Jakarta, INDONEWS.ID -- Center for the Studi of Religion and Culture (CSRC) menggelar seminar dengan tema "Membangun Papua yang Maju, Damai dan Sejahtera dalam Bingkai NKRI" pada Jumat (19/06/2020).

Seminar yang dilakukan secara online ini diikuti lebih dari 100 orang dan dibuka oleh Direktur CSRC Idris. Dalam pembukaannya Idris menjelaskan bahwa dalam 10 tahun terakhir banyak perkembangan yang terjadi di Papua termasuk infrastruktur. Seminar diharapkan dapat memberikan pemahaman, pengetahuan, dan pengembangan bagi Papua.

"Dalam 10 tahun terkahir Papua mengalami pertumbuhan infrakstruktur yang luar biasa. Pengembangan sektor ekonomi dan SDM. Diperiode Jokowi jilid kedua juga difokuskan dalam hal ini juga bagaimana membangun SDM unggul. Semoga seminar ini dapat memberikan pengetahuan, bekal pengetahuan bagi semuanya dan pengembangan bagi Papua," jelasnya.

Yuliana Langowuyo yang merupakan Direktur SKPKC Fransiskan Papua sekaligus menjadi narasumber dalam seminar ini menjelaskan bahwa dalam permasalahan yang ada di Papua perlu melibatkan semua elemen masyarakat.

"Dalam konteks terkini perlu hadir dan dilibatkan berbagai elemen di Papua termasuk kepala adat dan tokoh di luar papua yg tinggal di Papua," jelasnya melalui siaran pers.

Selain itu, Yuliana menjelaskan konflik di Papua disebabkan beberapa faktor seperti peralihan budaya, komposisi masyarakat, hingga unsur-unsur persamaan yang jarang dianggap.

"Terdapat beberapa faktor yang menjadi sebab konflik ini dari mulai peralihan budaya, komposisi masyatakat, sampai kepada unsur-unsur persamaan yang jarang dianggap justru yang sering diangkat adalah perbadaan yang terjadi di Papua," tegas Yuliana.

Suasana sosial politik terkait sejarah yang seringkali menjadi akar masalah, pelanggaran HAM, kebijakan keamanan adalah akar masalah politik lain menurut Yuliana. Seharusnya semua pihak mulai menghayati nilai-nilai hidup, persamaan, dan persaudaraan.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi (BPIP) Antonius Benny Susetyo yang menejelaskan bahwa pendekatan untuk mencapai Papua damai harus diganti menjadi pendekatan dialog.

"Papua damai harus menggunakan dialog. Melibatkan dialog semua tokoh yang ada, dan dialog dari bawah," jelasnya.

Pendiri Stara institute itu juga menjelaskan bahwa dialog tersebut dimulai dengan problem yang ada di Papua baik dari kesehatan, ekonomi, infrastruktur, pendidikan hingga sejarah. Dialog ini perlu kesabaran dan ketekunan demi mengembalikan martabat manusia.

"Mewujudkan Papua tanah damai perlu kesabaran dan ketekunan dan budaya untuk memulihkan kembali martabat manusia," jelas Benny.

Benny menambahkan bahwa masyarakat Papua mempunyai keterbukaan terhadap masalahnya dengan melakuakan dialog dan pendekatan kultur yang sangat diperlukan.

Ke depan, Benny berharap masyarakat harus mampu berempati demi kedamaian dan memperjuangkan Papus dengan memperhatikan keadilan dan memutuskan permasalahan disana.

Dekan Fisip UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ali Munhanif menekankan bahwa terjadi pembelokan arah rekonsiliasi di Papua.

"Terjadi pembelokan arah rekonsiliasi Papua yang awalnya didorong berjalan stabil tetapi ternyata tidak demikain. Otonomi daerah gagal juga diimplementasikan karena banyaknya penyimpangan," jelasnya.

Ali Munhanif menjelaskan terdapat hal yang perlu dicatat sebab masalah konflik di Papua yaitu tidak diupayakan politik secara damai. Otonomi yang misinya ada kedamaian dan kesejahteraan menjadi arena persaingan politik. Perdamaian di Papua harus diperhatikan.

