Khutbah Jumat: Ukhuwah di Tengah Konflik: Menolak Narasi Kebencian

blog

 

Khutbah 1

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا، وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ فَصَارُوْا بِنُوْرِ الْإِيْمَانِ بُنْيَانًا مَرْصُوْصًا وَأَرْكَانًا، َأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ جَعَلَ التَّقْوَى رِبَاطًا مَتِيْنًا، وجَمَعَ بِهَا الْقُلُوْبَ بَعْدَ الْفُرْقَةِ فَصَارُوْا بِهَا إِخْوَانًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَرْسَلَهُ باِلْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيَجْمَعَ الْقُلُوْبَ حَتَّى أَصْبَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ فِي ظِلِّ الْإِيْمَانِ مُتَحَابِّيْنَ مُتَنَاصِرِيْنَ إِخْوَانًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ وَحَّدَهُمُ الْإِيْمَانُ فَكَانْوْا فِي الشَّدَائِدِ أَعْوَانًا، وَفِي الْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ إِخْوَانًا، وَبَنَوْا بُنْيَانَهَا إِخْلَاصًا وَإِحْسَانًا، أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي الْمُذنِبَةَ بِتَقْوَى اللهِ، قَالَ اللهُ تعالى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ

 

Ma’asyiral mu’minin rahimakumullah

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Swt. yang telah melimpahkan karunia dan nikmat-Nya kepada kita semua. Di antara nikmat yang paling utama ialah nikmat bersaudara, hidup rukun, aman, dan damai. Kita bersyukur atas nikmat tersebut terlebih di tengah kecamuk perang yang melanda wilayah Timur Tengah akhir-akhir ini.

Marilah kita mensyukurinya dengan memelihara tali persaudaraan antar sesama umat. Mari kita ciptakan keharmonisan di tengah-tengah masyarakat. dengan menjauhi narasi-narasi ekstremisme yang memecah belah. Narasi-narasi yang tidak menginginkan kehidupan yang damai di negeri kita tercinta, Indonesia.

Shalawat serta Salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Sayyidul Anbiya, Nabi Muhammad Saw. Nabi penyelamat ummat dari kegelapan. Nabi yang selalu mengajarkan pentingnya persaudaraan. Nabi yang mencontohkan persaudaraan dengan mempersatukan antara Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar.

Hadirin Jamaah Jumat  yang dirahmati Allah,

Di tengah konflik geo-politik yang melanda Timur Tengah akhir-akhir ini, kita menyaksikan bahwa konflik tersebut telah memantik emosi di Media Sosial. Sebagai bangsa yang menekankan perdamaian dan persatuan hendaknya kita mewaspadai narasi provokatif yang memecah belah. Kita perlu mencegah jangan sampai narasi tentang konflik di Timur Tengah ini mengadu domba kita. Jangan sampai merusak persaudaraan sesama umat Islam dan anak bangsa.

Di antara narasi-narasi provokatif yang sering digaungkan ialah siapa saja yang mendukung Iran adalah pendukung aliran sesat. Narasi tersebut mencap penganut Syi’ah telah keluar dari ajaran Islam yang lurus. Kaum ekstremis menyebar narasi provokatif yang menstigma kelompok dalam Islam dengan label sesat. Narasi itu mengaitkan kelompok aliran dalam Islam dengan Yahudi dan Dajjal. Memprovokasi umat dengan mengatakan bahwa ajaran dan pandangan politik aliran tersebut, katakanlah Syi’ah, menyerupai Yahudi. Narasi itu mencap aliran tersebut telah merusak Islam dari dalam. Mengatakannya sebagai pengikut Dajjal di akhir zaman.

Jelas, semua cap dan tuduhan itu adalah bentuk provokasi yang bertujuan menciptakan konflik. Narasi itu ingin agar umat Islam terpecah-belah. Hendaknya kita menolak narasi seperti itu. Hendaknya kita ber-tabayyun sebelum mencap kelompok dalam Islam sebagai ajaran sesat.

