Khutbah Jumat: Jangan Pecah Umat: Meluruskan Makna Thaghut

blog

 

Khutbah 1

ٱلْـحَمْدُ للهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِيْنَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَى خَاتَمِ ٱلْأَنْبِيَاءِ وَٱلْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ٱلْأَمِيْنُ. قَالَ ٱللهُ تَعَالَى فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ، صَدَقَ ٱللَّهُ ٱلْعَظِيمُ.

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى ٱللهِ، فَقَدْ فَازَ ٱلْمُتَّقُوْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Salah satu kesyukuran terbesar kita adalah Allah Swt. menganugerahkan kita nikmat Islam. Lalu dengan nikmat itu kita dapat amalkan Islam secara bebas dan tenang di negara Indonesia. Negara ini menjunjung tinggi perdamaian dan kebebasan. Negara ini mendukung kita menjalankan nilai-nilai agama yang tumbuh di hati kita.

Shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad Saw. Semoga shalawat senantiasa terucap di lisan kita. Sebagai bukti cinta kita kepada sosok Nabi yang telah membangun pondasi nilai-nilai Islam. Beliau menjadikan Islam sebagai acuan segala konsep perdamaian dan konsep ketatanegaraan.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Kita perlu menyadari bahwa kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam. Bukan orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia. Konsekuensi, kesadaran itu menghadirkan tanggung jawab pada diri kita masing-masing. Agar kita bersedia menjaga kedua nikmat tersebut: nikmat bernegara Indonesia dan nikmat beragama Islam. Kita harus melakukan upaya nyata dalam menjaga dan menyeimbangkan Islam dan negara kita Indonesia.

Ketika kita menganggap diri kita hanya sebagai orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia. Justru akan muncul mindset acuh dan tidak peduli pada kondisi negeri ini. Padahal kita dilahirkan di negeri ini. Kita berdiri tegak di atas tanahnya. Kita meneguk kebahagiaan dari mata air yang dihasilkannya.

Bukan hanya itu, pola pikir yang demikian berpotensi menghasilkan orang-orang yang mempertentangkan Islam dan Indonesia.Apalagi jika disusupi dengan ideologi ekstremis yang datang dari luar. Ideologi yang sengaja memecah belah umat Islam. Ideologi yang merusak Indonesia demi mengambil keuntungan, mengeksploitasi kekayaan negara kita.

Jama’ah jumat yang diberkahi Allah Swt.,

Kita harus membuka mata bahwa di negara kita telah berjalan skenario yang tujuannya memecah belah umat. Skenario itu muncul dalam berbagai macam isu dan propaganda. Tujuannya untuk mempertentangkan antara Islam dan negara Indonesia.

Dengan strategi dan propaganda itu, tidak sedikit pihak yang terpengaruh. Mereka ikut mengganggu kesatuan dan persatuan Indonesia. Sengaja menciptakan narasi keliru tentang Islam. Sengaja memotong-motong ayat dan memelintir dalil-dalil agama. Itu dilakukan untuk melegitimasi tujuannya. Mendapatkan dukungan dan hati masyarakat Islam. Dan pada akhirnya tidak sedikit yang terkena provokasi.

Dengan sesat pikir, ada pihak yang mencap pemerintah kita adalah pemerintah Thaghut atau kafir. Menuduh Polisi dan TNI sebagai pendukung Thaghut (Ansharut Thaghut). Propagandanya mengatakan bahwa pendukung thaghut halal darahnya. Fakta membuktikan peristiwa memilukan telah terjadi. Beberapa anggota polisi ditikam saat melakukan shalat subuh. Seorang polisi ditembak di depan kantornya. Insiden ini menjadi bukti bahwa propaganda mereka berhasil.

Kaum Muslimin Rahimakumullah,

Jika kita merasa orang beriman. Kita akan menunjukkan rasa cinta kepada negara dan penduduknya. Kita akan berjuang untuk menjaga negara kita dan ikut membantu melindungi warganya. Salah satunya, dengan menjaga persatuan dan kesatuan. Mencegah dari ancaman perpecahan. Caranya bagaimana? Antara lain, kita membentengi diri kita dan generasi muda dengan ilmu agar tidak mudah terhasut dengan propaganda yang mereka jalankan.

