Peran Tokoh Agama dalam Menanggulangi Ekstrimisme

Yogyakarta memiliki sejarah panjang dalam mengelola proses akulturasi entitas kebhinnekaan sebagaimana dapat ditemukan dalam nama-nama kampung seperti Bugisan, Daengan, bahkan terabadikan dalam satuan prajurit Kraton seperti bregodo Bugis, Daeng serta pernik-pernik kebudayaan etnis dari luar Jawa yang tetap mendapatkan ruang hidup hingga sekarang. Filosofi dan ajaran Kraton Ngayogyakarta yang mengedepankan pertanggungjawaban bagi keselarasan dan ketenteraman seluruh warga telah membentuk sikap budaya bahwa setiap pemimpin harus mampu menjadi songsong agung kawulo Mataram.

Membongkar rahasia berpikir pencinta perdamaian

 

  • 1. Selalu menghargai sekecil apapun usaha penyelesaian konflik secara damai
    2. Tidak memihak kubu-kubu yang berkonflik
    3. Memahami dan menghargai kepentingan kelompok-kelompok yang bertikai
    4. Tidak berkecil hati mendengar tawaran tertinggi dari kelompok yang berkonflik
    5. Menganggap tawaran tertinggi sebagai cara bernegosiasi
    6. Tidak menganggap moralitasnya lebih tinggi dari yang berantem -- semuanya sama saja memainkan peran --
    7. Tidak me-like setiap provokasi -- tapi tersenyum dalam hati saja --

Kepemimpinan Transformasi Kepala Daerah

 

PENDAHULUAN

Sistem demokrasi yang selama ini dijalankan oleh Pemerintah Indonesia telah mengantarkan kepada terselenggaranya otonomi daerah sebagaimana telah dilaksanakannya pemilihan kepala daerah serentak pertama kalinya dalam sejarah bangsa Indonesia pada tanggal 9 Desember 2015 lalu yang diikuti oleh 269 daerah kabupaten/kota. Otonomi daerah melahirkan sejumlah kegiatan politik seperti pemilihan kepala daerah. Pemilihan Kepala Daerah mencirikan bahwa sebuah negara dari tingkat propinsi ke tingkat daerah telah berdemokrasi. Masyarakat dapat memilih pemimpin dengan melihat Visi dan Misi yang diusung, kepribadian pemimpin dan juga cara-cara kampanye mereka.

Salah satu indikator untuk mengukur sejauh mana restorasi peradaban telah membuahkan hasil dalam suatu Negara adalah Indeks Pembangunanan Manusia (HDI, Human Development Index), pada dasarnya HDI digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah Negara adalah Negara maju, Negara berkembang atau terbelakang.

Page 1 of 2

Get In Touch

Center for the Study of Religion and Culture (SCRC) Pusat Kajian Agama dan Budaya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

  • Add: Jl. Kertamukti No. 5 Pisangan Ciputat 15419
  • Tel: 021-744 5173
  • Fax: 021- 7490756
  • Email: [email protected]
  • Hotline: 021-744 5173
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…