الـحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الإِسْلَامَ دِينَ السَّلَامِ وَالأَمَانِ، وَحَرَّمَ دِمَاءَ المُسْلِمِينَ وَأَعْرَاضَهُمْ كَحُرْمَةِ هَذَا البَلَدِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الصَّادِقُ الوَعْدِ الأَمِينُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي القُرْاٰنِ الكَرِيمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Ma’asyirol Muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang berarti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Di tengah riuhnya zaman yang penuh dengan fitnah. Di tengah derasnya arus informasi. Ada satu bentuk ketakwaan yang seringkali terlupakan. Yakni: takwa dalam menjaga hati dan lisan.
Jamaah sidang jum’at yang dirahmati Allah,
Sungguh tragis. Ketika kata-kata tak lagi digunakan untuk merangkul yang jauh. Justru dipakai untuk memukul dan menghardik yang dekat. Ketika lisan lebih tajam dari pedang di medan perang. Bukan untuk menebas kezaliman, melainkan untuk mengkafirkan saudara seiman. Ini adalah racun yang sangat kejam. Ini sebuah penyakit hati. Penyakit yang membuat pelakunya merasa seolah memegang “kunci surga”. Lalu dengan angkuhnya, ia menutup pintu rahmat bagi muslim lainnya.
Sangat disayangkan.
Ketika seorang muslim dengan mudahnya melontarkan vonis kafir hanya karena perbedaan sudut pandang. Ia merasa sedang membela agama. Padahal, ia sedang meruntuhkan bangunan ukhuwah yang telah susah payah ditegakkan. Rasulullah Saw.menegakkan ukhuwah dengan cinta dan kasih sayang. Fenomena ini adalah luka lama yang kembali menganga. Sikap ini disebut Takfiri. Ini adalah kebiasaan mudah mengkafirkan sesama Muslim tanpa alasan yang hak. Takfiri adalah bibit radikalisme yang paling nyata. Ia memecah belah persaudaraan. Ia menghancurkan kedamaian. Ia dapat berujung pada tragedi pertumpahan darah yang memilukan di tengah-tengah kaum muslimin.
Ma’asyirol Muslimin rahimani wa rahimakumullah
Kita harus waspada terhadap cara berpikir kelompok takfiri yang kerap mencabut ayat Al-Qur’an dari akar maknanya. Mereka seringkali menyalahgunakan QS. Al-Ma’idah ayat 44 sebagai alat legitimasi untuk memvonis kafir secara serampangan kepada individu maupun pemimpin yang dianggap tidak sejalan dengan meraka. Mereka memelintir firman Allah:
وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (QS. Al-Māidah: 44)
Padahal, para ulama ahli tafsir telah memberikan batasan yang jelas. Ayat ini merujuk pada kekufuran besar atau kufr akbar. Kufur besar apabila seseorang membangkang hukum Allah dan meyakini hukum selain Allah lebih baik. Sedangkan bukan kufur besar, apabila seseorang jatuh pada dosa/kezaliman karena lemah, hawa nafsu atau kepentingan. Orang itu tetap Muslim selama tidak mengingkari iman.
Islam adalah agama yang sangat melindungi status keislaman seseorang. Selama seseorang bersyahadat. Selama ia mengerjakan shalat. Selama ia menjadikan Ka’bah sebagai kiblat, maka darah, harta, dan kehormatannya adalah haram untuk ditumpahkan. Bahkan Allah SWT telah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an agar tidak terburu-buru menghakimi keislaman seseorang. Allah SWT berfirman dalam surah An-Nisa ayat 94:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا ضَرَبْتُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَتَبَيَّنُوْا وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَنْ اَلْقٰىٓ اِلَيْكُمُ السَّلٰمَ لَسْتَ مُؤْمِنًاۚ تَبْتَغُوْنَ عَرَضَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۖ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: Kamu bukan seorang mukmin (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia.” (QS. An-Nisa: 94)
Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,
Rasulullah Saw. telah memberikan peringatan tegas kepada umatnya. Jangan semena-mena melabeli saudara dengan sebutan kafir.
Mari kita bermuhasabah. Mari kita merenungkan perbuatan kita selama ini:
- Pernahkah kita mudah menuduh sesat?
- Pernahkah kita merasa paling selamat dari adzab Allah?
- Pernahkah kita menyebarkan potongan ceramah yang memecah belah?
Dewasa ini kita menyaksikan takfiri tidak hanya lewat mulut. Tapi lewat jari. Dengan jari-jarinya orang membuat status, dengan jari-jarinya ia mengetik komentar, dengan jari pula ia menyebarkan potongan video di Media Sosial. Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda:
إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيْهِ: يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا
“Apabila seseorang berkata kepada saudaranya, ‘Wahai kafir’, maka tuduhan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya.” (HR. Bukhari & Muslim).