Dalam konteks ini, sangat penting untuk waspada terhadap manipulasi doktrin agama, yang sering digunakan sebagai instrumen perpecahan. Ada pihak yang mengambil sebagian ayat-ayat dari Al-Quran dan menafsirkannya tanpa konteks ilmiah yang lengkap, sehingga menghasilkan interpretasi yang berbeda dan provokatif. Ayat-ayat ini kemudian digunakan sebagai pembenaran untuk mengutuk orang lain, bahkan untuk merusak struktur kehidupan nasional. Di antara dalil yang dipelintitr adalah QS. Al-Maidah ayat 44:

وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (QS. Al-Maidah: 44)

Melalui potongan ayat tersebut, ada pihak yang menebarkan propaganda dengan memelintir penafsirannya. Melalui pelintiran tersebut, provokasi disebar bahwa negara Indonesia adalah negara kafir karena tidak menerapkan hukum syariat secara penuh. Begitu pula, tuduhan pun dilayangkan bahwa aparat yang menjaga negara kita sebagai pelindung Thaghut. Bahkan, tidak segan-segan menuduh pemimpin negara kita sebagai Fir’aun.

Memelintir penafsiran ayat Al-Qur’an merupakan sebuah dosa. Apalagi tujuannya untuk mendapatkan kekayaan duniawi. Rasulullah jauh-jauh hari sudah memberi peringatan keras. Siapapun yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan hawa nafsunya, maka dia telah memesan satu tempat di neraka.

Imam At-Thabari dalam kitab “Jami’ul Bayan” menjelaskan bahwa Surat Al-Maidah ayat 44 ini turun dalam merespon orang-orang Yahudi. Ayat sebelum dan sesudahnya juga turun untuk umat Yahudi. Ayat-ayat ini secara beruntun bercerita tentang umat Yahudi. Jadi, ayat-ayat ini lebih tepat diposisikan sebagai kabar berita tentang umat Yahudi. Sangat tidak tepat menggunakan potongan ayat ini untuk menggambarkan pemerintahan di negara kita. Dengan segala kekurangannya, pemerintah Indonesia berusaha mengatur kepentingan umat Islam dengan baik.

Abdullah bin Abbas menjelaskan ayat ini mengacu kepada orang-orang yang sengaja mengingkari hukum Allah dengan hati dan lisannya. Sedangkan orang yang tetap meyakini hukum Allah, namun gagal menjalankannya maka statusnya tetap merupakan orang yang beriman, meskipun tidak mengamalkan imannya dengan baik. Orang itu tidak otomatis menjadi kafir atau masuk dalam cakupan ayat ini. Orang itu, masuk kategori kufur nikmat, bukan kafir dalam artian keluar dari Agama Allah SWT.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Dari sini kita dapat melihat bagaimana ayat-ayat Allah dipermainkan. Ada pihak yang melakukan itu untuk kepentingan duniawi. Ada pihak yang ingin merebut dan mengeksploitasi negara kita. Narasi yang dimainkan mereka adalah narasi sesat dan menyesatkan umat Islam. Menuduh pemerintah sebagai kafir adalah kesesatan yang nyata.

Ketika pemerintah dituduh seperti Fir’aun. Justru kita patut mempertanyakan, “Apakah ada di antara pemimpin kita yang mengaku dirinya Tuhan sebagaimana yang dilakukan Fir’aun?”.

Fir’aun memaksa rakyatnya dengan kekerasan. “Apakah pemerintah kita secara nyata memaksa kita untuk mengakuinya sebagai Tuhan?”.

Fir’aun melarang praktek beragama selain yang telah diatur olehnya. “Apakah pemimpin kita melarang kita beribadah sesuai dengan syariat agama Islam?”

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sederhana di atas tentu sudah menjadi bukti kesesatan pihak-pihak provokator ekstremis.

