Khutbah Jumat: Meletakan Makna Jihad Pada Posisinya

blog

 

Khutbah 1

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ.

فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mengawali khutbah Jumat ini, marilah kita senantiasa mengingat akan segala anugerah yang telah dikaruniakan Allah Swt. kepada kita; anugerah nikmat yang tidak terbatas yang di bentangkan bagi setiap hamba-Nya. Pada kesempatan ini, khatib mengajak kepada seluruh jamaah untuk meningkatkan kualitas ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah,

Agama Islam mengajarkan kita untuk dapat membangun harmoni sosial dalam bingkai kehidupan. Kehidupan yang harmonis hanya dapat tercipta jika kaum Muslim berusaha keras menerapkan nilai-nilai rahmah, mengembangkan ilmu dan sains, serta menampilkan budi pekerti yang luhur.

Berusaha keras, dalam bahasa al-Qur’an, diungkapkan dengan kata “jihad”. Kita seringkali mendengar kata “jihad”, namun kata ini sering disempitkan maknanya pada perang atau Qital. Padahal “jihad” mengandung makna mengerahkan segala usaha untuk mencapai tujuan hidup yang mulia; itu sebabnya tindakan berjihad dinilai sebagai amal ibadah yang memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah Swt.

Mengenai kemuliaan kedudukan jihad dalam Islam, Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ إِيْمَانٌ بِاللّٰهِ، قَالَ ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ

(HR. Bukhari)

Rasulullah Saw. pernah ditanya oleh sahabat, amalan apa yang paling utama? Rasulullah menjawab, iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Lalu ditanya, apa lagi selain itu? Rasululullah menjawa, berjihad di jalan Allah.

Rasulullah menegaskan pentingnya kedudukan jihad dalam Islam. Namun, dewasa ini makna kata “jihad” telah menjurus  kepada kebencian, bahkan sampai pada pembunuhan  atas nama agama. Penyempitan makna “jihad” menjadi kekerasan adalah sebuah distorsi atau pengaburan yang berbahaya bagi kemulian ajaran jihad itu sendiri.

Jihad pada dasarnya memiliki arti yang luas, yaitu usaha sungguh-sungguh menegakkan kebaikan sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya, dengan menggunakan hati yang bersih, ilmu yang memadai, harta, serta amal yang nyata.

Jelas, bahwa jihad itu membangun, bukan merusak. Jihad itu menebar kasih sayang dan rahmat, bukan menyebabkan ketakutan dan kebencian.

Bukankah Allah telah menegaskan dalam  Al-Qur’an:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

“Tidaklah kami mengutusmu wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’:107)

Dalam menafsirkan ayat di atas, para ulama menegaskan bahwa tujuan risalah yang dibawa Nabi Muhammad Saw, adalah menyebarkan kasih sayang Allah. Para ulama juga menekankan bahwa kasih sayang dan rahmat Allah bersifat inklusif, tidak hanya bagi umat Islam, tapi bagi semua umat manusia dan bahkan alam semesta.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Kalau tujuan utama Allah mengutus Nabi Muhammad membawa agama Islam untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, maka, sudah semestinya, sebagai umat Muhammad yang hidup di zaman digital ini, kita meneladani beliau dalam menciptakan perdamaian dan kedamaian, keamanan dan perlindungan, serta empati kepada kemanusiaan dan pelestarian lingkungan alam.

Jihad kekinian bukanlah tentang mematikan orang lain, melainkan bagaimana menghidupkan kemaslahatan bagi umat. Di era digital dan perang pemikiran saat ini, jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu dan jihad menggunakan ilmu. Allah SWT berfirman:

فَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَجَاهِدْهُمْ بِهٖ جِهَادًا كَبِيْرًا

"Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur'an (ilmu dan argumen) dengan jihad yang besar." (QS. Al-Furqan: 52).

Perhatikan ulasan ayat ini! Allah menyebut jihad dengan Al-Qur’an (argumen intelektual) sebagai Jihadun Kabir (Jihad yang Besar). Maka, jihad kekinian bagi kita adalah:

  1. Jihad Ilmu: jihad melawan kebodohan; menuntut ilmu agar umat Islam menjadi pemimpin di bidang teknologi, medis, dan ekonomi.
  2. Jihad Ekonomi: jihad melawan kemiskinan; membangun kemandirian ekonomi umat.
  3. Jihad Akhlak: jihad menunjukkan pada dunia bahwa Islam adalah Rahmatan lil 'Alamin.

