Khutbah Idul Adha; Makna Pengorbanan Sejati: Menjaga Nyawa Bukan Menghilangkannya

blog

 

Khutbah 1

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الْعِيْدَ مَوْسِمًا لِلْفَرَحِ وَالسُّرُوْرِ، وَمَيْدَانًا لِلطَّاعَةِ وَالْبِرِّ وَالظُّهُوْرِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ وَنُوْرِهِ. ٱللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ.أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

 

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah,

Pagi ini kita bertakbir, mengagungkan nama Allah, mengenang sebuah kisah agung yang mengguncang langit dan bumi. Kisah tentang seorang ayah dan seorang anak yang diuji bukan dengan harta, tetapi dengan sesuatu yang paling dicintai. Itulah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Ismail ‘alaihissalam. Dari kisah itulah, kita diajarkan satu pelajaran besar: bahwa pengorbanan dalam Islam, bukan untuk menghilangkan nyawa, tetapi justru untuk menjaganya.             

Saudara-saudaraku seiman,

Idul Adha seringkali kita pahami hanya sebagai penyembelihan hewan, seolah-olah kurban itu berhenti pada darah yang mengalir. Padahal, jika kita renungkan lebih dalam, kurban bukan sekadar peristiwa fisik, melainkan pesan moral yang sangat besar—tentang kemanusiaan, tentang kasih sayang, dan tentang bagaimana Islam menempatkan kehidupan sebagai sesuatu yang harus dijaga. Di situlah letak makna pengorbanan yang sesungguhnya: bukan pada apa yang disembelih, tetapi pada nilai apa yang dihidupkan.

Namun di tengah pemahaman yang seharusnya luhur itu, muncul cara pandang yang keliru di sebagian kalangan. Ada yang memahami pengorbanan secara sempit dan lepas dari konteks ajaran Islam yang utuh. Mereka mengambil sebagian dalil, tetapi mengabaikan tujuan dan pesan besarnya. Dari sinilah kemudian muncul anggapan bahwa tindakan menghilangkan nyawa dapat dibenarkan atas nama pengorbanan dan pembelaan agama. Padahal, pemahaman seperti ini bertentangan secara mendasar dengan ruh ajaran Islam. Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan untuk menebar ketakutan. Islam hadir untuk menjaga kehidupan, bukan untuk merusaknya.

Dengan demikian, yang kita patut teladani dari kisah Nabi Ibrahim, bukan tindakan menyembelihnya. Melainkan ketaatan Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail dalam menjalankan perintah Allah Swt.

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah,

Salah satu sumber kesalahpahaman dalam memahami ajaran Islam adalah cara mengambil dalil yang tidak utuh. Ada ayat dan kisah dalam Al-Qur’an yang dipahami secara sepotong, dilepaskan dari konteksnya, lalu digunakan untuk membenarkan tindakan yang justru bertentangan dengan tujuan utama syariat. Dalam hal ini, sebagian ideolog ekstremis melakukan apa yang disebut dengan cocokologi, yakni mengambil sebagian dalil yang dianggap cocok dengan kepentingannya, tapi menutup mata dari pesan utamanya.

Salah satu kisah yang kerap disalahpahami adalah peristiwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail ‘alaihissalam. Kisah ini dipahami secara harfiyah, seolah-olah menjadi legitimasi bahwa pengorbanan tertinggi adalah menghilangkan nyawa manusia. Dari cara pandang seperti inilah kemudian muncul pemaknaan yang keliru terhadap istilah amaliyah al-istisyhad. Istilah ini dimaknai secara sempit sebagai tindakan bunuh diri atas nama agama. Padahal dalam Islam, bunuh diri tetaptlah perbuatan yang terlarang dan merupakan dosa besar.

