Khutbah Jumat: Fitnah “Ghuroba”: Menjadi Asing Bukan Berarti Eksklusif

blog

Khutbah 1

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي بَدَأَ الْإِسْلَامَ غَرِيْبًا، وَجَعَلَ لِأَهْلِهِ فِي كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ نَصِيْبًا، وَجَعَلَ غُرْبَتَهُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ تَمْحِيْصًا وَتَهْذِيْبًا، وَلِدَرَجَاتِهِمْ رِفْعَةً وَتَقْرِيْبًا.نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا كَثِيْرًا، وَنَشْكُرُهُ شُكْرًا عَظِيْمًا، عَلَى نِعْمَةِ الْإِسْلَامِ وَالْإِيْمَانِ، وَنَسْأَلُهُ الثَّبَاتَ عَلَى الْحَقِّ دَوَامًا، وَالسَّلَامَةَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا كَانَ مَكْنُونًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً صَادِقَةً وَيَقِينًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ اللهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ بُرْهَانًا وَبَيَانًا، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً دَائِمَةً مُتَوَاصِلَةً إِحْسَانًا، وَعَلَى اٰلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ فَضْلًا وَإِكْرَامًا، وَعَلَى صَحَابَتِهِ الْغُرِّ الْمَيَامِينِ عَدْلًا وَرِضْوَانًا، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ ثَوَابًا وَغُفْرَانًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.

 

Kaum Muslimin Jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan penuh kesungguhan dalam melaksanakan segala perintah-Nya serta menjauhi seluruh larangan-Nya. Sebab ketakwaan itulah sebaik-baik bekal bagi seorang hamba dalam mengarungi kehidupan di dunia yang fana ini. Ketakwaan sekaligus menjadi perisai keselamatan saat kelak kita menghadap kehidupan akhirat yang kekal abadi.

Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah…

Ketika cahaya Islam pertama kali menyinari Tanah Suci Makkah, Islam dipandang asing oleh kaum Quraisy yang terbiasa menyembah ratusan berhala di sekitar Ka’bah. Ketika Islam datang membawa seruan tauhid kepada satu Tuhan, ajaran ini dianggap aneh.

Nabi Muhammad Saw. pun dicaci dan dituduh majnun. Pada masa awal dakwah itu, kebenaran tampak asing di tengah masyarakat yang telah lama tenggelam dalam kemusyrikan. Dalam sebuah hadits Riwayat Abu Hurairah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيْبًا، وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah bersabda, “Islam pada awal kemunculannya dianggap asing, dan kelak ia akan kembali dianggap asing sebagaimana pada awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing (al-ghuraba’).” (HR. Muslim)

Kaum Musilimin Jamaah Shalat Jumat yang Berbahagia,

Sebagian orang menjadikan hadis tentang al-ghuraba’ sebagai upaya untuk menumbuhkan rasa keterasingan yang kurang tepat. Mereka membangun jarak dengan umat Islam. Seolah-olah hanya kelompok merekalah yang memegang kebenaran. Sementara masyarakat di luar mereka dianggap menyimpang. Padahal para ulama mengajarkan bahwa kebenaran tidak melahirkan kesombongan. Hidayah tidak membuat seseorang merasa memonopoli surga.     

Pemahaman sempit ini melahirkan sikap eksklusif. Bahkan para pengikutnya didorong menjauhi keluarga sendiri. Karena dianggap tidak sejalan dengan pandangan mereka. Sikap seperti ini dapat menumbuhkan kecurigaan, perpecahan, dan permusuhan. Padahal Islam datang membawa rahmat, persaudaraan, dan ajakan untuk hidup berdampingan dengan hikmah serta kasih sayang.

Marilah kita merenungkan: apakah kita pernah merasa paling benar? Apakah kita pernah meremehkan sesama saudara Muslim? Apakah kita menjauh bukan karena takwa. Tapi karena kesombongan?

Jamaah yang dimuliakan Allah...

Ghuraba yang sejati bukanlah orang yang memutus hubungan dengan umat. Ghuraba yang sejati adalah orang-orang yang suka memperbaiki diri. Ghuraba yang sejati adalah orang-orang yang bersikap rendah hati.

Suatu ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang siapa yang dimaksud dengan al-ghuraba’. Mereka berkata:

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ! مَنِ الْغُرَبَاءُ؟

“Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang asing itu?”