Tidak hanya itu. dalil-dalil lain digunakan untuk menjalankan skenario jahat. Ada pihak yang menggunakan potongan ayat QS. An-Nisa ayat 60:

يُرِيْدُوْنَ اَنْ يَّتَحَاكَمُوْٓا اِلَى الطَّاغُوْتِ وَقَدْ اُمِرُوْٓا اَنْ يَّكْفُرُوْا بِهٖ ۗ

“Mereka ingin berhukum kepada thāghūt padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkarinya.” (QS. An-Nisa: 60)

Potongan ayat ini juga dipelintir penafsirannya. Dengan dasar ayat ini, provokasi ditebarkan bahwa pemerintah menerapkan sistem thaghut. Tuduhan pun dilayangkan bahwa semua yang menopang kinerja pemerintah seperti polisi dan TNI sebagai Ansharut Thaghut atau penolong Thaghut. Banyak yang terpapar dengan narasi ini. Mereka yang terpapar melakukan aksi-aksi teror di beberapa tempat di negeri kita. Padahal, mayoritas ulama tafsir menjelaskan makna thaghut pada konteks ayat tersebut bukan pemerintah sebuah negara. Tapi berhala dan dukun-dukun yang percaya pada berhala tersebut.

Dalam kitab “Mafatihul Ghaib” dijelaskan, ayat itu turun berkenaan dengan peristiwa yang melibatkan kaum munafik di masa Nabi. Kaum munafik lebih memilih dukun-dukun mereka untuk memutuskan satu perkara. Mereka menolak menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai hakim yang memutus perkara di antara mereka. Padahal mereka sebelumnya sepakat akan hal itu. Negara Indonesia yang berasaskan Pancasila sangat jauh dari makna Thaghut. Bahkan sebaliknya. Makna dan nilai Pancasila sangat sejalan dengan misi Al-Quran dan Hadits Nabi. Jikapun masih ada yang menolak fakta ini, silahkan minta pada mereka. Apakah ada dalil yang bertentangan dengan nilai luhur Pancasila sebagai asas negara kita?

Kata thaghut dalam bahasa Arab berasal dari kata thagha yang berarti tindakan melampaui batas. Menyembah berhala dikatakan thaghut karena tindakan itu melampaui batas.

Tindakan para provokator di atas dapat dikatakan thaghut. Karena cara berpikir mereka melampaui batas. Akibatnya berujung kepada tindakan yang merusak dan membahayakan.

Sekarang mari kita gunakan logika sederhana. Siapa sebenarnya thaghut pada konteks negara kita. Apakah pemerintah/pemimpin kita yang senantiasa berupaya menjaga stabilitas dan perdamaian nasional? Ataukah para provokator ekstremis yang selalu menebar propaganda, fitnah dan pembodohan?

Jelas para provokatorlah thaghut itu. Mereka yang memecah belah umat. Mereka tidak segan melakukan tindakan-tindakan pengrusakan dan kekerasan. Mereka tega meledakkan bom yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa warga tak berdosa.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Bhinneka Tunggal Ika adalah pedoman kita dalam bermasyarakat. Bhinneka Tunggal Ika sudah sejalan dengan prinsip ajaran Islam. Konsep toleransi yang dikandungnya telah sejalan dengan teladan yang ditunjukkan Rasulullah Saw.. Selama hidupnya di Madinah, Nabi membimbing umat Islam untuk hidup berdampingan dengan umat Yahudi, Nasrani, dan Suku-Suku yang masih pagan. Tapi meskipun berbeda agama dan suku, mereka Bersatu padu membela kota mereka. Kota Madinah.

Islam yang disebarkan oleh para leluhur kita di Nusantara telah mengandung nilai-nilai kerukunan dan toleransi. Sifat Islam yang ramah dan penuh welas asih telah menjadi DNA bangsa kita. Jadi jangan biarkan kelompok kecil merusak DNA kita. Jangan biarkan mereka merusak persatuan dan kerukunan bangsa kita yang sudah ratusan tahun terjalin.

