)  sangat beragam.  Namun demikian, masih cukup banyak informan yang mewakili persepsi dan sikap Islam radikal, dalam pengertian mendukung penegakkan khilafah islamiyyah, menyetujui formalisasi syari’at Islam melalui negara, menolak pluralisme dan kesetaraan gender, dst. Dari aspek sistem pemerintahan, misalnya, cukup banyak stake holders masjid yang mendukung ide pendirian khilafah Islamiyah dan pada saat yang sama menolak demokrasi. Tampak dakwah kelompok Islam radikal seperti Hizbut Tahrir Indonesia yang mengusung ideologi politik Khilafah Islamiyyah telah mempengaruhi sebagian pengurus dan jama’ah masjid yang ada di Solo.

Meski demikian, perlu ditekankan di sini bahwa tidak semua komunitas masjid yang mendukung sistem khilafah dengan sendirinya anggota dan mengikuti pendapat HTI tentang konsep dan strategi penegakkan khilafah islamiyyah.  Di masjid UNS sendiri di mana pengaruh HTI sangat terasa, para pengurus dan khatib yang mendukung sistem khilafah tidak semuanya setuju dengan cara-cara HTI mempromosikan khilafah dengan cara mengkritik pemerintah yang berkuasa. Mereka lebih setuju perjuangan penegakkan khilafah dilakukan dengan cara-cara pendidikan (tarbiyah) di masyarakat akar rumput.

Berbanding terbalik dengan kelompok-kelompok radikal yang intens menjalankan dakwahnya, kalangan moderat kurang tegas mendakwakan moderasi Islam bahkan di masjid-masjid yang mereka kelola sendiri. Alhasil, persepsi Islam radikal pun akan leluasa berkembang.  Ke depan perlu upaya-upaya sistematis dan strategis dari pihak yang berwenang dan para barisan pendukung Islam moderat untuk menjaga dan membela eksistensi masjid sebagai basis pengajaran dan dakwah Islam moderat.

Nama-nama masjid yang diteliti:

Masjid Kottabarat (Muhammadiyah, Kec. Banjarsari), Masjid al-Islam (Mangkunegaran (Gumuk), Kec. Banjarsari); Masjid al-Firdaus (NU, Gendingan, kec. Jebres); Masjid al-Kahfi (Hidayatullah, Mojosongo, kec. Jebres); Masjid Kampus UNS Nurul Huda (Kentingan, kec. Jebres); Masjid Komplek al-Hikmah (Joyodiningratan, kec. Serengan); Masjid Agung Solo (kec. Pasar Kliwon); Masjid Pesantren Jamsaren (kec. Serengan); Masjid Besar Laweyan (Kec. Laweyan); Masjid al-Muttaqien Kartopuran (Gedung Umat Islam, Kec. Laweyan)

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree