Khutbah 1
ٱلْـحَمْدُ للهِ، ٱلْـحَمْدُ للهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِٱللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ ٱللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، ٱللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan yang bukan hanya terlihat dari banyaknya ibadah kita kepada Allah, tetapi juga dari bagaimana hati kita memperlakukan sesama manusia. Karena Islam yang kita cintai ini, bukan hanya mengajarkan tauhid kepada Allah, tetapi juga menegaskan pentingnya akhlak mulia kepada seluruh manusia.
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Di era digital hari ini kita menyaksikan fenomena yang memprihatinkan. Banyak generasi muda belajar agama bukan dari ulama, bukan dari kitab, tetapi dari potongan video pendek, tulisan tanpa pengarang yang jelas, bahkan propaganda di Media Sosial yang belum jelas kebenarannya.
Padahal tak jarang di dalamnya sering muncul narasi yang keras dan provokatif. Narasi yang menyebutkan bahwa seorang Muslim sejati harus membenci semua yang berbeda. Bahwa seorang Muslim harus memandang dunia hanya dalam dua kubu. Kubu Iman dan kubu Kafir. Narasi seperti ini terdengar berani. Terdengar penuh semangat kebenaran. Ketahuilah, Islam memang membedakan akidah. Tetapi Islam tidak mengajarkan kebencian kepada sesama manusia.
Namun tanpa kita sadari, narasi tersebut sedang menanamkan kebencian dalam hati umat. Akibatnya kita melihat fenomena menyedihkan yang terjadi di sekitar kita. Ada yang mudah memusuhi tetangganya karena berbeda agama. Ada yang mudah mengkafirkan sesama Muslim hanya karena perbedaan pendapat. Bahkan ada yang merasa semakin saleh ketika semakin banyak orang yang ia benci.
Padahal jamaah sekalian, Islam tidak pernah menjadikan kebencian sebagai ukuran keimanan. Sebaliknya, Rasulullah SAW membangun umat ini dengan rahmat, kebijaksanaan, dan keluhuran akhlak.
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah,
Orang orang yang berpandangan ekstrem tersebut, sebut saja kelompok ekstremis, seringkali mengutip ayat Al-Qur’an untuk membenarkan sikap kebencian tersebut. Di antaranya firman Allah dalam QS. Al-Mujadalah ayat 22:
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُّؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ يُوَاۤدُّوْنَ مَنْ حَاۤدَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ
“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkasih sayang dengan orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al-Mujadalah: 22)
Ayat ini sering disalahtafsirkan. Seolah-olah Islam melarang setiap hubungan baik dengan orang yang berbeda keyakinan. Padahal penafsiran seperti ini memotong konteks ayat dan mengabaikan ayat lain dalam Al-Qur’an. Konteks yang dipotong dalam penafsiran ayat ini adalah konteks peperangan dan penindasan. Padahal yang dimaksud adalah pihak yang memerangi, memusuhi dan menindas kaum Muslim. Bukan setiap orang yang berbeda keyakinan dengan Muslim. Tafsir seperti ini adalah pola pemahaman yang sangat berbahaya.
Bukankah Al-Qur’an sendiri memberikan penjelasan yang sangat jelas dalam firman Allah:
لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8).
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam membedakan antara permusuhan karena perang dan hubungan kemanusiaan dalam kehidupan damai meskipun berbeda keyakinan agama. Kita boleh membenci kekufuran sebagai akidah. Tetapi kita tidak boleh membenci manusia dan berbuat zalim kepadanya. Karena Allah memerintahkan kita untuk berbuat adil dan berbuat baik kepada mereka yang tidak memerangi kita.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Perilaku berbuat baik terhadap manusia telah dicontohkan Nabi Muhammad Saw. kepada para sahabat mulia. Suatu hari di Madinah, Rasulullah melihat iring-iringan jenazah lewat. Beliau langsung berdiri menghormatinya. Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, itu jenazah orang Yahudi.” Rasulullah pun menjawab: “Bukankah ia juga manusia?”
Allahu akbar!
Dalam satu kalimat sederhana, Rasulullah mengajarkan prinsip yang sangat besar: Perbedaan agama tidak menghapus kemanusiaan.
Dalam peristiwa lain yang diriwayatkan dalam kisah yang masyhur, seorang wanita Yahudi tua setiap hari melemparkan kotoran kepada Rasulullah ketika beliau lewat di depan rumahnya. Namun suatu hari wanita itu tidak muncul. Rasulullah justru bertanya tentang keadaannya.
Ketika diketahui bahwa wanita itu sakit, Rasulullah datang menjenguknya. Wanita itu terkejut melihat akhlak Nabi. Ia berkata dengan penuh keharuan: “Orang seperti engkau tidak mungkin membawa agama yang buruk.” Hingga akhirnya wanita Yahudi tersebut memeluk Islam dengan penuh kesadaran hati.
Inilah akhlak Rasulullah, bukan menebar kebencian. Tetapi berdakwah dengan kemuliaan jiwa yang menaklukkan hati manusia.
Hadirin Rahimakumullah,
Karena itu kita harus memahami satu prinsip besar dalam Islam. Kita tegas dalam aqidah. Namun kita mulia dalam akhlak.
Kita mencintai Islam sepenuh hati. Namun kita tidak membenci kemanusiaan.
بَارَكَ ٱللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي ٱلْقُرْاٰنِ ٱلْعَظِيمِْ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ ٱلْاٰيَاتِ وَٱلذِّكْرِ ٱلْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ ٱللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ ٱلْمُسْلِمِيْنَ، فَٱسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ ٱلْغَفُوْرُ ٱلرَّحِيْمُ.
Khutbah 2
الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْقَ لَهُ، اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ مَصَابِيْحِ الْغُرَرِ. اَمَّا بَعْدُ،
فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالَى فِيْمَا اَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ.
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah,
Dari khutbah tadi kita belajar bahwa kekuatan Islam tidak hanya terletak pada dalil dan argumentasi, tetapi juga pada keindahan akhlak para pemeluknya.
Imam Al-Ghazali pernah menjelaskan bahwa manusia sering tertarik kepada kebenaran bukan hanya karena logika, tetapi karena akhlak mulia orang yang menyampaikannya. Karena itu Rasulullah SAW bersabda:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمٰنِ، اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian.”
Bayangkan jika setiap Muslim memiliki hati yang penuh rahmat. Tetangga akan merasakan kedamaian. Masyarakat akan merasakan keamanan. Dan dunia akan mengenal Islam dengan keindahan akhlak, bukan dari peperangan dan terorisme.
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah,
Di zaman ini kita harus waspada terhadap propaganda kebencian yang beredar di dunia digital khususnya Media Sosial. Tidak semua yang mengatasnamakan Islam benar-benar memahami agama ini. Tidak semua yang berbicara keras tentang Islam benar-benar mengikuti akhlak Nabi yang kita cintai. Karena itu Allah mengajarkan kepada kita prinsip penting dalam Al-Qur’an:
فَتَبَيَّنُوْٓا
“Telitilah kebenaran informasi.”
Jangan mudah percaya pada narasi yang membakar emosi. Jangan mudah terprovokasi oleh propaganda yang memecah belah umat! Tabayyun-lah sebelum menyebarkan. Tabayyun-lah sebelum membenci. Tabayyun-lah sebelum mencap orang lain!
Karena Islam yang sejati selalu menghadirkan tiga hal dalam hati seorang Muslim: Keyakinan yang kuat, akhlak yang mulia, dan kasih sayang kepada manusia.
Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing tentang perilaku kita dalam bermedia sosial:
- Apakah kita suka ikut membagikan potongan video yang membuat hati panas?
- Apakah kita lebih cepat membenci daripada memahami apa yang terjadi?
- Apakah kita menilai orang lain, padahal iman kita sendiri belum tentu beres?
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah,
Mari kita tanamkan dalam hati kita satu prinsip yang agung: Kita mencintai Islam sepenuh jiwa. Namun kita tidak membenci kemanusiaan.
Kita menjaga tauhid kita. Namun kita juga menjaga akhlak kita. Karena Rasulullah yang kita teladani, diutus bukan untuk menyebarkan kebencian, tetapi sebagai rahmatan lil-alamin (rahmat bagi seluruh alam).
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللّٰهَ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ اَعِزَّ الْاِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ، وَاجْعَلْ فِي قُلُوْبِهِمُ الْإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبي وَيَنْهَي عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ
Mgs. Abdus Salam, ST., Ma'had Al-Kautsar Palembang
Ridho, M.Hum., Dewan Pengurus Pondok Pesantren Ar Rahman Palembang
Editor: Irfan Abubakar, MA. dan Dr. Idris Hemay, M.Si.