Sebaliknya, jika kita membaca kisah ini secara utuh, kita justru akan menemukan pesan yang sangat berbeda. Marilah kita membuka Al-Qur’an Surah As-Saffat ayat 102–107 dan membaca ayat-ayat ini dengan mengacu kepada prinsip perlindungan jiwa (Hifzh al-Nafs). Dalam ayat-ayat ini, Allah Swt menggambarkan peristiwa pengorbanan Ibrahim ini bukan sebagai tindakan kekerasan. Allah hendak mengajarkan kepada umat manusia melalui lisan Ibrahim tentang ujian keimanan dan perlindungan jiwa. Ketika Ibrahim menyampaikan perintah Allah kepada Ismail, Nabi Ibrahim tidak memaksakan kehendaknya, tetapi mengajak berdialog dengan putranya:

قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” (QS. As-Saffat: 102)

Perhatikanlah, ini adalah dialog antara iman dan keikhlasan. Ini bukan tentang legitimasi untuk kekerasan. Dan yang paling menentukan, Allah SWT. tidak membiarkan penyembelihan Ismail terjadi. Pada saat ujian mencapai puncaknya, Allah berfirman:

وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)

Di sinilah letak pesan yang sering terlewatkan. Peristiwa ini merupakan sebuah proklamasi kemanusiaan dalam sejarah agama. Ia menandai berakhirnya praktik pengorbanan manusia yang pernah dikenal dalam peradaban-peradaban kuno, dan digantikan dengan pengorbanan hewan ternak.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa melalui peristiwa ini, Islam menegaskan prinsip dasar tentang kesucian dan kehormatan hidup manusia, yang dalam tradisi keilmuan disebut sebagai karamatul insan. Dalam prinsip tujuan diturunkannya Syariah atau Maqasid Syariah, hal ini dikenal sebagai hifzh an-nafs, yaitu kewajiban untuk menjaga dan melindungi jiwa manusia.

Prinsip ini sejalan dengan pesan Allah dalam Al-Qur’an Surat al-Ma’idah ayat 32 yang menegaskan bahwa barang siapa yang membunuh satu jiwa manusia tanpa alasan yang dibenarkan, maka sama saja dia membunuh seluruh umat manusia. Sebaliknya, barang siapa yang melindungi satu jiwa manusia, maka sama saja dia melindungi seluruh jiwa manusia.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd!

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah,

Jika Allah sendiri telah mengganti pengorbanan Nabi Ismail dengan sembelihan yang lain sebagai bentuk pemuliaan terhadap kehidupan manusia, maka bagaimana mungkin ada yang menyebut tindakan bom bunuh diri sebagai pengorbanan yang dibenarkan dalam syariat? Di sinilah pentingnya kita kembali kepada prinsip dasar ajaran Islam yang menempatkan kehidupan manusia sebagai sesuatu yang harus dijaga. Allah SWT. berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 29:

وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (Q.S. An-Nisa: 29)

Ayat ini menegaskan larangan yang sangat jelas dan tegas: bahwa kehidupan manusia tidak boleh diakhiri dengan cara apa pun, termasuk oleh dirinya sendiri. Larangan ini bukan sekadar hukum, melainkan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, yang tidak menghendaki kehancuran, melainkan keselamatan.

Rasulullah SAW pun memperkuat prinsip ini dalam khutbah Haji Wada’, khutbah perpisahan yang menjadi penegasan terakhir beliau kepada umatnya:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

"Sesungguhnya darahmu dan hartamu adalah haram (suci) bagimu, sebagaimana sucinya harimu ini, di bulanmu ini, dan di negerimu ini."

Maka, aksi teror yang membunuh kaum sipil tanpa pandang bulu adalah haram mutlak. Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2004 menegaskan bahwa terorisme adalah ifsad (merusak), bukan jihad untuk tujuan ishlah (perbaikan). Pelaku bunuh diri bukan mati syahid, melainkan mati dalam kesesatan yang diancam dengan siksa neraka.