Jika tiga jihad ini hidup, insya Allah, umat beragama akan kuat dan negara kita Indonesia akan menjadi damai: Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Namun, saatnya kita muhasabah, merenungkan apa yang telah kita perbuat untuk membangun tiga jihad di atas.

- Apakah lisan kita masih suka melukai orang lain?

- Apakah jari kita di ponsel masih ikut menyebarkan fitnah dan kebencian?

- Apakah kita mudah menuduh orang lain sesat atau kafir?

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Baginda Nabi Saw. telah membentengi umat agar tidak terjatuh dalam lubang esktremisme, atau bersikap melampaui batas dalam beragama. Beliau mengajarkan pentingnya jihad. Namun, jihad tidak identik dengan berperang tanpa alasan membela diri, apalagi menjadikan jihad sebagai alat legitimasi aksi-skis teror dan melakukan kerusakan di atas bumi. Sungguh tindakan yang demikian itu mengaku berjalan di jalan Allah, tetapi tanpa bekal ilmu dan tanpa arah sehingga terjatuh pada kesesatan berpikir.

Sebagai bagian dari umat Islam  maka sudah semestinya kita mewaspadai pemahaman-pemahaman yang akan menjerumuskan kita kepada paham esktrimisme apalagi terorisme.

Pintu masuk ekstremisme adalah paham Takfiri, sebuah ideologi yang mudah mengkafirkan sesama Muslim. Kaum Takfiri menjustifikasi ideologinya dengan menggunakan ayat "Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir" (QS. Al-Ma'idah: 44).

Para ulama Ahlussunnah secara sepakat melarang kita untuk mudah mengkafirkan sesama Muslim. Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah “Kufrun duna kufrin” (kekafiran yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam). Imam ath-Thahawi dalam Al-Aqidah al-Thahawiyyah berpendapat: “Kita tidak mengafirkan seorang pun dari ahli kiblat karena suatu dosa, selama ia tidak menganggap dosa itu halal.”

Oleh karena itua, mari kita jaga lisan kita. Mari kita jaga ukhuwah Islamiyah kita.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Menyempitkan makna jihad hanya kepada kekerasan dapat menggiring kita kepada sebuah dosa sosial, di mana kita dapat menciptakan keretakan, polarisasi, dan konflik sosial yang berlarut-larut. Makna jihad harus dikembalikan kepada esensinya sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Kita dapat berjihad dengan cara berbakti kepada kedua orang tua.

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَيٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

“Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah, lalu dia minta izin untuk ikut berperang. Rasulullah bertanya, ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Lelaki itu menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah bersabda, ‘Kepada mereka berdualah engkau berjihad’.” (HR Imam Bukhari)

Kita juga dapat berjihad di jalan Allah cara menuntut ilmu. Disebutkan dalam sebuah hadits:

مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِى سَبِيْلِ اللّٰهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Siapa saja yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang.” (HR Imam Tirmidzi)

Selain kedua hal yang telah disebutkan, masih banyak lagi sabda dari Nabi Muhammad saw, yang menerangkan berbagai macam cara untuk berjihad di jalan Allah. Termasuk jihad dalam bersabar dan memerangi nafsu demi menjalankan ketaatan kepada Allah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Demikianlah makna jihad yang sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Kita juga berlindung kepada Allah agar dijauhkan dari paham ekstremisme yang merusak sendi-sendi ajaran agama Islam. Mari kita tunjukkan kesejukkan Islam, yang dapat membangun keharmonisan antar berbagai agama sehingga terwujud negeri yang aman dan penuh dengan kedamaian.

 بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْاٰنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

 

Khutbah 2

 اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ الْمُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرْ.

 

 

Dr. Muhammad Muhlis, M,Pd.,I., C.CAL., Direktur Al Mukhlisin Qur’anic College Lombok & Dekan Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Nurul Hakim

 

EditorIrfan Abubakar, MA. dan Dr. Idris Hemay, M.Si.

 

 

Linkage