Mencela sesama kaum muslimin merupakan perbuatan dosa besar. Terlebih lagi jika sampai pada tingkatan mengkafirkan sesama Muslim. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi SAW bersabda :
سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
“Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.” (HR. Bukhari no. 48 dan Muslim no. 64)
Ketahuilah, yang lebih berbahaya dari sekadar mencela adalah melemparkan tuduhan kafir kepada sesama Muslim tanpa dasar yang syar’i. Ini adalah tindakan yang ceroboh. Fenomena ini kian marak menjangkiti sebagian kaum Muslimin akibat lemahnya pemahaman terhadap aqidah dan buruknya hati seorang muslim. Padahal, begitu banyak hadis Nabi SAW yang memberikan peringatan keras akan bahaya tindakan ini.
Ketahuilah bahwa di balik tuduhan kafir itu terdapat risiko besar yang akan berbalik arah. Jika tuduhan tersebut ternyata tidak benar dan tidak berdasar, maka label “kafir” itu secara otomatis akan kembali kepada si penuduh itu sendiri. Ini adalah sebuah risiko teologis yang teramat besar dan mengerikan.
Maka takutlah kepada Allah SWT. Takutlah kepada Allah. Takutlah kepada Allah. Mengkafirkan seorang muslim sama saja dengan menganggap halal darahnya, memutus hubungan warisnya, dan membatalkan status pernikahannya. Sungguh, itu adalah fitnah dan kehancuran syariat yang luar biasa.
Jika kita ragu, tahan lisan. Jika tidak paham, bartanyalah. Jika berbeda pendapat, jaga adab dan kesantunan.
Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,
Sejarah mencatat bahwa kelompok pertama yang membawa virus takfiri adalah kaum Khawarij. Mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, dan para sahabat Nabi hanya karena perbedaan ijtihad politik. Dalam panggung sejarah Islam, munculnya kelompok Khawarij menjadi titik hitam yang memberikan pelajaran berharga bagi generasi setelahnya. Mereka dikenal sebagai kelompok yang memiliki semangat ibadah yang luar biasa, sholat malam yang panjang dan lisan yang tak henti melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Namun ironisnya mereka justru menjadi kelompok pertama yang menyebarkan “virus” takfiri. Nabi SAW bersabda :
يَخْرُجُ فِي اٰخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الأَحْلَامِ، يَقُوْلُوْنَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّيْنِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ
Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usianya muda, akalnya pendek, mereka berbicara dengan ucapan sebaik-baik manusia, mereka membaca Al-Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang meluncur dari busurnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hari ini, pola yang sama bisa muncul lagi. Semangat ibadah tinggi, tetapi adab dan ilmu rendah. Mereka mudah menvonis dan membenci. Hadits di atas adalah sebuah peringatan untuk sepanjang masa. Beragama yang tidak disertai dengan ilmu dan akhlak mulia, dapat memunculkan sikap ekstrem, eksklusif, dan gampang menghakimi. Beragama yang justru bertentangan dengan semangat Islam yang rahmatan lil-alamin.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ketahuilah bahwa dampak paling berbahaya dari pemahaman yang kaku ini adalah munculnya sikap ekstrem dalam beragama. Sahabat Nabi SAW, yaitu Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, pernah menyebutkan salah satu ciri khas kelompok ini:
“Mereka mengambil ayat-ayat yang sebenarnya ditujukan untuk kaum kafir, lalu mereka gunakan untuk menghakimi dan mengafirkan sesama Muslim.”
Bukankah kita seringkali menyaksikan fenomena yang memprihatinkan di tengah umat? Ketika seseorang gagal memahami konteks ayat-ayat Allah, ia justru dengan ringannya melontarkan vonis berat kepada saudara seimannya. Ayat yang seharusnya menjadi cermin untuk memperbaiki diri, justru disalahgunakan menjadi senjata untuk merendahkan sesama.
Ketahuilah, salah satu hal paling berbahaya ialah memahami dalil-dalil tanpa hikmah. Bukankah Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk, pengingat bagi jiwa yang gersang? Bukan sebagai alat penghakiman untuk memutus tali persaudaraan? Apakah kita tidak malu terhadap Nabi SAW.? Beliau berdakwah 23 tahun lamanya, berdakwah agar orang-orang kafir masuk kedalam Islam, namun ternyata ada di antara kaum muslimin yang menjadikan al-Qur’an sebagai dalil untuk mengeluarkan muslim lainnya dari agama Islam.
Ma’asyirol Muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Ketahuilah bahwa para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sangat berhati-hati dalam masalah takfiri. Selama masih ada kemungkinan yang menyelamatkan keislaman seseorang, maka kita hendaknya tidak tergesa-gesa menjatuhkan vonis.
Salah satu kaidah utama yang dipegang oleh para ulama ialah :
نَحْنُ نَحْكُمُ بِالظَّوَاهِرِ وَاللهُ يَتَوَلَّى السَّرَائِرَ
“Kita menghukum secara lahiriah, dan Allah-lah yang memegang rahasia (isi hati).”