Ma’asyiral Mu’miniin Rahimakumullah,

Narasi-narasi provokatif ini menggiring umat untuk saling bermusuhan. Menjebak umat untuk saling mencurigai dan saling berburuk sangka. Kita digiring untuk meyakini kebenaran narasi-narasi yang mereka sebarkan. Narasi-narasi yang didasarkan pada prasangka semata, tanpa mengetahui dan mendalami fakta yang sebenarnya. Padahal Allah Swt. telah mengingatkan kepada kita untuk menjauhi prasangka negatif kepada sesama.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. (Q.S. Al-Hujurat: 12)

Mari kita sejenak merenungkan dan bermuhasabah:

- Pernahkah kita ikut menyebarkan prasangka?

- Pernahkah kita mem-forward narasi kebencian?

- Pernahkah kita menuduh tanpa ilmu?

Bukankah Tuhan yang mereka sembah adalah Tuhan yang sama dengan yang kita sembah? Bukankah Nabi yang mereka jadikan panutan juga Nabi yang kita jadikan panutan? lantas atas dasar apa kita menghukumi mereka dengan label-label kafir dan sesat? Pantaskah kita menghakimi orang-orang yang mengucapkan kalimat Tauhid dengan kafir? Pantaskah kita disebut saudara seiman apabila hati kita dipenuhi kebencian terhadap sesama?

Bukankan Allah mengatakan: 

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (Q.S. Al-Hujurat: 10)

Persaudaraan yang hakiki ialah persaudaraan yang didasari rasa cinta dan kasih sayang kepada saudaranya seperti rasa cinta dan kasih sayang kepada diri sendiri. Seperti sabda Nabi Muhammad Saw.:

لَا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفسِهِ

“Tidak beriman (tidak sempurna keimanannya) salah seorang dari kalian, sampai dia mencintai orang lain (Saudaranya) sama dengan mencintai dirinya.”

Dengan demikian, orang yang mengaku beriman tidaklah mungkin merugikan dirinya sendiri, mengadu domba, serta memecah belah saudaranya dengan narasi-narasi provokatif. Narasi-narasi yang menyimpang dari ajaran Rasulullah Saw.

Prasangka bukan hanya dosa hati. Prasangka bisa menjadi dosa lisan. Dan kelak, semua akan diminta pertanggungjawaban. Firman Allah:

اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan akal pikiran, semuanya kelak akan dimintakan pertanggungjawaban.” (QS al-Isra:36)

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Terkait dengan masalah ini. Ada sebuah kisah pada masa Rasullah yang perlu kita jadikan sebagai pelajaran berharga. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Dzibyan.

Suatu saat Rasulullah Saw. mendapatkan laporan bahwa seorang sahabat bernama Usamah bin Zaid bin Haritsah telah menikam hingga mati seorang musuh, padahal orang itu sebelumnya telah mengucapkan Kalimat Tauhid.  Mendengar laporan itu, Rasulullah marah. Ketika pasukan Rasulullah kembali ke Madinah, beliau menginterogasi Usamah:

يَا أُسَامَةَ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلهَ إِلَّا الله

“Wahai Usamah, mengapa engkau membunuhnya setelah dia mengucapkan La Ilaaha illallah?”

Nabi mengucapkan pertanyaannya berulang-ulang. Lalu Usamah menjawab:

إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلَاحِ

“Ya Rasulullah sesungguhnya dia mengucapkannya hanya karena takut senjata (merasa terancam)”

Mendengar itu, Rasulullah Saw. berkata kepada Usamah:

أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا

“Mengapa tidak engkau robek saja hatinya agar kamu tahu apakah dia sungguh-sungguh atau berpura-pura?”

Usamah bin Zaid pun tersadar. Kemarahan Rasulullah membuatnya sangat menyesal dan berkata: Aku tidak akan pernah lagi membunuh siapa pun yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.

Di balik peristiwa tersebut terdapat pelajaran berharga bagi kita semua. Terkhusus bagi mereka yang mudah melabeli orang lain dengan kesesatan. Umat Islam dilarang keras menghukumi orang lain hanya berlandaskan kecurigaan. Apalagi melabeli sesama Muslim sebagai antek-antek musuh. Mencap mereka telah keluar dari Islam.