Kaum Muslimin Rahimakumullah,

Islam yang tertanam dalam hati kita merupakan agama Rahmah. Rasulullah Muhammad Saw. diutus untuk menyebarluaskan Rahmah Allah bagi seluruh alam. Tanggung jawab kita sebagai Muslim tentu saja meneruskan amanah risalah ini. Kita harus menebarkan kasih sayang dan perdamaian pada seluruh dunia. Kita harus buktikan kepada dunia bahwa kita adalah penjaga sekaligus penebar perdamaian.

Hendaklah kita tidak menyebarkan narasi yang membuka jalan bagi kekerasan. Janganlah sampai jari kita ikut menjadi bahan bakar yang menyulut fitnah. Jangan sampai lisan kita menjadi saksi yang memberatkan di akhirat kelak.

Semoga kita dan generasi kita menjadi generasi pelanjut cita-cita para ulama. Semoga kita mampu melanjutkan dakwah Islam yang ramah dan Rahmah sebagaimana yang telah mereka tanamkan dalam sanubari Bangsa ini. Kita perkuat literasi Islam dengan menyebarluaskan sumber-sumber bacaan yang tepat. Semoga kita terjauhkan dari narasi yang provokatif provokasi yang bertujuan merusak negara dan memecah belah persatuan kita.

بَارَكَ ٱللهُ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْعَظِيمِ، وَنَفَعَنَا بِمَا فِيهِ مِنَ ٱلْآيَاتِ وَٱلذِّكْرِ ٱلْحَكِيمِْ، وَأَسْتَغْفِرُ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا مِنَ ٱلذَّنْبِ ٱلْعَظِيْمِ، إِنَّهُ هُوَ ٱلْغَفُوْرُ ٱلرَّحِيْمُ.

 

 

Khutbah 2

ٱلْـحَمْدُ للهِ ٱلَّذِي أَمَرَنَا بِٱلْاِتِّحَادِ وَٱلِاعْتِصَامِ بِحَبْلِ ٱللهِ ٱلْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، ٱلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَ ٱللهِ، ٱتَّقُوا ٱللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَٱسْتَقِيْمُوا وَٱرْجُوا لَهُ مَغْفِرَةَ رَبِّ ٱلْعَالَمِيْنَ. وَٱعْلَمُوا أَنَّ سُبْحَانَ ٱللهِ أَكْرَمَ بَنِي آدَمَ بِأَنْ جَعَلَهُ خَلِيفَةً فِي ٱلْأَرْضِ وَكَرَّمَهُ بِنِعْمَةِ ٱلْعَقْلِ وَٱلْعِلْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ ٱلْمُرْسَلِينَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَٱرْضَ ٱللّٰهُمَّ عَنِ ٱلْخُلَفَاءِ ٱلرَّاشِدِيْنَ سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ ٱلصَّحَابَةِ وَٱلتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ ٱلدِّيْنِ. وَٱجْعَلْنَا مَعَهُمْ بِجَنَّاتِكَ يَا أَرْحَمَ ٱلرَّاحِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ حَالَ وُلَاةِ ٱلْإِسْلَامِ وَٱنْصُرِ ٱلْمُسْلِمِينَ وَأَهْلِكِ ٱلْكُفَّارَ وَٱلْمُشْرِكِينَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ ٱلدِّينِ. ٱللَّهُمَّ ٱغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَٱلْمُسْلِمَاتِ وَٱلْمُؤْمِنِيْنَ وَٱلْمُؤْمِنَاتِ، ٱلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَٱلْأَمْوَاتِ. إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ ٱلدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ ٱلْحَاجَاتِ. رَبَّنَا اٰتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ ٱللهِ، إِنَّ ٱللهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي ٱلْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ ٱلْفَحْشَاءِ وَٱلْمُنْكَرِ وَٱلْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَٱذْكُرُوا ٱللهَ ٱلْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ ٱللهِ أَكْبَرُ.

 

 

Abd. Latif, S.Pd, M.Pd.I., Pembina pondok pesantren An-Nahdlah Makassar

EditorIrfan Abubakar, MA. dan Dr. Idris Hemay, M.Si.

 

Linkage