Kaidah ini mengingatkan kita pada sebuah peristiwa besar di medan jihad yang melibatkan sahabat tercinta Rasulullah SAW, Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu. Usamah adalah salah seorang panglima Besar dalam Islam. Di tengah kecamuk perang, beliau menghunuskan pedang kepada seorang musuh, namun di detik-detik terakhir, orang tersebut bersaksi mengucapkan kalimat La ilaha illallah. Akan tetapi, Usamah tetap melayangkan pedangnya karena menyangka syahadat tersebut hanyalah tameng untuk menyelamatkan diri dari kematian.
Mendengar kejadian tersebut, Rasulullah SAW marah. Lalu beliau dengan nada tinggi menegur Uamah dengan sangat keras seraya bersabda:
أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ فَتَعْلَمَ أَصَادِقٌ هُوَ أَمْ كَاذِبٌ؟
“Apakah engkau telah membedah hatinya sehingga engkau tahu apakah dia mengucapkannya dengan tulus atau tidak?”
Apakah ini tidak cukup bagi kita untuk menjadikannya sebagai sebuah pelajaran berharga dari Nabi Muhammad SAW, bahwa setiap orang yang mengucapkan syahadat adalah seorang muslim terlepas apakah ia mengucapkannya karena rasa takut atau bahkan hanya berpura-pura saja.
Maka hendaknya kita menjaga diri dari mengkafirkan orang yang menghadap kiblat (ahlul qiblat) selama mereka masih mengucapkan “Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah”. Juga selama mereka tidak melakukan hal yang membatalkan keislamannya secara mutlak. Sesungguhnya dalam masalah darah dan kehormatan seorang Muslim, ulama sangat berhati-hati. Salah menumpahkan darah seorang Muslim adalah dosa yang sangat besar.
Ma’asyirol Muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Dampak dari paham takfiri bukan hanya urusan lisan, tapi meluas pada banyak hal:
Takfiri dapat menyebabkan hancurnya ikatan silaturahmi antar sesama Muslim; Takfiri dapat memutus hubungan antara murid dan gurunya. Bahkan yang lebih memilukan, takfiri dapat menghancurkan bakti seorang anak kepada orang tuanya. Ketahuilah, fenomena ini telah nyata terjadi dan menjadi fitnah di tengah-tengah masyarakat kita.
Dampak kelam selanjutnya adalah runtuhnya stabilitas dan keamanan umat. Paham takfiri seringkali menjadi pintu masuk bagi tindakan ekstremisme yang melegalkan kekerasan. Takfiri dapat berujung pada aksi terorisme dengan mengatasnamakan agama. Padahal, Islam datang sebagai rahmat bagi semesta alam, bukan menjadi alasan untuk merampas hak kehidupan sesama manusia.
Rasulullah SAW mengibaratkan mukmin satu dengan lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan. Namun hari ini, yang terjadi justru sebaliknya. Kita sibuk meruntuhkan tiang-tiang bangunan itu dari dalam. Sementara musuh-musuh Islam bersorak sorai, karena mereka tidak perlu lagi mengangkat senjata, mereka cukup melihat kita saling menghancurkan karena ego dan perbedaan yang sebenarnya kecil.
Oleh karena itu, marilah kita kedepankan sikap husnudzon dan persatuan. Berhentilah mencari kesalahan dan mulailah mencari persamaan. Jadikan perbedaan sebagai suatu keindahan, tempuhlah jalan diskusi yang baik, bukan saling menjatuhkan martabat atau bahkan dengan memvonis kekafiran terhadap sesama muslim yang akan menjadikan berbagai macam kerusakan dan kehancuran.
Semoga Allah menanamkan dalam hati kita kebaikan dan menjauhkan dari segala keburukan. Semoga Allah melembutkan hati kita agar saling memaafkan, melapangkan dada kita agar mampu menerima perbedaan, dan menguatkan pundak kita untuk saling merajut ukhuwah Islamiyah. Semoga Allah wafatkan kita kelak dalam keadaan muslim dan dalam keadaan husnul khotimah. Aaamiin yaaa rabbal alamin...
Sebelum menutup khutbah ini, khatib menghimbau mari kita jaga lisan. Selamatkan iman dan ukhuwah. Mudah mengkafirkan itu mudah meruntuhkan Islam dari dalam.
- Tabayyun-lah sebelum menilai
- Tahan lisan sebelum melabeli
- Kuatkan ukhuwah sebelum memperbesar perbedaan
إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلَامِ كَلَامُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَلَّامِ، وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِي الْمُهْتَدُوْنَ، وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah 2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ، أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ... اِتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكَانُوْا بِهِ يَعْدِلُوْنَ سَادَاتِنَا أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، اَللّٰهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَهْلِكِ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى وَالْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، اَللّٰهُمَّ آمِنَّا فِيْ دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلِ اللّٰهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
عِبَادَ اللّٰه... إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.
Muhammad Hamid Syairozi, S.Hum, M.Pd., Pimpinan Majelis Ta’lim Salwaturrohman Balikpapan & Ketua Bidang Fatwa Jush-NU Kota Balikpapan
Editor: Irfan Abubakar, MA. dan Dr. Idris Hemay, M.Si.