Beliau menjawab:

اَلَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

“Yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia diliputi kerusakan.”

Para ulama fiqih menggambarkan mereka seperti air mutlak: طَاهِرٌ فِي نَفْسِهِ وَمُطَهِّرٌ لِغَيْرِهِ, suci pada dirinya dan mampu menyucikan yang lain. Hatinya bersih, akhlaknya baik, dan kehadirannya menjadi sebab orang lain terdorong memperbaiki diri.

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa makhluk adalah keluarga Allah. Makhluk yang paling dicintai-Nya adalah yang paling bermanfaat serta paling besar kasih sayangnya kepada sesama. Orang seperti ini ibarat lampu yang menerangi dirinya sekaligus jalan bagi orang lain.

Karena itu, seorang mukmin tidak tinggal diam melihat kerusakan. Tetapi dia berusaha memperbaiki dengan ilmu, hikmah, dan akhlak yang lembut. Al-Qushayri juga menjelaskan bahwa para kekasih Allah adalah mereka yang menjaga kejernihan hati di tengah keruhnya zaman, Mereka hidup di tengah manusia, namun tetap terpaut kepada Allah, membalas keburukan dengan kesabaran, nasihat, dan kasih sayang.

Jamaah sekalian... Ghuraba itu memperbaiki. Ghuraba itu rendah hati, bukan merasa paling suci.

Jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Di antara tanda lain dari al-ghuraba’ yang disebutkan oleh Rasulullah Saw. adalah sebagaimana sabdanya:

هُمْ أُنَاسٌ صَالِحُوْنَ قَلِيْلٌ فِي أُنَاسِ سُوْءٍ كَثِيرٍ

 “Mereka adalah orang-orang yang saleh, jumlahnya sedikit di tengah banyaknya manusia yang buruk (rusak akhlaknya).”

Hadis ini menjelaskan salah satu ciri al-ghuraba’ (orang-orang yang dianggap “asing” dalam kebaikan). Keterasingan mereka bukan karena memisahkan diri dari umat, tetapi karena keteguhan mereka dalam menjaga iman, akhlak, dan kebenaran, meskipun lingkungan di sekitarnya dipenuhi penyimpangan. Mereka tetap jujur ketika banyak orang terbiasa berdusta. Mereka tetap menjaga amanah ketika banyak yang mengkhianati. Mereka tetap berbuat baik ketika keburukan menjadi kebiasaan. Jumlah mereka sedikit, sikap mereka tampak berbeda. Karena itulah mereka disebut ghuraba’.

Kaum Musilimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Di antara tanda lain dari al-ghuraba’ yang disebutkan oleh Rasulullah Saw adalah sabda beliau:

مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي بَعْدَ فَسَادِ أُمَّتِي

“Orang yang menghidupkan sunnahku setelah rusaknya umatku.”

Al-ghuraba’ adalah mereka yang tidak rela melihat cahaya sunnah Rasulullah Saw. meredup di tengah umat. Ketika manusia mulai melupakan tuntunan Nabi, ketika kebenaran tertutup oleh kabut hawa nafsu dan kepentingan dunia, mereka bangkit untuk menyalakan kembali pelita sunnah itu.

Dengan ilmu, dengan akhlak, dan dengan kesabaran, mereka menghidupkan kembali jejak-jejak Rasulullah Saw. di tengah kehidupan manusia. Di masa ketika sebagian orang berani mengeluarkan fatwa-fatwa yang menyesatkan karena mengikuti hawa nafsunya, al-Ghuraba’ sejati tampil untuk meluruskan jalan umat.

Di zaman kita ini, ada pihak yang mengaku paling benar dan mengklaim bahwa hanya kelompoknya yang menjalankan Islam secara kaffah. Ada pula yang menanamkan kepada para pengikutnya agar menjauh dari masyarakat, bahkan dari keluarga sendiri yang tidak sejalan dengan mereka. Sebagian lagi menyeru agar memutus hubungan dengan lingkungan sosial dengan alasan bahwa masyarakat telah menjadi “lingkungan jahiliyah”.

Ajakan semacam itu tidak melahirkan cahaya persatuan, tetapi justru menumbuhkan benih perpecahan di tengah tubuh umat. Pada saat seperti itulah al-ghuraba’ tampil dengan penuh hikmah, mengingatkan umat agar kembali kepada sunnah Rasulullah Saw. yang sejati—sunnah yang dipahami dengan ilmu para ulama yang lurus akidahnya, jernih hatinya, serta ikhlas amalnya.