Rasulullah mengajarkan pentingnya memuliakan jiwa manusia. Darah manusia disamakan dengan kesucian waktu, tempat, dan momentum yang paling agung. Ini menunjukkan bahwa menjaga kehidupan manusia adalah prinsip yang tidak bisa ditawar dalam Islam. Karena itu, setiap tindakan yang menghilangkan nyawa secara sengaja—terlebih lagi yang bersifat tanpa pandang bulu dan bertujuan menebar ketakutan—jelas bertentangan dengan prinsip dasar ini.

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,  

Jika demikian, lalu apa makna pengorbanan yang sesungguhnya dalam Islam? Para sahabat Nabi telah memberikan teladan yang sangat jelas. Abu Talhah ra. mengurbankan kebun terbaiknya, Bairuha. Beliau mengorbakannya, bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk memberikan kemaslahatan umat demi meraih rida Allah. Abdurrahman bin Auf ra. berkurban dengan memberi makan kaum dhuafa. Tujuannya, agar tidak ada orang yang kelaparan di tengah masyarakat.

Dari sinilah kita memahami bahwa yang disembelih dalam kurban bukanlah nyawa manusia, melainkan kecintaan kita terhadap harta, ego, dan kepentingan diri. Kurban adalah latihan untuk melepaskan, bukan untuk merusak. Kurban adalah ibadah yang menghidupkan kepedulian, bukan yang menebarkan ketakutan.

Oleh karena itu, pengorbanan terbaik di era kita hari ini adalah pengorbanan yang menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan. Jihad kita bukanlah menghancurkan, tetapi memperbaiki. Jihad kita adalah melawan kemiskinan, mengatasi ketimpangan, dan menjaga masa depan generasi bangsa. Dalam konteks ini, daging kurban bukan sekadar distribusi makanan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kualitas hidup masyarakat, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan asupan gizi untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

Memastikan generasi masa depan Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan kuat adalah bentuk pengabdian yang jauh lebih mulia daripada tindakan apa pun yang merusak kehidupan dan menebar ketakutan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil Hamd!

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah,

Marilah kita jaga persatuan. Islam hadir di Nusantara melalui jalan damai, melalui akhlak para ulama, melalui keteladanan, bukan melalui kekerasan. Maka jadikanlah Idul Adha ini sebagai momentum untuk menyembelih segala prasangka, kebencian, dan permusuhan di antara kita.

Menjaga perdamaian adalah ibadah. Merawat persatuan adalah tanggung jawab. Dan mencintai tanah air adalah bagian dari iman yang harus kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hadirin,

Kurban ada tiga:

Pertama, kurban ego. Yaitu dengan memaafkan orang lain.

Kedua, kurban harta. Yaitu dengan menolong kaum dhuafa

Ketiga, kurban waktu dan tenaga. Yaitu melalui pendidikan generasi masa depan

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ .

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ منِّيْ وَمِنْكُمْ تَلاَوَتَهُ إِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Khutbah 2

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. ٱللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيحِ الْغُرَرِ. أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Pada khutbah pertama kita telah memahami bahwa syariat kurban bukanlah ajaran untuk menghilangkan nyawa, tetapi justru untuk menjaga dan memuliakan kehidupan manusia. Karena itu, marilah kita teguhkan komitmen kita untuk menjaga kehidupan, menolak segala bentuk kekerasan, dan tidak memberi ruang bagi pemahaman yang menyimpang dari ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Jadilah kita bagian dari umat yang menghadirkan kedamaian.

Jadilah tangan yang memberi, bukan yang melukai.

Jadilah penjaga kehidupan, bukan perusaknya.

Marilah kita perkuat persatuan, saling peduli, dan terus menebar kebaikan di tengah masyarakat. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kurban kita, dan menjadikannya sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya sekaligus membawa manfaat bagi sesama. Marilah kita tutup khutbah Idul Adha ini dengan sama-sama berdoa kepada Allah SWT.

ٱللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. ٱللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ.

ٱللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا هَذَا إِنْدُوْنِيْسِيَا اٰمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ. ٱللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A., Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU)

EditorIrfan Abubakar, MA. dan Dr. Idris Hemay, M.Si.

Linkage