"Pendekatan politik menjadi dominan di Papua. Selain itu yang seharusnya Otonomi mempunyai misi perdamaian dan kesejahteraan malah menjadi arena persaingan politik. Perlindungan hak-hak masyarakat harus diperhatikan," tutupnya. (Very)

Berita ini dimuat di: https://indonews.id/mobile/artikel/30491/Papua-Damai-Butuh-Pendekatan-Dialog-dengan-Semua-Tokoh/

 

Minggu, 15 Maret 2020 Center for the Studi of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta menggelar Pendalaman Materi Kontra Narasi Ekstremis untuk Pemimpin Muda Moderat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dihelat di ruang meeting CSRC.

Idris Hemay, direktur CSRC dalam sambutannya mengatakan bahwa ekstremis mengancam keamanan negara, maka pendalaman materi terkait kontra narasi perlu dilakukan agar peserta mampu menganalisa naras- narasi ekstremis dan membuat kontra narasi ekstremis

“virus baru yang disebut covid-19 mengancam negara sama seperti ekstremis yang mengancam keamanan dan ketenangan negara, maka sangat perlu sekali kita melakukan pendalaman materi terkait kontra narasi ekstremis, agar kita semua mampu menganalisanya dan memebuat kontra narasinya, supaya tidak  terjadi lagi hal-hal yang membahayakan” ujarnya.

 

Pendalaman materi mertama terkait analisis narasi ekstremis yang disampaikan oleh Irfan Abu Bakar. Menurutnya ekstremis laksana virus yang mewabah yang bisa menyebar penularannya, dan kontra narasi ekstremis bukan obat untuk menyembukan virus tapi imun untuk mempertahankan daya tahan tubuh dari serangan virus, itulah mengapa perlunya memahami dan menganalisa sebuah narasi, menganalisa narasi ekstremis dan melawannya dengan membuat kontra narasi.

 

Imas Uliyah menyampaikan materi tentang Menyusun Kontra Narasi Ekstremis, kontra narasi yang dihasilkan harus menjembatani narasi ekstremis, muatan tulisan tidak sekedar pernyataan kontra dan menyesatkan tetapi memberikan pencerahan dengan bahasa yang lebih menarik. Menurutnya permasalahan kali ini terdapat bada struktur bahasanya yang dinilai kurang memadai. Narasi yang dibangun dari narasi ekstremis. Dalam menyusun kontra narasi Imas memberikan empat langkah yang terpenting, 1. Luruskan cerita hoax dan menyampaikan fakta yang terjadi, 2. Tunjukan penyelewengan dalil yang digunakan oleh ekstremis, 3. Tolak tujuan ekstremis, 4. Gunakan bahasa yang memikat.

 

Usai rehat dan makan siang, pendalaman materi dilanjutkan oleh Media Sosial Sebagai Media Kontra Narasi Ekstremis yang disampaikan oleh Khelmy K. Pribadi. Menurutnya, dalam menyampaikan kontra narasi ekstremis di media sosial sebaiknya memahami pola terlebih dahulu, menurutnya 8 detik pertama sangat mempengaruhi, maka menyajikan konten yang segar dan mengikuti trend adalah hal yang tepat.

 

Khelmi menyarankan agar memposting konten berdasarkan platform tertntentu dengan waktu yang tepat. Misalnya facebook waktu yang bagus pada hari kamis, jumat, sabtu dan minggu pukul 13:00-16:00, pada Instagram waktu yang disarankan pada hari Senin, Rabu, dan kamis pukul 11:00-13.00 dan 19:00-21:00.

 

Praktik menyusun kontra narasi ekstremis bersama Muchtadlirin. Ia mengulang kembali materi yang sudah disampaikan oleh pemateri sebelumnya, sebelum forum selesai Dlirin memberikan tugas kepada para peserta memebuat kontra narasi terkait tema khilafah, thogut, kekerasan, dan jihad. Masing-masing peserta diberikan kebebasan utnuk memilih salah satu tema yang ada, dengan tenggang waktu satu minggu tugas harus sudah dipost di media sosial masing-masing dan tag akun resmi CSRC. (AP)

Get In Touch

Center for the Study of Religion and Culture (SCRC) Pusat Kajian Agama dan Budaya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

  • Add: Jl. Kertamukti No. 5 Pisangan Ciputat 15419
  • Tel: 021-744 5173
  • Fax: 021- 7490756
  • Email: [email protected]
  • Hotline: 021-744 5173
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…