Seorang ulama besar yaitu Yusuf ibn ‘Abd Allah ibn Muhammad ibn ‘Abd al-Barr al-Namari al-Qurtubi pernah mengingatkan dengan kata-kata yang penuh hikmah: “Barangsiapa beramal tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkannya lebih banyak daripada kebaikan yang diperbaikinya.”

Karena itu, para ulama mengajarkan bahwa memahami sunnah bukanlah dengan hawa nafsu, tetapi dengan ilmu yang bersambung kepada para pewaris Nabi. Ulama lain mengajarkan bahwa jalan keselamatan bagi umat adalah berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para ulama yang terpercaya. Sebab para ulama adalah pewaris para nabi. Para ulama menjaga kemurnian agama agar tidak diselewengkan oleh kepentingan dan hawa nafsu manusia.

Kaum Musilimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Demikianlah gambaran tentang al-ghuraba’, orang-orang yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai manusia yang tampak asing di tengah zamannya. Mereka mungkin sedikit jumlahnya, tapi besar nilainya di sisi Allah. Nabi Saw bersabda:

فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.”

Keterasingan yang dimaksud bukanlah keterasingan yang memisahkan diri dari manusia, tetapi keterasingan karena keteguhan dalam kebenaran. Mereka menjaga kebersihan hati ketika banyak hati ternoda, mereka menegakkan kejujuran ketika kejujuran mulai ditinggalkan, dan mereka menghidupkan sunnah Rasulullah Saw ketika manusia mulai melupakannya.

Mereka adalah hamba-hamba Allah yang berusaha membersihkan dirinya, lalu dengan kasih sayang berusaha memperbaiki orang lain. Hatinya jernih seperti air yang suci, dan dari kejernihan itu lahir akhlak yang menenangkan manusia di sekitarnya. Mereka tidak hanya berbicara tentang kebaikan, tetapi hidup mereka sendiri menjadi cermin dari kebaikan itu.

Seorang imam Madzhab, Abu Abdillah Malik bin Anas pernah menyampaikan sebuah hikmah yang sangat dalam tentang keseimbangan antara ilmu lahir dan kebersihan batin. Beliau berkata: “Barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf, maka ia akan menjadi fasik. Dan barang siapa bertasawuf tanpa fiqih, maka ia akan menjadi zindiq. Adapun yang menggabungkan keduanya, maka dialah yang mencapai kebenaran.”

Hikmah ini mengajarkan bahwa jalan para ghuraba’ adalah jalan keseimbangan ilmu yang lurus, hati yang bersih, dan amal yang ikhlas. Fiqih menjaga langkah agar tetap berada di jalan syariat, sementara tasawuf membersihkan hati agar setiap amal dipenuhi keikhlasan.

Maka marilah kita berusaha menjadi bagian dari al-ghuraba’ orang-orang yang menjaga kesucian diri, memperbaiki masyarakat dengan hikmah, dan menghidupkan kembali sunnah-sunnah Rasulullah Saw. ketika banyak manusia mulai melupakannya.

Sebelum menutup khutbah ini. Marilah kita ikuti tiga aturan menjadi ghuraba’ sejati:

  • Berilmu sebelum bicara
  • Beradab sebelum menilai
  • Berhati penuh kasih sebelum menghakimi.

Semoga dengan usaha itu Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang disebut beruntung oleh Nabi-Nya.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْغُرَبَاءِ الصَّالِحِيْنَ، وَأَحْيِ فِي قُلُوْبِنَا نُوْرَ السُّنَّةِ، وَاجْمَعْنَا مَعَ الصَّالِحِيْنَ

Amin, Ya Rabbal ‘Alamin

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ اْلكَرِيْمِ، وَنفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَاسْتغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

 

 

Khutbah 2

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ. وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا. أَمَّا بَعْدُ

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُواالله فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ. وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

 

 

Dr. Fathur Rozi, S.H.I, M.H.I., Ketua Bagian pendidikan Pondok Pesantren Al Fithrah Surabaya

 

EditorIrfan Abubakar, MA. dan Dr. Idris Hemay, M.Si.

Linkage