Ini menunjukkan larangan keras memvonis keyakinan, kepercayaan orang lain. Tidak selayaknya kita berprasangka buruk terhadap keyakinan saudara kita di manapun dan dari kelompok manapun. Kita tidak bisa menilai keyakinan orang lain karena hal itu perkara batin, yang hanya Allah yang tahu hakikatnya. Kita, manusia, hanya bisa menilai perilaku yang tampak di pelupuk mata kita saja.

نَحْكُمُ بِالظَّاهِرِ وَاللهُ يَتَوَلَّى السَّرَائِرِ

“Kita hanya menghukumi apa yang tampak dan Allah SWT yang menghukumi apa yang tersimpan di dalam hati seseorang”

Ma’asyiral Mu’minin Rahimakumullah,

Marilah kita saling menjaga kedamaian di negara kita Indonesia. Marilah kita pererat tali persaudaraan seagama, sebangsa dan setanah air. Kita jauhi sikap saling mengkafirkan dan  sikap merasa paling benar. Kita bukanlah makhluk paling sempurna. Kita tidak berhak memberikan hukuman pada mereka yang tidak sepaham dengan kita. Padahal Nabi Muhammad Saw. Menegaskan bahwa di antara ciri-ciri seorang Muslim adalah yang saudaranya selamat dari lisan dan tangannya.

الْمُسلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim yang sejati adalah yang selamat saudaranya dari lisan dan tangannya.”

Ketika tingkah laku kita bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Lantas siapa yang akan kita jadikan panutan, selain Rasulullah?

Bukankah Rasulullah Saw. suri tauladan terbaik umat manusia? Karena itu, marilah kita memohon kepada Allah Swt., semoga kita semua mampu senantiasa meneladani sifat yang dimiliki Rasulullah Saw. Terlebih di dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Agar tercipta kehidupan sosial yang dipenuhi oleh kedamaian, ketentraman, saling menghargai perbedaan, dan saling mencintai antar sesama umat manusia.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُم فِي القُرآنِ العَظِيْمِ، ونَفَعَنِي وَإِيَّاكُم بِمَا فِيْهِ مِنَ اﻵْيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَاستَغفِرُوا، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah 2

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، حَمدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيِّ أُرْسَلَه، أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهَ أَجْمَعِيْنَ، صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إْلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ.

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُواالله وَذَرُوا الفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ، وحَافِظُوا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَاعْلَمُوا أَنََّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْم وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِناَ إِبْرَاهِيْم، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْم وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِناَ إِبْرَاهِيْم فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَ مْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ وَغَافِرَ الذُّنُوْبِ وَالْخَطِيْئَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَالْفَوَاحِشَ وَالْآثَامَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِ صَلَاحُ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ لَا تُهْلِكْنَا وَأَهْلِكْ مَنْ فِي هَلاكِهِ صَلَاحُ الْإسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وأَذَلَّ الكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، اَللّٰهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلِ اللّٰهُمَّ وِلَاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هذِهِ الْبَلْدَةَ بَلْدَةٌ طيِّبةٌ مُبارَكَةٌ مُطْمَئِنَّةٌ آمِنَةٌ رَخِيَّةٌ مُستَظِلَّةٌ بِظِلِّ كِتَابِكَ وَمُسْتَلْزِمَةٌ بِهَدْيِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صلى اللهُ عليه وسلمَ، اَللّٰهُمَّ أَنْجِ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِي فَلِسْطِيْنَ خَاصَّةً وَفِي أَنْحَاءِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَاشْدُدِ اللّٰهُمَّ وَطأَتَكَ عَلَى أَعْدَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَدَمِّرْهُمْ تَدْمِيْرًا، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا، رَبِّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا الصِّغَارَ، رَبَّنَا اٰتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

 

 

Muh Andrian Pratama Lc.,MA., Pengajar dan Anggota Dewan Masyayikh Ponpes Putera Al Khairat Pusat Palu

 

EditorIrfan Abubakar, MA. dan Dr. Idris Hemay, M.Si.

 

 

Linkage